Kita Bukan Orang-Orang Kalah – Ambon Ekspres
Trending

Kita Bukan Orang-Orang Kalah

Putri Matoke, Guru di Sekolah Suku Nuaulu

“Jang mengajar lai, mengapa jadi guru seng gaji, jaga anak-anak jua biar beta yang cari uang (jangan lagi mengajar, mengapa jadi guru tidak digaji, rawat anak-anak, saya yang cari uang” ucap Putri Matoke menirukan kata-kata suaminya.

Dengan polos perempuan bernama lengkap Putriani Matoke ini menceritakan, bagaimana harus bisa membagi waktu antara keluarga dan tanggung jawabnya sebagai guru sekaligus pengelola. Meski tanpa gaji dia tak patah arang untuk mengorbankan semangat, waktu, pikiran bahkan perasaan untuk mencerdaskan anak-anak suku Nuaulu di lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Hunahane, dusun Rohua, negeri Sepa, Pulau Seram kabupaten Maluku Tengah.

Perempuan tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) Yos Sudarso Masohi itu, telah membuat banyak perubahan, merubah pola laku dan pola pikir warga yang identik dengan kain berang di kepala atau Karanunu ini agar bisa mengeyam pendidikan. Kelak, mereka berdiri sejajar sekaligus menegaskan mereka bukanlah orang-orang kalah.
Tentu bukan perkara mudah dalam menerapkan ilmu pengetahuan bagi anak-anak suku Nuaulu. Karena itu, Putri terpaksa merancang Rencana Pembelajaran(RPP) maupun Silabus menggunakan bahasa asli setempat yang membutuhkan waktu kurang lebih 1,5 tahun. Tak nyana, kurikulum pembelajaran maupun dalam interaksi belajar mengajar di lembaga tersebut menggunakan bahasa asli Nuaulu.

Baginya, kurikulum bahasa asli penting demi kelestarian bahasa di tengah serangan perkembangan teknologi informasi. Itu sebabnya, kesadaran pentingnya bahasa lokal yang dipupuk sejak usia dini menjadi alasan utama lembaga tersebut dirintis. Dengan bahasa membuat ingatan anak-anak suku Nuaulu bertahan dalam rulung pikir, bukan saja produksi kata-kata, tapi lebih dari itu adalah bahasa tubuh.

“Pertama khawatir bahasa akan sirna sehingga sekolah ini dibangun dan semua kurikulum disini gunakan bahasa Nuaulu,” tutur Putri ketika disambangi Ambon Ekspres di ruang kelasnya, Senin,(28/9) kemarin.

Tak heran materi belajar di PAUD Hunahane ini berbeda dengan materi di sekolah-sekolah modern. Tidak ada mateti tentang “Ini Ibu budi, ini bapak budi” atau “Budi Pergi ke Pasar” atau petakan-petakan ladang sawah. Yang  tercantum dalam buku cerita bergambar adalah sosok Hukala yang sedang pergi ke kebun Kasbi (Singkong).

Legenda  tentang “ayam bertelur emas” atau Sote Eroronu Tou Hunahane yang mengisahkan sosok Sahune bersama istrinya yang hidup serba pas-pasan, sosok Patone digambarkan sebagai contoh hidup bersih, menjaga keasrian alam dan lingkungan. Flora dan fauna termasuk kerangka manusia berikut bagian-bagiannya semua terekam dalam bahasa Nuaulu. Tidak kalah menarik adalah tradisi Mataheni (perkawinan), dan Pina Mou (Perempuan beranjak dewasa). “Ini agar anak-anak mudah memahami semua materi,” jelasnya setengah senyum.

Keinginan untuk mengabdi gratis bagi anak-anak negeri Nuaulu tertanam dalam nurani, Putri siap menerima segala beban demi mencerdaskan generasi estafet suku Nuaulu. Dia menyadari hanya dengan pendidikan anak-anak suku Nuaulu bisa maju, mandiri, sejajar dengan anak-anak dari daerah lain di Maluku. “Olehnya waktu saya habiskan buat keluarga dan mengajar, meskipun tanpa gaji,” ucap perempuan kelahiran Rohua, 1979 itu.

Pengorbanannya sebagai guru sekaligus pengelola PAUD gratis bagi anak-anak suku Nuaulu, mengingatkan kita tentang sosok ibu Muslimah yang digambarkan Andrea Hirata dalam film Laskar Pelangi. Ia digambarkan sebagai sosok guru yang tulus dan sederhana saat mengajar murid-muridnya di SD Muhammadiyah, kabupaten Belitung Timur.

