Maluku Tuntas Dalam Kerukunan – Ambon Ekspres
Trending

Maluku Tuntas Dalam Kerukunan

Sukses Tuan Rumah Raih Juara Umum

AMBON,AE— Penyelenggaraan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional ke XI resmi ditutup oleh Menteri Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi, Prof DR M Nazir. Sebagai tuan Rumah, Maluku dinilai sukses membuktikan tingginya kebersamaan dan kerukunan antar umat beragama.

Penutupan Pesparawi yang berlangsung di Lapangan Mandala, Karpan itu, dihadiri kurang lebih 10 ribu pengunjung. Baik dari peserta pesparawi, maupun masyarakat Maluku yang ingin menyaksikan siapa yang berhasil membawa pulang piala presiden.

Dalam sambutannya, M Nazir mengungkapkan, Pesparawi yang diselenggarakan di Maluku, memiliki makna yang penting bagi wahana pemantapan wawasan keagamaan. Lewat Pesparawi, umat Kristiani diharapkan dapat memperdalam keimanan, demi mewujudkan hidup yang rukun dengan sesama.

“Terbukti dengan suksesnya penyelenggaraan Pesparawi di Maluku, dapat dijadikan sebagai wahana, memperdalam wawasan kebangsaan serta mewujudkan kehidupan yang makmur. Melalui kegiatan ini, saya yakin, bahwa umat kristiani di seluruh tanah air dapat menjalin persaudaran antar sesama warga bangsa,” katanya.

Pesparawi, lanjut dia, adalah moment untuk saling mengenal adat dan budaya yang ada diseluruh tanah air. Hal itu diharapkan dapat menampilkan keteladanan yang positif dalam mewujudkan kerukunan antar umat beragama. Serta, mempertebal rasa nasionalisme dan membangun kebersaman dengan umat beragama di tanah air.

“Pesparawi merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kehidupan beragama melalui kesenian. Jadi pesparawi adalah bagian dari pendukung budaya bangsa, yang beranekaregam,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Umum Lembaga Pengembangan Pesparawi Nasional (LPPD), Andar Gultom mengatakan, Pelaksanaan Pesparawi XI di Kota Ambon, Maluku, akan memancarkan api kerukunan bagi bangsa Indonesia bahkan bangsa-bangsa lain. Pasalnya, pelaksanaan Pesparawi XI di Maluku, berhasil Karena berkat kerjasama antara semua agama yang ada.

“Dengan kerjasama yang ditunjukan masyarakat Maluku, lewat kebersaman antara umat beragama dalam mendukung penyelenggaraan pesparawi, menunjukan kepada masyarakat Indonesia, bahwa Maluku adalah laboratorium kerukunan umat beragama,” katanya.

Menurutnya, apa yang dilakukan oleh masyarakat Maluku dalam mendukung penyelenggaraan Pesparawi, daerah lain, bahkan negara lain dapat belajar tentang arti dan makna  kerukunan.

“Tujuan utama perhelatan Pesparawi Nasional, bukanlah mengutamakan persaingan. Melainkan, untuk memupuk rasa persaudaran diseluruh Indonesia dan mempererat tali persaudaraan dan kerukunan yang ada,” tegasnya.
Gubernur Maluku, Ir Said Assagaf mengungkapkan, rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh masyarakat Maluku, yang telah mendukung berlangsungnya Pesparawi Nasional di Kota Ambon. Tentu saja, Pesparawi merupakan pelengkap guna membuktikan bahwa Maluku menjadi laboratorium hidup orang bersaudara.

“Saya bangga, bahwa  momentum Pesparawi bukan milik orang Kristen. Tetapi Pesparawi menjadi milik semua umat beragama yang ada di Maluku dan Indonesia. Saya yakin, peserta dari 33 Provinsi, telah mendapatkan kesan yang berbeda tentang Ambon Manise,” kata Assagaff.

Lebih lanjut orang nomor satu di Maluku ini mengatakan, sikap toleransi masyarakat Ambon, Maluku yang inklusif, merupakan karakter yang tumbuh dalam semua lapisan masyarakat.

“Sekarang ini, kita bukan saja menjelaskan kepada Indonesia mengenai suasana hati orang Maluku yang sesungguhnya. Melainkan, kita mendemonstrasikan dengan jujur dan tulus kepada Dunia, tentang seluruh situasi dan hidup orang basudara yang terlahir secara luhur dan abadi,‘’ tuturnya.

Sukses penyelenggaraan Pesparawi ke XI, menurut Assagaff merupakan pelengkap dari keberhasilan pelaksanaan MTQ tingkat nasional pada 2012 lalu. Baik MTQ dan Pesparawi Nasional, adalah kampanye dan provokasi perdamaian Maluku untuk Indonesia, dan Indonesia untuk dunia.

