Buru Kian Rusak, Perusak Ambil Untung – Ambon Ekspres
Trending

Buru Kian Rusak, Perusak Ambil Untung

Namlea, AE— Areal penambangan Gunung Botak, Buru, kian tak jelas pengelolaannya. Sampai kemarin, pemerintah belum juga menutupnya. Banyak kepentingan para elit menjadi penyebabnya. Nama Mansyur Lataka disebut-sebut sebagai orang berpengaruh dalam pengelolaan Gunung Botak.

Emas Gunung Botak, banyak membuat kantong para elit berpengaruh di daerah ini kian tebal. Sementara, lingkungan disana terus menunjukan keparahan. Sejumlah sungai kian kering, yang muncul justeru sisa-sisa cianida dan merkuri. Tak ada upaya pemerintah mengatasi masalah ini, pembiaran terus terjadi.

Masyarakat banyak mengeluh. Masyarakat adat juga demikian. Mereka sudah menuntut penutupan tambang secara total. Namun hingga kini pemerintah belum juga merealisasi tuntutan masyarakat. Pemerintah masih saja melakukan sosialisasi tentang bahaya menggunakan cianida (CN) dan merkuri.

Ribuan penambang masih beroperasi disana. Mereka berasal dari beberapa daerah. Dalam beroperasi, para penambang dibawah konsorsium. Mansyur Lataka disebut-sebut sebagai ketua konsorsium. Dia mengendalikan tambang melalui ribuan penambang. Modal tebal, membuat dia begitu leluasa bergerak.

Selain Mansyur, ada nama Jefri. Informasi yang diperoleh Ambon Ekspres, Jefri adalah pemasok utama cianida dan merkuri ke Gunung Botak dan beberapa areal penambang lainnya. Operasinya berjalan mulus. Ini terbukti dari mulusnya dia memasok barang haram itu ke Buru.

Ada informasi menyebutkan Mansyur dan Jefri punya hubungan bisnis dalam memasok cianida maupun merkuri. Operasi dua pengusaha dalam bisnis haram ini berjalan mulus hingga beberapa tahun terakhir. Mereka ini tak tersentuh pemerintah, dalam memasok cianida dan merkuri.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Buru, AM Padang menyatakan, pihaknya terus berupaya untuk memberantas pengedaran CN dan Mercury. Namun, diduga, ada banyak bekingan yang dilakukan oleh para elit.

Disinggung mengenai berapa banyak pemasok CN dan Mercury di Kabupaten Buru, Padang yang didampingi oleh stafnya, Hadi Al Zagladi dia tak mengetahuinya. Dia mengaku, hanya ada satu pemasok yakni UD Leparisa Jaya yang dipimpin oleh Luis dan dijalankan oleh Hi Munding. Namun, hingga kini, pengedaran CN yang dilakukan oleh oknum-oknum tersebut semuanya dinyatakan ilegal. Pasalnya, pencabutan ijin sebagai pemasok Cianida sudah dicabut sejak dua tahun yang lalu.

Namun sampai sekarang, kata Padang, aktivitas peredaran CN masih terus dilakukan bahkan ramai. Disperindag Buru sudah melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian berulang kali untuk melakukan penertiban. Namun, hingga saat ini, tidak ada aktivitas penertiban yang dilakukan Polres Buru, termasuk aktivitas Mansyur dan Jefri.

Mansur Lataka, sendiri adalah saudagar dari Sulawesi Selatan. Dia berobsesi untuk menguasai tambang Gunung Botak dibantu oleh donatur yang berasal dari Timur Tengah. Untuk memuluskan langkahnya, dia telah membentu Konsersium.

Konsersium yang dibentuk bertopeng sebagai orang tua asuh untuk lima koperasi tambang yang sudah memiliki persyaratan. Namun hingga saat ini, koperasi atau konsersium belum beraktifitas dengan alasan masih banyak penambang liar di lokasi tambang Gunung Botak. Mansur Lataka juga sudah membuat tempat pengolahan emas di Desa Wabloy, Kabupaten Buru.

Penelusuran Ambon Ekspres di Kabupaten Buru menyebutkan, ada keterkaitan erat antara Mansur Lataka dengan beberapa pejabat Kabupaten Buru. Ini terlihat saat sosialisasi dampak penggunaan CN dan Mercuri, Mansur Lataka meminjamkan mobil yang diketahui milik salah satu pemasok CN terbesar di Kabupaten Buru untuk digunakan dalam sosialisasi tersebut.

Ketika dikonfirmasi terkait penggunaan mobil milik pemasok CN, Kepala Dinas Pertambangan Kabupaten Buru, Masri, mengaku tidak mengetahui mobil tersebut milik siapa, karena yang meminjamkannya, yakni Mansur Lataka.

Dia mengaku hanya membantu untuk melakukan penataan lokasi tambang untuk diduduki konsersium agar semuanya tertata dengan rapi. Namun, kendala yang ditemui sangat banyak hingga konsersium yang sudah dibentuk tidak berjalan sesuai dengan harapan.

Kapolres Buru, AKBP Popy Yugonarko yang dikonfirmasi terkait aktivitas peredaran CN menyatakan memang benar pihaknya sudah beberapa kali berkoordinasi dengan pihak Disperindag. Namun sampai sekarang masih banyak aktivitas peredaran CN di Kabupaten Buru, tanpa menjelaskan tindakan dari pihak kepolisian.

Penelusuran Ambon Ekspres di Dermaga Namlea menyebutkan, masih ada aktivitas bongkar muat CN dan Mercury di dermaga Namlea. Terkait waktu bongkar muat tidak diketahui secara pasti, namun dinyatakan ada aktivitas bongkar muat CN menuju gudang penyimpanan.

Disinggung mengenai adanya pengawalan aparat keamanan saat melakukan aktivitas bongkar muat, sumber ini menolak berkomentar. “ Saya tidak mau menyinggung ke rana itu ,” tuturnya.(CR8)

Most Popular

To Top