Dari Maluku, Mereka Menebar Damai Untuk Indonesia – Ambon Ekspres
Trending

Dari Maluku, Mereka Menebar Damai Untuk Indonesia

“Silakan anda menulis pesan damai diatas kertas ini. Lalu berdiri sejenak, kami akan memotret anda dengan menunjukan kertas yang anda bawa. Foto ini akan kami kirim ke Kupang,”sapa Mathelda Chris Tithalawa (25), kala saya mengunjungi stand Non Violence Study Cycle (NVSC) di acara Maluku Fair 2015, 5 September 2015, malam.

Usai menulis empat kata pesan damai, saya pun di foto. Setelah itu, kertas tersebut ditempelkan bersama lembar kertas lainnya yang telah diisi oleh pengunjung lainnya. Terlihat disebelah kanan stand, ratusan potongan kertas berisi pesan damai.

Foto-foto pengunjung sambil membawa kertas itu, akan dikirimkan untuk mahasiswa di Universitas  Nusa Cendana (Undana), Kupang, Nusa Tenggara Timur yang telah mengikuti program Generation Peace (Gen-Peace), salah satu program perdamaian dari NVSC.” 1000 foto pesan damai ini akan kami kirimkan ke Kupang,”katanya, sambil mengucapkan terima kasih.

Non Violence Study Cycle atau Lingkar Belajar Nir Kekerasan,  merupakan lembaga yang diinisiasi oleh  Inspiring Development (Indev) dan Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPKM) Universitas Pattimura. NVSC diisi oleh mahasiswa dengan agama dan latar belakang berbeda. Mereka mengusung misi Sustaining Peace From Campus To Community (Melestarikan Perdamaian dari Kampus ke Komunitas).

Belum lama ini, Mathelda yang biasa disapa Kiki itu,  bersama Firdaus Arey (21) dan beberapa teman lainnya, mengunjungi Universitas Nusa Undana. Mereka datang untuk memberikan pelatihan. Kegiatan serupa juga telah dilakukan di Universitas Pattimura.

Di sana, Kiki dan teman-temannya menebar benih perdamaian dan menyiram api permusuhan. Mereka membuka pemahaman mahasiswa Undana mengenai konflik dan metode penyelesaiannya. Materi pokok di NVSC seperti Identitas Sosial, Manajemen Konflik dan Gaya Konflik, serta Konsep Lingkaran Penindasan sebagai cara solutif untuk menghilangkan prasangka negatif akibat perbedaan identitas, pun dibeberkan.”Semua peserta sangat antusias,” kenang dia.

Kekerasan antar kelompok mahasiswa di Undana, berbeda dengan di Unpatti beberapa tahun lalu. Di sana, pemicunya adalah perbedaan suku. Mereka tak mampu membuat perbedaan menjadi kekuatan bersama (collective power). Malah menjadi pemecah. Di Unpatti, lebih kepada perbedaan agama yang dibungkus dengan isu diskriminasi.
Tapi penyelesaian masalahnya sama, dengan pemaksaan kehendak. Padahal dialog adalah cara yang paling baik. Ketika kedua belah pihak mendapatkan kepuasan yang sama dalam suatu masalah, maka disitulah perdamaian akan dimulai.

Kehadiran Kiki dan teman-temannya membawa payung anti kekerasan. Itu menjadi penyedaran tersendiri bagi mahasiswa Undana. Melalui refleksi jiwa atas apa yang telah terjadi sebelumnya, melahirkan benih kesadaran murni.
“Dan mereka pun mengaku mendapatkan pelajaran berharga dari kegiatan ini. Yang kami tekankan adalah, bahwa penyelesaian tak bisa dilakukan dengan pemaksaan kehendak dan kekerasan. Melalui dialog dan refeleksi diri, perdamaian bisa mewujud,”kata Kiki.

Pangkal masalah inilah yang menjadi konsern NVSC. Dan, mereka punya persepektif yang berbeda mengenai agama dan manusia sebagai pemeluknya. Manusia, dipandang sebagai mahluk sosial yang sama di mata Tuhan. Perbedaan dengan label agama, suku dan ras, adalah karunia yang justeru harus menjadi pengikat perbedaan itu sendiri.