“Pesparawi dan MTQ, merupakan wujud solidaritas umat beragama untuk menjadi model di tengah tindakan dehumanisasi yang masih terjadi di berbagai belahan bumi,” jelasnya.

Hal penting yang dinikmati lewat pelaksanaan MTQ. Yang pertama, pesparawi merupakan berkah yang luar biasa bagi masyarakat Maluku. Sebab melaluinya, konstruksi tentang dinamika hidup, toleransi semakin transparan antar masyarakat dan umat beragama di Maluku semakin kuat.

“Pelayanan basudara lintas agama terhadap pesparawi ini, membuktikan bahwa hidup orang basudara adalah kekuatan untuk membangun kohesi antar umat beragama. Dan hal ini harus dipertahankan. Saya berani mengatakan hal ini, karena merupakan fakta, dimana pesparawi mendapat sambutan, dukungan dan turut dijaga oleh umat Muslim, Katholik, Hindu dan Budha,” tandasnya.

Sementara itu, ketua penyelenggara Pesparawi, Wakil Gubernur Maluku, Zeth Sahuburua dalam laporannya mengatakan, yang menjadi nilai tambah dalam Pelaksanaan Pesparawi Nasional XI di Maluku, yakni tingginya atensi dan antusiasme dari kontingen. Pasalnya, kehadiran 6868 orang yang berasal dari 34 Provinsi menjadi penyemangat bagi masyarakat Maluku.

“Tingginya atensi dan antusisame masyarakat Indonesia yang turut berpartisipasi dalam Pesparawi, menjadi kekuatan moral bagi kami dalam mewujudkan hidup bersama di tengah kerukunan antar sesama,” pungkasnya.

MALUKU JUARA UMUM
Sukses sebagai tuan rumah, Provinsi Maluku melengkapi kebanggaannya dalam keberhasilan sebagai tuan rumah, dengan meraih juara umum, pada Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) tingkat Nasional XI di Kota Ambon, Maluku.

Kerja keras dari pemerintah dan seluruh masyarakat Provinsi Maluku dalam menyelenggarakan Pesparawi Nasional XI, membuahkan hasil. Pasalnya, lomba nyanyi musik rohani yang digelar tiga tahunan itu, Maluku sebagai tuan rumah, mampu meraih prestasi gemilang sebagai juara umum Pesparawi XI yang ditutup pada Sabtu (10/10) malam.

Maluku, yang dikenal sebagai tanah raja-raja ini berhak atas piala bergilir Presiden, setelah pada pengumuman pemenang oleh dewan juri, yang berlangsung di Lapangan Mandala, Karpan. Maluku, meraih tiga gelar Champion, dari 11 kategori yang dilombakan.

Tiga champion yang diraih Maluku yakni kategori Solo anak 7-9 tahun, paduan suara (PS) pria dan musik pop gerejawi (MPG). Pesaing terdekat Maluku berasal dari provinsi Papua Barat, juga memperoleh tiga gelar Champion.
Tiga champion yang diperoleh Papua barat yakni  kategori solo anak 10-13 tahun, PS remaja-pemuda dan PS wanita.

Walaupun Maluku dan Papua Barat sama-sama memproleh tiga gelar Campion, namun Dewan juri memutuskan Maluku keluar sebagai pemenang, karena unggul selisih poin, dari akumulasi perolehan medali emas dan perak.

Kemenangan Maluku, akhirnya memupus ambisi Papua Barat untuk meraih juara, yang pada pesparawi tiga tahun lalu, berhasil menjadi juara umum. Total, Maluku meraih 11 medali emas dan hanya memperoleh satu perak. Sementara Papua meraih sembilan medali emas dan dua perak.

Menyusul perolehan medali dibawah Maluku dan Papua Barat, yakni DKI Jakarta, yang mampu menggondol 2 Champion dari kategori Vokal Grup dan Solo Remaja/Pemuda Putri. Diikuti, Papua yang memperoleh Champion dari kategori Paduan Suara Anak, kemudian kontingen Provinsi Sumatera Utara yang meraih Champion pada kategori Paduan Suara Dewasa Campuran  dan Bengkulu yang meraih champion pada Solo Remaja/Pemuda Putra
Provinsi Bengkulu meraih champion pada kategori solo remaja putra dan Sulawesi Utara meraih champion di kategori paling bergengsi pada kompetisi banding nyanyi tiga tahunan tersebut yakni kategori Paduan Suara Dewasa Campuran.

Dalam pengumunan pemenang tersebut, tidak ada satupun peserta pesparawi yang menyabet gelar Champion pada kategori lomba Musik Etnik. Karena, kategori tersebut baru pertama kali digelar sehingga butuh penyesuaian. (AFI)

Most Popular

To Top