Perusakan Dibawah Lindungan Hukum – Ambon Ekspres
Trending

Perusakan Dibawah Lindungan Hukum

Namlea, AE— Perusakan lingkungan di Buru, bak dilegalkan oleh pemerintah maupun aparat keamanan. Cianida dan merkuri terus membanjiri Gunung Botak. Di Gunung Botak bertaburan aparat keamanan bersenjata lengkap. Dari sanalah cianida dan merkuri yang usai digunakan mengalir ke sungai-sungai dan tanah.

Air sungai itu dipakai warga. Untuk konsumsi, juga untuk persawahan. Beberapa pengamat lingkungan mengaku, dampak dari air sungai dan tanah yang tercemari baru bisa berdampak bagi masyarakat beberapa tahun kemudian. Pemerintah dulunya berteriak ingin menutup, sekarang tutup mulut.

Cianida dan merkuri bebas beredar. Dua zat kimia berbahaya ini didatangkan dari Jakarta dengan menggunakan kapal barang yang dikemas dalam kontener. Kapal barang itu, datang tidak menentu waktunya. Tiba  di Dermaga Namlea, cianida dan merkuri tidak langsung di bongkar. Pemilik barang atau oknum-oknum terkait menunggu hingga selesai pembongkaran barang lain baru dilakukan pembongkaran cianida dan merkuri.

Pembongkaran barang haram itu dari kapal baru dilakukan pada malam hari, agar tidak diketahui aparat penegak hukum, dan juga tidak menjadi perhatian masyarakat. Usai dibongkar, cianida yang dikemas dalam kaleng berukuran 50 kg itu langsung dimuat menggunakan truk dan dibawa menuju gudang penyimpanan.

Jalur pendistribusiannya juga aman, dan terstruktur dengan baik. Bahkan gudang penyimpanan cianida dan merkuri juga berada di tengah-tengah Kota Namlea. Gudang yang tadinya adalah gudang pupuk, kini disulap menjadi tempat penampungan barang haram itu. Tidak diketahui warga, karena bagian depan gudang itu masih tertulis pupuk.

Dari gudang itu, kemudian di distribusi ke beberapa lokasi penambangan. Ada tiga lokasi penambangan disana, namun yang paling banyak mengalir ke Gunung Botak. Jalur distribusi juga dikawal rapat. Entah atas perintah siapa, namun tidak pernah berhasil diteksi oleh penegak hukum.

Setelah disusun rapi, barang itu tidak dijual kepada pembeli yang tidak dikenal. Pembelian cianida oleh penambang tidak bisa dilakukan secara langsung melainkan melalui para bos-bos tambang yang sebelumnya sudah melakukan komunikasi dengan pemilik seperti UD Leparisa Jaya, milik Hi Munding, pria asal Sulawesi Selatan.

Cianida yang dikemas dengan kaleng ukuran 50 kg itu tidak dijual seperti penjualan barang di toko. Jika ada permintaan dari para bos-bos tambang, barulah dijual dengan harga Rp 7,5 juta. Permintaan cianida dan merkuri bervariasi. Tergantung kebutuhan.

Menurut beberapa penambang yang ditemui di lokasi tambang Gunung Botak mengatakan, ada beberapa kaki tangan dari Haji Munding yang dulunya dikawal oleh salah satu oknum anggota Polres Pulau Buru, mencari pasaran.

Banyak penambang atau pemilik mesin-mesin pengolahan emas tinggal melakukan komunikasi via telepon seluler untuk memesan kebutuhan CN yang diperlukan. “Transaksipun tidak langsung dilakukan melainkan menunggu hasil dari para bos-bos tambang itu cair barulah CN dibayarkan,” ungkap penambang yang menolak namanya dipublikasikan dengan alasan keamanan.

Setahu dia, kebanyakan para bos-bos tambang saling meminjam cianida. “Kalau bos yang satu kehabisan cianida bisa dipinjam ke bos lainnya,” kata dia. Sedangkan untuk mercuri/air raksa banyak yang menjual dengan harga Rp 200 ribu sampai Rp400 ribu per 1 kg.