“Kami melihat manusia sebagai manusia. Karena ketika kita bisa melihat manusia sebagai manusia, maka perbedaan diantaranya tak didapati. Malah perbedaan itu dijadikan kekuatan bersama. Dan itu yang kami sampaikan kepada teman-teman di Undana,”ungkap dia.

Setelah mengikuti kegiatan bersama NVSC, puluhan mahasiswa Undana menyebar ke beberapa pulau di NTT. Virus perdamaian akan disebarkan kepada mahasiswa lain di kampus lainnya. Dengan satu harapan, kekerasan tak lagi terjadi.

Upaya meretas segregasi antara mahasiswa dengan latar belakang berbeda, ternyata tidak mudah. Stempel ‘liberal’ bagi relawan dan fasilitator Muslim sempat menghiasi gerekan tersebut. Ini pernah dialami  Firman Rahyantel, Alumni angkatan kedua dari program Gen Peace.

Keputusan Firman untuk melakukan advokasi perdamaian, baik lewat NVSC maupun atas inisiasi sendiri, mendapatkan penilaian negatif. Oleh teman-temannya yang sebelumnya bergabung dalam salah satu organisasi, Firman dicap sebagai penganut Islam Liberal.

Puncaknya di tahun 2012, ketika dia mewakili NVSC mengikuti intervited  di Yogyakarta, dan masuk keluar gereja dan tempat ibadah lainnya dari agama berbeda.”Saya diklaim sebagai penganut Islam liberal dan terlalu plural oleh teman-teman yang memiliki pemahaman yang agak radikal,” kata Firman, yang saya wawancarai bersama dengan Kiki dan Firdaus Arey di malam itu.

Firdaus juga dicap sebagai pengkhianat. Kala rusuh yang terjadi antar kelompok mahasiswa Muslim dan Kristen di Unpatti 2011 dan 2012, Daus merupakan satu dari sekian mahasiswa Muslim yang ikut dalam aksi itu. Namun, sejak bergabung dengan NVSC, dia memilih jalan damai.

Saat itulah, dia disebut sebagai pengkhianat. Banyak teman-temannya yang tak mau bergaul dengannya. ”Bahkan ketika kami mengajak mahasiswa baru untuk bergabung dengan NVSC, dan teman-teman masih konsisten di organisasi sebelumnya, merasa tersaingi. Sehingga sindiran-sindiran itu masih saya rasakan sampai saat ini,” kata Daus. Kemarin, dia sedang berada di STIH Manokwari menggelar kegiatan Gen Peace.

Tapi, Firman maupun Daus tak patah semangat. Ia berinisiatif membuka ruang diskusi diatas ruang-ruang privat, yang mana setiap orang berbicara atas nama pribadi. Bukan atas nama kelompok dan daerah.

Ruang bakudapa antar mahasiswa dibuka lebar. Baik lewat diskusi maupun English Class yang diroling dari rumah mahasiswa muslim dan kristen. Tak hanya itu, visi perdamaian juga disuarakan lewat festival musik. Dari situ, ruang segregasi ditutup. Sentimen diskriminasi atasnama agama, perlahan hilang.

Dulu, tutur Daus, interaksi sosial mahasiswa di Unpatii tersegmentasi secara massif. Kini, semuanya berbaur. Aspirasi mahasiswa pun disuarakan secara bersama. “Olehnya itu, melalui komunitas ini, kami mencoba membangun komitmen bersama dan meretas segregasi. Harapan kami, mereka yang telah bergabung, dapat menularkan nilai-nilai kebersamaan dan perdamaian yang didapati di NVSC ke komunitas dan lingkungan masing-masing,”ungkap Daus.

