Sambutan Damai Warga Batumerah, Peserta Pesparawi Pun Meneteskan Airmata – Ambon Ekspres
Trending

Sambutan Damai Warga Batumerah, Peserta Pesparawi Pun Meneteskan Airmata

Air mata bahagia, membasuh wajah peserta Pesparawi Nasional ke XI asal Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) dan Provinsi D.K.I Jogjakarta, saat mendapat sambutan ratusan Warga, Negeri Batumerah, Kecamatan Sirimau Kota Ambon. Mengenakan busana muslim serba putih, laki-laki dan perempuan turun di Jalan Sultan Hasanudin menyambut para tetamunya yang baru saja tiba di Ambon.

Suhu Matahari sekitar pukul 14.00 WIT, cukup panas. Tercatat  suhu berada pada angka 30 °C. Warga Negeri Batumerah baru saja menunaikan ibadah shalat Jumat. Sejumlah pemuda berpakaian serba putih mengenakan peci, bergegas saling panggil satu sama lain. Mereka berbaur dengan tokoh agama, tokoh adat dan tokoh pemuda serta ibu-ibu pengajian, yang juga mengenakan pakaian serba putih, melangkahkan kaki ke depan jalan raya.

Di setiap lorong desa bertajuk Hatukau itu, hampir terlihat pemandangan yang sama. Warga larut dalam hiruk-pikuk. Mereka berduyun-duyun membawa sanak dan saudara, dibawah sinar matahari yang menyengat ubun-ubun, seakan ingin menyambut keluarga yang telah lama pergi.

Sementara di sepanjang jalan depan negeri itu, seketika sesak dipenuhi warga. ada yang berdiri berkelompok di tepi jalan ada juga yang duduk berjejer diatas trotoar. Arus lalu-lintas terlihat semakin padat merayap, disesaki warga yang berlalu-lalang membelah antrian kendaraan yang melintas. Ditengah kemacetan, pihak kepolisian terlihat sibuk mengurai kendaraan dengan sistim satu lajur.

Di tepi jalan berdiri kokoh empat buah pengeras suara, yang dijadikan corong acara langka itu. “Diberitahukan kepada warga Kota Ambon, yang sedang melintas, sebentar lagi warga Negeri Batumerah akan melakukan penyambutan perdana secara adat peserta Pesparawi,” teriak kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Maluku, Syarif Bakri Asyathri, lewat pengeras suara.

Asyathri, yang juga merangkap sebagai Kepala Bidang Akomodasi Pesparawi menyampaikan penyambutan itu merupakan wujud komitmen warga di Bumi Hatukau untuk menjaga keharmonisan dan kerukunan orang basodara di Kota Ambon. ”Inilah bentuk persaudaraan pela gandong di Maluku, yang ditunjukan warga Negeri Batumerah kepada peserta Pesparawi,” kata dia.

Pesparawi tidak hanya milik orang Kristen tetapi juga milik semua orang yang ada di Maluku. ”Pesparawi di Maluku ini sangat luar bisa, karena Pesparawi bukan saja miliki orang Kristen tetapi milik semua orang. Sekarang sudah sebanyak 7.017 orang yang mengonfirmasi kedatangannya,” tambah Asyathri yang juga merangkap sebagai ketua harian Pesparawi.

Pukul 15. 20 WIT, refrit (alat bunyi tiup) para petugas lalu-lintas berbunyi keras bersahutan. Mereka membuka jalan untuk rombongan peserta pertama asal Sulbar. Seketika banyak pasang mata tertuju pada deretan bus biru dengan pengawalan mobil foreder.  Warga yang sudah menunggu, langsung mengerumuni tepat di depan Gang Flamboyan. Di depan bus, warga mengangkat tangan seakan memberi isyarat kepada peserta untuk turun. Bahasa tubuh itu dibalas peserta dengan lambaian tangan dari dalam bus.

Seketika, puluhan kontingen dari Sulbar, yang mengenakan baju putih, berangsur turun mengosongkan bus pertama. Mereka larut dengan warga. Saling sapa dan berjabat tangan satu sama lain. Kain putih dengan panjang puluhan meter dibentangkan membentuk lingkaran menambah hikmat penyambutan itu. ”Selamat datang di Kota Ambon, selamat datang di rumah sendiri,“ ucap salah satu Tokoh Agama Negeri Batumerah, H Hindun Bin Umar, seraya mengalungkan kain adat, kepada ketua kontingen Sulbar, Jamil Barambangi.

“Terima kasih, kami kontingen Sulbar sangat senang mendapat penghormatan yang luar biasa ini,” ucap Jamil memeluk Hindun.

