Anggota Brimob Yang Jadi Guru di Siwatlain, Buru Selatan – Ambon Ekspres
Trending

Anggota Brimob Yang Jadi Guru di Siwatlain, Buru Selatan

Menggerakan Sekolah “Mati”, Hidup Kembali

Pendidikan di Maluku masih memprihatinkan. Kurang dalam semua aspek, termasuk tenaga guru. Distribusi tenaga pendidik ini juga masih timpang. Lebih banyak di pusat-pusat pemerintahan. Sementara di daerah terpencil, satu sekolah hanya diajari empat sampai lima guru. Belum ada solusi. Pemerintah juga lebih banyak diam. Orientasi proyek yang diutamakan, sementara kualitas pendidikan ditinggalkan.

Di tengah buruknya pengelolaan pendidikan di Maluku, masih banyak orang yang peduli dengan pendidikan. Beberapa waktu lalu, sekelompok anak muda ikhlaskan tenaga, mengumpulkan buku-buku sekolah untuk didistribusikan ke desa-desa terpencil di Maluku Tenggara Barat dan Maluku Barat Daya. Harian Pagi Ambon Ekspres juga ikut dalam proyek besar Gerakan Maluku Gemar Membaca. Polisi juga tak ketinggalan. Mereka mengabdikan diri jauh di pelosok desa.

Pengabdian itu bukan untuk mengurusi ketertiban, tapi mendidik anak sekolah, di tengah keterbatasan tenaga pendidik. Mengawali di Desa Siwatlain, Kecamatan Leksula, Kabupaten Buru Selatan. Daerah ini, minim tenaga guru. Fasilitas penunjang lainnya di sekolah Dasar, yang berada di desa tersebut juga jauh dari kemapanan. Masalah ini memantik simpati sejumlah personil Brimob, yang bertugas di Kecamatan Leksula.

Brimob yang saban hari menjaga keamanan dan melindungi masyarakat, dengan suka rela membagi ilmu kepada ratusan anak sekolah. Mereka heran, bertugas selama enam bulan, tidak menemukan anak-anak di desa itu bersekolah pada gedung sekolah SD.

“Anak-anak tidak pernah datang lagi di sekolah. Setelah kita cek, tidak ada guru  yang mengajar di sekolah itu. Masalahnya akses transportasi ke desa itu yang memang tidak ada. Kalau menuju desa tersebut harus ditempuh dengan  berjalan kaki berpuluh-puluh Km dan menaiki Kapal ikan dari Kec. Leksula,” kata Aipda Jhon Wasia, anggota Brimob polda Maluku, yang saat ini sementara bertugas di desa pedalaman itu.

Tak mau menunggu lama, pria bertubuh kekar dengan pangkat bertuliskan satu M itu, langsung mengambil inisiatif. Awalnya dia berdiskusi dengan sejumlah rekan-rekannya terkait masa depan generasi bangsa yang berada di desa tersebut.

Dari situlah para anggota brimob itu akhirnya mengumpulkan puluhan anak-anak yang berusia 6 hingga 12 tahun, dengan cara mendatangi satu-persatu pemukiman warga. Mereka meminta anak-anak mereka bersekolah di gedung sekolah yang ada.

“Kebetulan saya jadi Danton, maka langsung saya kumpulkan anggota saya dan kamipun bersepakat untuk megajari anak-anak itu. Kami awalnya mendatangi rumah-rumah mereka. Kemudian mengajak mereka untuk kami mengajar di sekolah yang ada,” kisah anggota brimob berkulit hitam manis itu.

Anak-anak itu dengan penuh semangat mau belajar bersama anggota brimob. Mata pelajaran yang diajarkan personil brimob, akan disesuaikan dengan kurikulum tingkat SD, yang ada saat ini. “Kita sendiri langsung menyiapkan buku pelajaran yang sesuai dengan kurikulum yang ada. Kita beli di Namrole, termasuk dengan buku tulis anak-anak itu,” tutur dia.

Buku-buku mata pelajaran yang disediakan itu, seperti belajar membaca, Bahasa Indonesia, Gambar Garuda dan menghafalkan sila-sila Pancasila, berhitung sampai pada  lagu-lagu nasional serta  baris berbaris untuk menanamkan nilai nilai kedisiplinan dan kebangsaan.

Untuk mengajari anak-anak yang berjumlah sekitar 30 orang itu, dia membagi beberapa personil untuk bergantian mengajar, sesuai dengan waktu luang dari personil brimob.Ada lima hingga enam orang anggota termasuk dia, mengajar anak-anak itu sesuai dengan waktu piket jaga. “Dan itu kami lakukan setiap saat. Sambil membantu tenaga guru yang ada, karena hanya ada dua orang guru saja di desa itu,” kata dia.

Tak kala penting seperti guru pada umumnya, anggota brimob itu, mengajari anak-anak dengan menggunakan metode pembelajaran yang sekarang dipakai. Meski jiwa militer selalu ada, namun anak-anak itu merasa dekat dengan anggota-anggota brimob.

“Selama bertugas sekitar enam bulan, kami selalu melaksanakan tugas mengajar. Terkadang kami mengajar dengan pakaian dinas kadang juga tidak. Pokonya tergantung kondisi. dan Setiap mengajar kami harus rapi. Harapan kami desa ini bisa mendapat perhatian dari pemerintah terutama dari segi pendidikan,”harap dia.

Komandan Satuan Brimob Polda Maluku, Komisaris Besar Polisi Herman Sikumbang, mengaku bangga dengan apa yang telah dilakukan oleh anak buahnya itu. Banyak masyarakat yang menilai brimob, merupakan pasukan yang galak dan kasar sehingga takut untuk didekati. Namun seiring berjalannya waktu, brimob kini mulai dekat dengan masyarakat.

“Itulah bagian dari revolusi mental. Artinya selama ini brimob itu dikenal sebagai orang yang galak dan tegas, tetapi ternyata juga kita mampu menjadi bagian dari masyarakat. Terlebih mencerdaskan kehidupan bangsa,”kata orang nomor satu di Mako brimob polda Maluku.

Sikumbang menambahkan, dengan kegiatan mengajar yang dilakukan oleh anak buahnya yang bertugas di Leksula itu, membuat orang tua murid sangat mengapresiasi adanya anggota brimob menjadi guru. “ Ini terbukti saat mereka mau kembali mereka ke Kesatuan yang ada di Ambon karena tugas mereka sudah berakhir. Masyarakat menyayangkan dan meminta agar para Anggota brimob tetap di pertahankan bertugas di desanya itu,” tutur Sikumbang.
(***)

Most Popular

To Top