NVSC telah sampai pada generasi ketujuh. Generasi pertama yang diundang duduk bersama VNSC adalah, aktivis GAMKI, GMNI, HMI, dan PMKRI.  Selain itu, sebagian besar para relawan yang saat ini telah berjumlah sekitar 100 orang lebih, merupakan korban langsung atau orang tua saat konflik 1999. Perlahan, memori kelam itu berhasil dikikis.

”Jadi hubungan saya dan teman bukan seiman tak sebatas teman, tapi sudah lebih dari itu, yakni seperti saudara. Itu yang membuat kami tetap eksis selama ini,”kata Firman.

Selain Unpatti dan Undana, NVSC yang terdiri dari ratusan volunteer (relawan) dengan agama, daerah dan suku yang berbeda ini, akan melanjutkan misi ke beberapa daerah lainnya. Diantaranya, Universitas Muhammadiyah (UMU) Ternate, Maluku Utara, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Manokwari, Papua Barat, Unsimar Poso, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Aceh. Di Majene, Sulawesi Barat, kantor pemerintah daerah setempat menjadi lokasi kegiatan.

Di kampus-kampus itu, mereka melaksanakan program Generation of Peace (generasi damai). Program ini lahir atas inisiasi fasilitator NVSC. Melalui seleksi ketat dengan ratusan program lainnya di salah satu badan di Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) yang bergerak di isu sosial dan konflik.

“Tidak hanya memberikan materi. Tapi, kami dapat berbagi pengalaman. Kami menggali apa yang mereka punya, setelah itu akan diidentifikasi dan solusi apa yang perlu ditempuh dengan mediasi,”kata Kiki.

Tak sebatas di ruang kelas, mereka juga menebar kegiatan yang sudah, sedang maupun yang akan dilaksanakan di media sosial. Banyak respon positif. Bahkan, mahasiswa di daerah lain meminta agar kegiatan serupa dilakukan juga di kampus mereka.

“Kalau di saya, ada teman-teman dari Jambi dan Kalimantan Barat menelepon dan meminta agar kegiatan yang sama juga kami lakukan di sana,” akui Firman, duta Maluku untuk kegiatan National Interfaith Student Peace Camp dan Youth Interfaith Peace Camp Conference di Yogyakarta, 14-24 Agustus 2014.

Di sisi lain, upaya perdamaian dari pemerintah harus diapresiasi. Realitasnya, saat ini Maluku mulai menemukan dan membangun citranya kembali sebagai daerah yang damai dan rukun di tengah pluralisme.  Akan tetapi, tentu ada hal-hal yang perlu diperbailki kedepan. Karena banyak upaya tolerensi yang dilakukan hanya diranah publik.

Salah satunya pemerintah sering melakukan dialog publik, namun sentuhan langsung ke masyarakat terkesan minim. Perdamaian hanya sebagai diskusi elit. Bahkan upaya pardamaian justeru menjadi project yang dijual untuk mendapatkan perhatian pemerintah pusat.

Bagi Firman dalam kondisi seperti ini, anak muda mesti mengambil peran aktif. Sebab kata dia, anak muda juga punya andil dalam upaya rekonsiliasi dan rekonstruksi perdamaian di Maluku. Dalam forum-forum nasional tentang perdamaian, maupun kegiatan lainnya, selalu yang disampaikan adalah pesan perdamaian dari negeri seribu pulau ini.

Ini dikarenakan, kebutuhan dasar bagi Maluku untuk hidup bersama dalam bingkai kerukunan dan perdamaian adalah, menyatukan dua komunitas ini. Dan itu bisa dimulai dari anak muda. Baik di lingkungan kampus, tempat tinggal maupun hubungan sosial kemasyarakatan.

Firman, Daus dan Kiki serta teman-teman mereka, berharap suatu saat nanti, cita-cita Maluku dan Indonesia yang benar-benar aman dan damai dapat terwujud. “Karena, tak seorang pun lahir untuk membenci orang lain hanya karena beda warna kulitnya, atau beda latar belakangnya, atau beda agamanya,”ucap Firman, mengutip kalimat dari tokoh perdamaian Afrika, Nelson Mandela. (***)

Most Popular

To Top