Diakuinya, tidak susah mendapatkan bahan-bahan kimia yang digunakan untuk menarik emas dalam proses pengolahan material emas di Gunung Botak. Semua pemain tambang tahu harus membeli ke siapa. Yang jadi pertanyaan, punya uang untuk membeli atau punya usaha untuk jaminan serta ada komunikasi dengan pemilik maupun dengan beberapa kaki tangannya,” jelasnya.

Pengamat lingkungan Universitas Pattimura (Unpatti) Abraham Tulalessy mengatakan, perkembangan dampak buruk akibat aktivitas penambang di sana, seharusnya menjadi perhatian semua pihak, terutama aparat keamanan untuk menertibkan dan menutup lokasi Gunung Botak.

Petinggi instusi penegak hukum baik TNI maupun Polri di Maluku harus menjelaskan   tentang langkah yang bisa dilakukan saat ini untuk menertibkan lokasi tambang itu. Dan kenapa langkah tegas belum dapat dilakukan. “Tinggal ditertibkan saja. Aparatkan di sana mestinya melakukan tindakan,” ungkapnya, Jumat (9/10).

Apakah ada kesan kesengajaan aparat keamanan untuk membiarkan penambang beraktivitas di sana? Tulalessy enggan memastikan. “Kan presiden sudah instruksi dan menjanjikan akan memberikan SK (Surat Keputusan) tentang penutupan lokasi tambang di sana. Mungkin surat itu  ditunggu oleh aparat keamanan,” timpalnya.

Ketua Lembaga Kalesang Lingkungan Maluku, Costansius Kolatfeka mengemukakan, selaku pemerhati lingkungan, pihaknya menduga ada kepentingan pihak tertentu, sehingga Gunung Botak sulit ditutup.

“Kenapa  dengan jumlah aparat keamanan di sana dengan perintah presiden dan gubernur melalui instruksi tapi tidak dapat menghentikan aktivitas penambang di sana? Pastinya ada konspirasi yang melibatkan  elit, karena bicara soal tambang, itu bicara soal uang yang banyak, soa ratusan juta bahkan milyaran rupiah,” katanya.

Kendati demikian, Kolatfeka mengaku belum dapat memastikan pihak mana yang ada dibalik pembiaran bagi penambang untuk beraktivitas di sana. Langkah bersama yang dilakukan atas dasar komitmen untuk menyelamatkan lingkungan dan masyarakat di sana, menjadi solusi yang harus dilakukan untuk mengeluarkan penambang dari lokasi itu.

“Oleh sebab itu, saya kira semua masyarakat di pulau Buru, terutama masyarakat yang ada di sekitar Gunung Botak harus melakukan  seruan moral adat, menyelamatkan  nasib lingkungan dan anak adat di sekitar lokasi tambang. Bahwa ini  (aktivitas penambang harus) segera dihentikan. Dan harus ada penegasan Pemda dan aparat keamanan,” ujarnya.
Diakui, lokasi tambang emas sulit ditutup karena bukan hanya penambang yang berkepentingan, tapi pihak lain juga berkepentingan, karena yang namanya tambang di situ  kosentrasinya adalah  uang dan emas. Sehingga membuat pencemaran lingkungan dengan  cianida dan merkuri  sudah pada level yang luar biasa dan bisa mematikan.

Pihaknya menilai, keberadaan  aparat keamanan di sana, selama ini hanya melakukan pengamanan, guna menghindari konflik antar penambang, dengan begitu aktivitas penambang masih teru berlangsung. “Saya kira ini proses pembiaran. Sehingga lingkungan di sana semakin parah,” jelasnya.

“Aparat keamana harus diberikan perintah yang jelas bahwa Gunung Botak bukan lagi emas untuk kesejahteraan tapi emas untuk mematikan masyarakat di sana,” tegasnya.  (CR8/MAN)

Most Popular

To Top