Diterpa Krisis, Bank di Maluku Sehat – Ambon Ekspres
Trending

Diterpa Krisis, Bank di Maluku Sehat

AMBON, AE— Ditengah  pelemahan nilai tukar rupiah yang nyaris menyentuh 14.700 per dolar Amerika Serikat (AS),  kondisi perbankan di Maluku masih tergolong  sehat. Bahkan, persentase penyaluran kredit kepada sektor utama pendukung pertumbuhan  perekonomian Maluku relatif meningkat hingga pada triwulan ke II tahun ini. Bulan ini diprediksikan menjadi puncak pelemahan nilai tukar rupiah.

Analis ekonomi  Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Maluku Aldy Pradana menjelaskan kondisi pelemahan nilai tukar rupiah saat ini, kurang tepat bila disebut sebagai krisis moneter, tapi lebih ke pengaruh ketidakstabilan keuangan.

“Jadi beda dengan kondisi tahun 1998, misalnya itu Indonesia mungkin bisa dibilang mengalami krisis  moneter, karena dari fundamental ekonominya itu, kita banyak yang rentan,” kata Aldy Pradana kepada Ambon Ekspres, Jumat (25/9).

Kondisi perekonomian nasional di tengah pelemahan nilai tukar rupiah saat ini, secara umum masih  sehat. Itu bisa dilihat dari pertumbuhan ekonomi, inflasi, cadangan devisa, termasuk utang luar negeri, masih dalam kondisi yang terkendali. Demikian juga yang terjadi di Maluku.

“Mungkin yang dikhawatirkan, adalah  nilai tukar rupiah. Memang pelemahan sudah berlebihan,  sudah dibawah nilai fundamental. Itu sudah disadari oleh BI, makanya BI sudah melakukan berbagai upaya untuk mengembalikan rupiah kepada fundamentalnya. Membebaskan rupiah dari kondisi sekarang. Tapi  diluar kondisi nilai tukar, secara makro ekonomi Indonesia ini sehat. Termasuk juga di Maluku,” ujarnya.

Kondisi perbankan di Maluku, lanjut Aldy tergolong sehat. Hal itu bila  membandingkan aset perbankan, simpanan atau dana pihak ketiga, dan kredit  dengan tahun lalu, mengalami kenaikan di tahun ini, meskipun tidak signifikan. Dari sisi makro ekonomi, hal-hal yang mempengaruhi laju pertumbuhan simpanan kredit, aset perbankan, dan simpanan,  diantaranya  adalah pertumbuhan ekonomi dan  tingkat  inflasi.

Untuk aset perbankan, tahun  lalu tumbuh 14 persen, sementara pada tahun ini tumbuh menjadi 16. 8 persen.  Simpanan tumbuh menjadi 11.8 persen per Juni 2015 dari  10.8 persen pada tahun lalu. Kemudian  kredit,  tahun lalu  9 persen, tahun ini naik menjadi 9.6 persen. “Jadi, memang trendnya agak berbeda dengan nasional .Perbankan di Maluku masih cukup bagus lah,” katanya.

Disamping itu, untuk tingkat kredit juga dipengaruhi faktor perbankan, yakni tingkat suku bunga. “Kalau suku bunga tetap tinggi seperti sekarang, permintaan kredit itu juga akan masih lemah,” katanya.

Menyikapi hal itu,  BI telah  melakukan berbagai upaya untuk menurunkan suku bunga kredit. Diantaranya, kredit untuk  Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan Kredit Usaha Rakyat (KUR),  pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan dengan subsidi bunga  yang lebih besar.

“Kalau tahun lalu, itu  suku  bunga  yang retail itu sampai 23 persen, sekarang sudah 9 persen. Itu cukup besar penurunannya. Jadi, kami optimis itu bisa mendorong permintaan kredit,” katanya.

Sementara terkait tingkat pengembalian kredit, Aldy mengatakan itu diukur  berdasarkan rasio Non Performing Loan (NPL)  atau  kredit bermasalah, yakni kredit yang berklasifikasi kurang lancar, diragukan dan macet.  Rasio NPL di Maluku membaik, yakni pada angka 1.94 persen dari angka  2.25 persen pada tahun lalu.

Meskipun ada beberapa bank  yang melakukan hapus buku terhadap kredit macetnya. Ini juga menjadi penyebab turunya rasio NPL bank. Sehingga, bank-bank memperketat penyaluran kredit. Itu memang strategi perbankan sekarang yang secara umum tidak mendorong penyaluran kredit secara besar-besaran.

Ditempat  yang sama,  Analis ekonomi lain BI perwakilan provinsi  Maluku, Rama Rahadian Prakasa menambahkan, penyaluran  kredit  untuk sektor penyokong utama pertumbuhan ekonomi di Maluku yakni, sektor pertanian, perdagangan, dan administrasi pemerintahan mengalami peningkatan.

Untuk sektor  Pertanian,  kredit  mengalami peningkatan. Pada Juni  tahun ini, menyentuh angka 18 persen, dan   di  bulan Agustus angka itu berubah menjadi menjadi 27 persen. Artinya, penyaluran kredit ke sektor Pertanian sebagai salah satu sektor penyokong di Maluku masih meningkat.

Sementara penyaluran kredit untuk sektor  perdagangan, Juni hingga Agustus  tahun ini  termoderasi dari 15 persen menjadi 12 persen. Diprediksikan, kondisi itu membaik pada bulan September. Itu antara lain dengan adanya persiapan pelaksanaan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) tingkat nasional di kota Ambon, Oktober mendatang.

“Kalau prediksi, kredit perdagangan bisa akan meningkat. Begitu  juga untuk administrasi pemerintahan sebagai sebagai sektor utama ke tiga bagi Maluku. Jadi kalau secara nasional  terpengaruh kondisi ekonomi global, tapi Maluku relatif masih bisa bertahan. Bisa tumbuh,” sebutnya.

Lebih lanjut dikatakan,  selain  membaik pada triwulan I dan triwulan II, pertumbuhan ekonomi Maluku juga diprediksi BI  akan  membaik pada triwulan III tahun ini. Kendati perekonomian nasional melambat akibat pelemahan nilai tukar rupiah.

“Kita  memprediksi triwulan 3 menuju triwulan 4, Maluku tetap mengalami akselerasi,” ungkapnya. Hal itu, antara lain dapat dilihat pada jenis kredit yang juga menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi Maluku, yakni kredit konsumsi. Sampai Agustus, trend  kredit konsumsi masih meningkat. Pada triwulan II ( bulan Juni) kredit konsumsi sebesar 10 persen, pada Agustus meningkat menjadi  11.22 persen.

“Kita memprediksi, di triwulan III ini, akselerasi  yang akan dicapai oleh Maluku   masih searah. Artinya, sampai bulan Agustus, pun kredit mengalami peningkatan,” tegasnya.

Selain kredit konsumsi, kredit Modal kerja juga mengalami peningkatan, bahkan cukup tinggi, dari 28 persen menjadi 30 persen. Atau naik 2 persen dari posisi Juni  ke posisi Agustus. Sementara untuk September, akan dirilis  pada  bulan Oktober. “Jadi trend untuk kredit modal konsumsi dan modal kerja mengalami peningkatan. Untuk investasi  masih relatif stabil,”tegasnya.
(MAN)

Most Popular

To Top