Jadi Jawara Diluar Spesialisasi Studinya – Ambon Ekspres
Trending

Jadi Jawara Diluar Spesialisasi Studinya

Punya IP 3,85, Mahasiswa Unpatti Ini Bermimpi Bikin Kapal Tanpa BB

Diusia yang terbilang cukup muda, Jaka Ramadhan, punya mimpi besar untuk memajukan saran transportasi laut Indonesia, dari kawasan Timur Indonesia. Anak dari pasangan  Abdul Rahman dan Siti Aminah itu, ingin membuat kapal tanpa menggunakan bahan Bakar Minyak (BBM). Cukup dengan energi lain. Enta apa energi itu? Itulah yang kini dipikirkan pemuda berusia 20 tahun ini guna membangun industri perkapalan Indonesia 15 tahun mendatang.

nak dari pedagang kaki lima (PKL) asal Kota Nganjuk Jawa Timur itu, lahir 10 Febuarai 1995 di Nganjuk. Dia punya cita-cita menjadi seorang insinyur yang bekerja dalam bidang teknik. Menjadi orang yang menggunakan pengetahuan ilmiah untuk menyelesaikan masalah-masalah praktis menggunakan teknologi. Apa yang ingin dicapai, semata hanya untuk membahagiakan kedua orang tuanya, yang telah berpisah sejak dia berusia sekitar lima tahun.

Perceraian kedua orang tuanya, dipertengahan tahun 2000 silam tak membuat mahasiswa semester lima, Program Studi Teknik Sistim Perkapalan, Fakultas Teknik, Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon itu, mengurungkan niat, cita-cita dan semangatnya untuk menjadi seorang ilmuan.

Jaka sapaan akrab dari Jaka Ramadhan, terus belajar tanpa mengenal waktu. Walau  kehidupan ekonominya serba terbatas, namun tak membuat dia patah semangat. Ayah Jaka, hanya seorang pedagang kaki lima sedangkan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga. Namun setelah kedua orang tuanya berpisah, Jaka harus hidup terpisah. Terlebih setelah Ibunya memilih menikah lagi pasca beberapa tahun berpisah dengan ayahnya.

“Saya ini anak Broken Home atau anak yang hidup  dengan kurangnya perhatian dan kasih sayang. Namun itu bukan halangan untuk memacu dan menyemangatkan saya untuk belajar dan bermimpi menjadi orang ternama dalam hidup ini,” kata Jaka, ketika bercerita bersama Ambon Ekspres, di kawasan kampus Universitas Pattimura, sekitar pukul 12.00 WIT, Kamis siang.

Bagi anak ketiga dari lima bersaudara ini, persoalan ekonomi bukan berarti membuat dia harus berhenti berpikir untuk mengejar cita-citanya menjadi orang yang akan memiliki nama dengan menorehkan tinta emas untuk kemajuan bangsa ini kedepan. Karena  itu, pemuda yang kini menghabiskan waktunya bersama buku, menjadi salah satu mahasiswa berprestasi di Fakultas teknik Universitas ternama di Maluku ini.

Usai menyelesaikan pendidikan SMA disalah satu sekolah yang ada di kota Nganjuk, Jaka kemudian tes masuk perguruan tinggi lewat jalur beasiswa bidik missing, atau beasiswa prestasi bagi anak kurang mampu yang memiliki prestasi.

“Dulu saya di SMA juga boleh dibilang diperhitungkan. Dari situlah mungkin pihak sekolah mendaftarkan saya untuk kuliah lewat jalur beasiswa ini. Alhasil saya lolos dan akhirnya bisa kuliah di Unpatti,” kenang Jaka. Padahal program studi teknik perkapalan juga berada di sejumlah perguruan tinggi ternama pulau Jawa.

Dia disodorkan pilihan beberapa peguruan tinggi, seperti Institusi 10 Nopember Surabaya, Universitas Hasanuddin Makassar, Universitas Dipenegoro dan di Universitas Pattimura. Pria yang aktif dalam berkomunikasi itu, lebih memilih menimbah ilmu di Universitas Pattimura.

Pilihan itu bukan tanpa alasan, namun melalui berbagai macam alasan untuk mewujudkan mimpi besarnya, dia lebih memilih  universitas di daerah kepulauan. “Saya harus mencari perguruan tinggi negeri yang berada di daerah kepulauan, sehingga bisa bersentuhan langsung dengan kondisi lingkungan dimana alat tranportasi laut menjadi saran utama bagi masyarakat yang ada di daerah itu. Itu ada di wilayah Timur Indonesia, salah satunya Maluku. Karena Maluku ini memiliki banyak pulau kecil,” tutur dia penuh semangat.

Dengan menggunakan dialeg Ambon Jawa, pria yang hidup diasrama putra milik kampus tersebut mengatakan, transportasi laut di Indonesia saat ini masih sangat  minim. Dan itu terjadi bukan di wilayah barat ataupun tengah, melainkan di wilayah timur.

“Kalau barat dan tengah itu lebih banyak gunakan transportasi darat. Kalau timur itu kapal. Dan untuk Timurnya di ada di Maluku,” tutur anak yang suka hidup dengan tantangan baru.

Tantangan kata Jaka, ialah guru baginya untuk menjadi pria  yang dewasa. “Memilih Ambon, untuk keluar dari zona aman saya. Yakni di pulau Jawa. Ada sesuatu yang baru maka disitulah ada pengalaman yang baru untuk saya dapat demi kehidupan saya kedepan,” kata  mahasiwa sederhana yang memiliki indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,85 itu.

Tak hanya itu, dengan gaya bahaya yang sederhana Jaka yang baru saja berhasil meraih juara I Ling Art Essay Competition (LAEC) 2015 yang diselenggarakan di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, Bercerita tentang apa yang baru dia raih itu.

“Komunikasi itu penting. Dengan siapapun kita harus komunikasi, karena untuk mewujudkan mimpi saya terutama membuat kapal tanpa BBM itu bukan butuh satu orang tetapi banyak orang. Termasuk dengan apa yang saya raih selama ini. Itu karena ada orang lain disamping, termasuk mungkin abang (Wartawan red) juga,” imbuh pria yang memiliki tinggi badan sekitar 150 centimeter ini.

Dia tidak pernah menyadari bahwa menang atas kompetisi yang diikuti sekitar 300 peserta atau abstrak tersebut, hanya mempresentasikan 10 abstrak pada 3 hingga 4 Oktober lalu. Kendati demikian Jaka mengingatkan, bahwa pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena pendidikan merupakan proses pengembangan diri untuk menjadi lebih baik.

“Pendidikan menjadi salah satu tolak ukur kemauan suatu bangsa. Apapun keinginan kita tidak akan terwujud jika kita tidak mau belajar, berusaha dan berdoa,” kunci pemuda yang akan membangun industry perkapalan di Indonesia terutama Maluku. (***)

Most Popular

To Top