Selama mengajar, Putri mengaku tak banyak mengalami kesulitan, dimana anak-anak suku ini paham ketika ditunjukan gambar sontak menjawab dengan bahasa Nuaulu. Adalah, Marcelo Leipary (5) saat ditunjukan gambar matahari dia langsung menjawab” Ranie” artinya Matahari. Hanya saja, kendala lain adalah ketika datang musim panen cengkeh, sebagian anak-anak memilih pergi memanen cengkeh.

Proses terus dan terus berlangsung sejak pertama kali PAUD Hunahane ini  dirintis tahun 2011 lalu. Hunanato Matoke sosok dibalik berdirinya sekolah tersebut. Hunanato sendiri kini tengah melanglangbuana di berbagai daerah bahkan mancanegara. Selain perintis PAUD, berkat kerja sama dengan Yayasan Sulinama perempuan asli suku Nuaulu itu pun menerbitkan kamus bahasa Indonesia-Nuaulu.

Menurut Putri, awal proses belajar mengajar masih dipusatkan di rumah-rumah warga dengan jumlah siswa mencapai 35 orang. Dalam perjalanannya sebagian siswa memilih berhenti sebagian lagi pindah alamat. Baru pada tahun 2011 mereka belajar di gedung yang dibangun salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat(NGO) Internasional, diatas lahan seluas 9×4 meter persegi. “Angkatan pertama tahun 2013 yang wisuda 7 orang, angkatan kedua tahun 2014 sebanyak 9 orang,” tandasnya.

PAUD Hunahane terdiri dari tiga ruang belajar (Rombel) dua ruang digunakan untuk belajar, sedangkan satu ruang digunakan untuk ruang guru sekaligus perpustakaan. Perpustakaan tersebut dipenuhi buku-buku umumnya adalah kulikulum berbasis suku Nuaulu diantaranya, Nana Rambutan, kamus Wani Nene Siaia(Kamus Bergambar), Siratau tau Sou Naunue runa Manai(Cerita-cerita bergambar), Pina Mou Naunue(Gadis Nuaulu Memasuku Dewasa), serta seri cerita bergambar lain. “Materi kita bagi dalam kategori usia, untuk usia 3-4 tahun lebih pada pengenalan gambar, ukuran dan permainan, sedang usi 4-5 tahun mengenal huruf,angka dan warna, 5-6 tahun membaca,” tutur Putri.

Selain buku cerita dan kamus bergambar, juga abjad vokal dan konsunan flora dan fauna serta gambar lainnya dalam bahasa Nuaulu. Bahasa Nuaulu dipergunakan oleh kurang lebih 2.000 penduduk yang tinggal di kecamatan Amahai. Desa-desa yang memakai bahasa Nuaulu antara lain desa Bunara, Kampung Lama, Hahualan, Nuanea, dan Rohua. “ Bahasa ini adalah rumpun bahasa Austronesia seperti umumnya bahasa di Maluku,” jelasnya.
Dia menyadari lembaga yang dikelolanya itu minim fasilitas terutama permainan anak-anak. Karenanya, sarana yang diberikan NGO Internasional dan satu unit alat hitung oleh Dinas Pendidikan dan Olahraga (Dikpora) Malteng tetap terjaga.

Satu unit alat hitung itulah satu-satunya yang diberikan Dikpora Malteng, hingga kini dinas tersebut tak kunjung kembali. Jadi, jangan heran, sekolah yang terletak dibibir pantai laut Banda dengan berjuntai daun pohon Sukun ini tidak terpampang piala. Namun, anak-anak suku Nuaulu ini begitu bersemangat untuk menyelami dalamnya ilmu pengetahuan. “Yang paling berharga bagi kami adalah satu unit Leptop dan satu unit Camera, itu fasilitas kami yang paling berharga, makanya kami rawat dengan baik, “ ketus Putri.

Muara dari itu semua, kata Putri adalah membentuk kepribadian anak-anak. Dia mengaku dusun Rohua telah menelorkan sarjana tapi pola laku mereka berbanding terbalik dengan gelar dan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama di bangku perguruan tinggi.

“Ada beberapa sarjana, tapi tutur kata dan sikap mereka tidak sopan terhadap orang tua-tua, saya heran khan harusnya sarjana itu tutur katanya baik dan sopan,” aku Putri cemas. “Ya, berbekal tekad dan komitmen bulat demi mencerdaskan anak-anak bangsa, anak-anak suku saya Nuaulu, meski tanpa gaji, tanpa biaya operasional sekolah. Berdoa kelak orang Nuaulu berdiri sejajar tanpa diskriminasi, berdiri menenteng langit bahwa kita bukan orang-orang kalah,” tutupnya.(***)

Most Popular

To Top