Kenangan Mengharukan Teten tentang Jas Biru dari Bang Buyung – Ambon Ekspres
Trending

Kenangan Mengharukan Teten tentang Jas Biru dari Bang Buyung

Indonesia berduka’. Frase ini barangkali bisa melukiskan sejuta kenangan tatkala mendengar kabar bahwa advokat senior, Adnan Buyung Nasution atau akrab disapa bang Buyung, kembali ke Pangkuan Yang Maha Kuasa, Rabu (23/9) sekitar pukul 10.15 WIB di Jakarta.

Tak ada yang bisa membantah, berpulangnya mendiang Bang Buyung, meninggalkan duka mendalam. Terutama yang pernah berguru atau setidaknya pernah bersama almarhum di medan perjuangan mencari keadilan, menegakkan martabat kemanusiaan melalui gerakan sosial hingga ke meja persidangan.

Tak heran jika banyak tokoh di negeri ini merasa kehilangan tokoh sekaliber bang Buyung. Tak terkecuali, aktifis yang kini menempati posisi strategis, baik di lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Tentu semuanya berduka dan tak bisa membendung rasa rindu akan kenangan bersama almarhum.

Banyak kata diucapkan untuk melukiskan kedekatan dengan sosok bang Buyung. Diantaranya menyebut Bang Buyung sebagai tokoh: pejuang, patriot, guru, pemberani, rendah hati, humanis, teguh dalam prinsip, dan kata lain yang sepadan. Itu semua adalah ekspresi bagaimana melukiskan tingkat kedekatan dengan tokoh berusia 81 tahun ini.

Banyak tokoh yang datang melayat di Rumah Duka, Jalan Poncol Lestari No. 7, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, sebelum jenazah almarhum dikebumikan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Kamis (24/9) hari ini.

Diantara sejumlah tokoh yang mengisahkan sejumlah kenangaan bersama Bang Buyung adalah Teten Masduki, yang dikenal sebagai aktivis NGO dan advokat, yang saat ini mendapat kepercayaan menjadi Kepala Sekretariat Presiden di era Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Teten, begitu sapaan untuk Teten Masduki, mengisahkan kenangannya bersama Bang Buyung ketika ia masih menjadi aktivis.Ketika itu, sekitar tahun 1990, Teten bertemu Bang Buyung di Tunisia saat mengikuti kursus selama tiga bulan bersama para kandidat pemimpin NGO dari sejumlah negara.
“Bang Buyung waktu itu salah satu pengajar dengan topik tentang Gerakan Bantuan Hukum di Indonesia,” ucap Teten, saat melayat di rumah duka, Rabu (23/9).

Saat di Tunisia, Teten banyak bertukar pikiran dengan Bang Buyung. Bahkan, Teten juga menghabiskan waktu bersama Buyung yang sedang sibuk menyelesaikan tugas kuliah doktornya di Belanda.

Teten pun ikut membantu mengetik tugas dari bang Buyung. Tak hanya itu, keduanya juga terkadang berdebat tentang disertasi almarhum. Ia menikmati saat itu, bersama orang yang sudah ia anggap sebagai guru.
“Kalau bahan disertasi sudah di-email ke Belanda, Bang Buyung biasanya mengajak jalan santai menikmati suasana petang yang indah di Hammamet,” ucap Teten.

Hammamet adalah sebuah pantai yang indah di Tunisia. Teten mengaku saat itu, Bang Buyung mentraktirnya dengan makanan yang enak.

Dan, dari Bang Buyung juga, untuk pertama kalinya Teten memiliki sebuah jas. “Itu adalah jas biru buatan Italia,” kata Teten.

Teten mengungkapkan percakapan yang terjadi ketika itu dengan raut wajah sedih dan mata berkaca.
Bang Buyung: Kamu bawa jas? Ini masuk musim dingin.

Teten: Tidak punya. Saya Cuma bawa jaket sepotong.
Bang Buyung: (Membuka jas yang dikenakannya lalu dikasih ke Teten).
Jas berwarna biru tua itu, kenang Teten, juga dipakai saat ia menikah pada 1995, 20 tahun silam itu.
Hingga saat ini, Teten masih menyimpan jas itu sebagai kenangan terakhirnya dari pendiri Lembaga Bantuan Hukum (LBH) tersebut.

Teten juga mengungkapkan, ketika itu (di Tunisia), Bang Buyung memberinya uang saku sebanyak USD300 atau setara Rp4.3 juta saat ini (dengan hitungan kurs sekitar Rp14.400 per USD).

“Sampai sekarang saya koleksi jas itu sebagai kenangan dari tokoh pergerakan kemanusiaan yang saya hormati. Beliau beri saya uang dan menyuruh saya beli pakaian yang pantas,” kata Teten.
Selamat jalan Bang Buyung ke rumah abadi di Surga.(flo/jpnn)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!