Dibelakang mereka, tidak kalah mengharukan, para peserta Sulbar tidak dapat menyembunyikan rasa kebahagiaan dalam suasana kekeluargaan. ”Kami tidak menyangka warga kota Ambon sangat ramah walaupun ini baru pertama kali kami mengiinjakan kaki di kota Ambon. kami merasa berada di daerah sendiri, ini keakraban yang sungguh mengharukan,” rintih salah satu peserta Sulbar, sambil mengusap air mata.

Penyambutan berjalan syahdu. Warga dan peserta bergandengan tangan berjalan bersama saling tanya jawab. Penyambutan itu diakhiri dengan foto bersama. Setelah itu para kontingen Sulbar kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan ke penginapan.

Di tengah suasana keakraban itu, salah satu tokoh masyarakat Negeri Batumerah Ali Hatala mengatakan, warga Batumerah sudah dari dulu hidup dalam kerukunan baik antar sesama maupun sebagai umat beragama.

”Orang Batumerah dari dulu hidup dalam persaudaraan, bukan saja di sini tetapi dengan orang lain, yang mempunyai latar berlakang adat dan agama yang berbeda, seperti hubungan pela gandong dengan Negeri Passo,” terangnya.

Olehnya itu, tambah Hatala, Nageri Batumerah wajib memberikan penyambutan secara adat pada peserta pesparawi ini sebagai bentuk toleransi antar umat beragama. ”Prinsipnya Negeri Batumerah mendukung Pesparawi tingkat nasional di Kota Ambon, dan sebagai negeri adat kami ingin menunjukan kepada semua orang bahwa inilah hidup orang basudara seperti yang diajarkan para leluhur,” pungkasnya.

Baru berselang beberapa menit, setelah rombongan peserta Sulbar bertolak, warga Batumerah kembali terkonsentrasi, menyambut rombongan ke dua. Berbeda dengan penyambutan pertama, pada penyambutan peserta kedua asal Jogja, warga Batumerah mulai dari turunan Jalan Jendaral Sudirman. Pada titik itu warga berkerumun menyambut satu-demi satu peserta turun dari bus. Penyambutan kedua ini lebih semarak, semua peserta yang berjumlah 202 orang, yang menumpangi 3 bus dan empat mobil pangkalan, turun ke jalan.

Sambutan hangat warga Negeri Batumerah, dibalas dengan suka cita dan rasa haru. ”Kami tidak menyangka penjemputan akan semeriah ini. Ternyata toleransi kehidupan umat beragama sangat terjalin dengan baik, di Kota Ambon,” puji Ketua Kontingen Provinsi D.I. Jogyakarta, Didik Joboadi.

Meski berbeda penampilan dan warga, warga Batumerah dan peserta Jogja, tampak bersatu. Mereka bersorak dan bernyayi. ”Negeri Batumerah Akan Ku Ingat Selamanya, ”begitu salah satu bait yang dinyanyikan oleh peserta Jogja dengan kompak.

Sesekali beberapa peserta terlihat mengangkat kacamata mengusap air mata, mereka berjalan bersama dan bergandengan tangan dengan warga Batumerah. Setelah berjalan bersama sejauh 50 meter, warga negeri Batumerah mengakhiri acara penyambutan dengan berjabat tangan dan memberikan ucapan selamat. ”Selamat jalan dan selamat berlomba, semoga peserta Jogja menjadi yang terbaik dalam perlombaan pesparawi,” ucap salah satu warga negeri Batumerah, kepada rombongan peserta.

Sementara Kepala Pemuda negeri Batumerah, Husein  walla, diakhir acara tersebut mengatakan penjemputan dengan prosesi adat merupakan bentuk kepedulian hubungan pela gandong. “Penjemputan yang kami lakukan ini merupakan bentuk kepedulian hubungan pela gandong masyarakat Negeri Batumerah dengan negeri-negeri Kristen lainnya,” tuturnya.

Selain itu, kata Husein, warga Batumerah ingin membuktikan serta menunjukan kepada dunia bahwa Kota Ambon adalah tempat yang rukun, damai dan sejahtera. ”Ini menjadi bukti bahwa Ambon, ini sudah aman. Masyarkatnya hidup rukun dan damai. Sehingga bisa dikatakan daerah ini adalah laboratorium kerukunan umat beragama, di dunia,” tandasnya.

Husein berharap, sambutan tersebut memberikan nilai tambah tersendiri, bagi penyelenggaraan pesparawi di Maluku. ”Penyambutan ini warga Batumerah tunjukan sebagai tuan rumah pesparawi, yang baik kepada semua peserta. Semoga dengan kondisi masyarakat yang hidup damai dan rukun ini, bisa membekas dan membawa kesan yang baik bagi peserta di daerah mereka masing-masing,” pungakasnya. (***)

Most Popular

To Top