Rupiah Melemah, Ekonomi Stabil – Ambon Ekspres
Amboina

Rupiah Melemah, Ekonomi Stabil

AMBON, AE.—Pelemahan  kurs  rupiah yang menyentuh Rp.14.700 per Dollar AS sejauh ini belum berpengaruh negatif terhadap perekonomian, termasuk di Maluku.  Hal ini terlihat pada  laju inflasi yang berada  pada tingkat yang relatif rendah. Masyarakat, terutama pelaku pasar  diingatkan agar tidak  terpengaruh dengan kondisi ini.

Demikian pandangan pengamat ekonomi  Universitas Pattimura (Unpatti) Latif Kharie, dalam rilisnya yang disampaikan kepada Redaksi Ambon Ekspres,  Minggu (4/10).

Menurutnya, tingkat suku bunga referensi Bank Indonesia ( BI Rate) yang tidak berubah dan pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi sejumlah negara yang tertular efek devaluasi Yuan oleh Bank Sentral China, pada minggu kedua Agustus 2015 lalu.

Gelaja pelemahan atau depresiasi mata uang domestik terhadap Dollar AS merupakan sesuatu yang lazim dialami oleh negara yang menganut sistem nilai tukar mengambang, di mana kurs mata uang terhadap Dollar AS akan terus berubah mengikuti perubahan permintaan dan peneawaran Dollar AS dalam pasar valuta asing.

Jika permintaan atas Dollar AS bertambah, otomatis harga Dollar AS naik dan pada waktu bersamaan harga mata uang negara mitra dagang AS turun. ” Itulah sebabnya, Rupiah diprediksi akan makin melemah bila suku bunga dinaikkan oleh Bank Sentral AS,” jelas pakar Ekonomi Moneter dan Keuangan Internasional ini.

Depresiasi rupiah dan mata uang negara lain akibat Devaluasi Yuan terhadap Dollar AS, memang merupakan suatu hal yang pasti terjadi dan diperlukan untuk menjaga daya saing ekspor masing-masing negara di pasar internasional, dan hal ini terbukti dari kinerja ekspor Indonesia yang makin membaik.

Pemerintah dengan otoritas moneternya (Bank Indonesia), masyarakat dan pelaku bisnis nasional diharapkan agar tidak panik dan tetap berfikir rasional dalam merespons trend pelemahan Rupiah terhadap Dollar AS saat ini.

Apalagi saat ini, baik inflasi, BI rate dan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif aman. Angka inflasi “yoy” pada September 2015 sebesar 6,83% turun dibanding periode sebelumnya. Secara tahunan, selama tahun 2015, perekonomian Indonesia secara internal akan tetap stabil pada tingkat inflasi antara 4 s/d 5 % dengan perkiraan laju pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5 %, sehingga daya beli masyarakat diprediksi akan mengalami kenaikan.

Lebih jauh dijelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah ini bukan merupakan hal baru bagi perekonomian Indonesia. Pelemahan Rupiah dengan tingkat depresiasi yang sangat tinggi pernah terjadi di saat krisis ekonomi melanda Indonesia dan sejumlah negara Asia selama periode 1997-1998, tepatnya pasca devaluasi Baht Thailand.

Ketika itu, Rupiah, bahkan sempat menyentuh Rp 16.000 per US$, yang menyebabkan peningkatan suku bunga dan tingkat inflasi secara ekstrim, sehingga perekonomian Indonesia pun terkontraksi sebesar -13 persen, yang diikuti dengan naiknya tingkat pengangguran dan kemiskinan penduduk.

Perekonomian terkontrasksi karena Rupiah yang terlalui Underveluad justru menurunkan daya saing hasil industri Indonesia di pasar ekspor serta melemahkan kemampuan impor dan produksi industri dalam negeri.

Krisis nilai tukar tersebut telah pula menurunkan kemampuan pembiayaan pemerintah dan daya tarik investasi, yang secara total telah menurunkan permintaan agregat perekonomian Indonesia, paparnya.

Diakuinya, penyesuaian nilai tukar rupiah yang signifikan telah beberapa kali terjadi pasca penerapan sistem nilai tukar tetap pada Agustus 1971, di mana kurs rupiah ditetapkan pada angka Rp.415 per US$.

Penyesuaian pertama terjadi pada November 1978, ketika Indonesia mulai menerapkan sistem nilai tukar mengambang terkendali, dan ketika itu Rupiah didevaluasi sebesar 50% menjadi Rp625 per US$. Tujuannya, tidak lain adalah untuk memperbaiki daya saing ekspor non migas Indonesia di pasar International. (MAN)

Most Popular

To Top