Massa Anarkis, Kantor Pemerintah Dirusaki – Ambon Ekspres
Trending

Massa Anarkis, Kantor Pemerintah Dirusaki

AMBON, AE— Pemilihan kepala daerah serentak di Maluku sejak awal diidentifikasi pusat, dengan wilayah paling rawan konflik politik. Tanda itu sudah muncul. Di Seram Bagian Timur “bara” konflik sudah mulai menyala. Mulai dari masalah daftar pemilih sementara, lambannya penetapan caretaker Bupati SBT, sampai pada penolakan terhadap caretaker yang ditunjuk Menteri Dalam Negeri.

iga nama diusulkan oleh Gubernur Said Assagaff. Mereka, adalah Sartono Pining, Sadili Ie, dan Hendrik Far-Far. Mendagri menunjuk Hendrik. Utusan Mendagri ini, tak langsung dilantik. SK berminggu-minggu sudah dikirim Kemendagri, namun oleh gubernur dibilang belum sampai di pemerintah provinsi.

Pelantikan caretaker tertunda-tunda. Setelah warga SBT yakin, bahwa yang ditunjuk Hendrik Far-Far, reaksi negatif muncul. Aksi unjuk rasa digelar, Kamis (15/10).  Dan kemudian berlangsung ricuh. Seorang pendemo dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSU) SBT, Bula karena diduga terkena tembakan gas air mata dari aparat kepolisian.

Sekitar 300 orang, atas nama Aliansi Masyarakat Peduli Umat SBT (AMPU-SBT), itu melakukan long march dengan satu unit truk pick up pukul 08.00 wit dari toko Sinar Bula menuju kantor Bupati di jalan Ampera. Sampai di kantor bupati, selain menyampaikan aspirasi, massa juga membakar ban bekas, sehingga menimbulkan kabut asap pekat.

Massa juga memaksa masuk untuk menyegel kantor bupati. Namun aksi tersebut dihalau sejumlah aparat kepolisian. Massa terus memaksa. Kericuhan pun pecah. Satu jendala kaca kantor bupati dilempari massa dengan batu, dan pecah. Polisi kewalahan. Polisi terpaksa menyemprotkan gas air mata.

Pada saat penembakan gas air mata, jarak polisi dan pendemo hanya sekitar 2 meter. Saat itulah, Ansar Loklomin, salah satu pendemo kena semprotan gas air mata. Ia pun dilarikan ke RSUD SBT untuk mendapatkan perawatan. Tapi massa tetap melanjutan unjuk rasa hingga tadi malam pukul 20.00 wit.

“Sampai sekarang, Ansar masih dirawat di rumah sakit, karena mengalami pendarahan di jidat. Massa juga hingga sekarang masih berada di kantor bupati,”kata Rusdi Rumata, koordinator lapangan dalam unjuk rasa tersebut.
Rusdi memaparkan, terdapat sejumlah tuntutan dan alasan dari demonstrasi itu. Pertama, kata dia, masyarakat menilai Hendrik Far-Far terindikasi berada dalam kepentingan kelompok tertentu.

“Far-Far dijadikan terindikasi, dijadikan sebagai alat oleh kelompok tertentu demi kepentingan mereka pada Pilkada. Kami menduga, Far-Far adalah titipan, sehingga PNS akan dijadikan sebagai instrument untuk kepentingan kellompok tertentu,”katanya.

Kedua, lanjut dia, masyarakat SBT merasa dilecehkan dengan penunjukan Far-Far sebagai caretaker, yang notabene bukan putra daerah sebagaimana janji gubernur Maluku, Said Assagaff. Sehingga menimbulkan amarah.

“Kedua, sebetulnya ini amarah masyarakat. Karena masyarakat merasa dilecehkan. Putra daerah kan sudah dijanjikan oleh gubenur, sebagai caretaker. Dan dia layak. Tapi pemerintah pusat memilih dan menyelamatkan kepentingan kelompok orang tertentu melalui Far-Far,”paparnya.

Selain itu, Rusdi menilai, penunjukan Far-Far tidak sesuai dengan kondisi yang terjadi saat ini SBT. SBT kata dia, masuk sebagai salah satu daerah yang rawan konflik. Karena itu, harus dipimpin untuk sementara waktu oleh putra daerah yang betul-betul memahami kondisi dan karakter orang SBT.

Karena itu, dia meminta agar Far-Far tidak dilantik sebagai carertaker. Dia dan massa lainnya berjanji akan memboikot pemerintahan di SBT, jika pelantikan tetap dilakukan.

“Kami mendengar informasi bahwa telah ada instruksi dari Mendagri kepada gubernur untuk segera melantik caretaker. Kalai sampai dilantik, kami tidak bisa menjamin stabilitas keamanan. Kami juga akan memboikot pemerintahan. Karena itu, pemerintah harus memikirkan secara matang. Sebab masyarakat terus menuntut caretaker putra daerah,”tandasnya.

BErbau SARA
Kericuhan antara polisi dan sekelompok orang yang melakukan demontrasi menolak kehadiran caretaker SBT, Hendrik Far Far di Kota Bula, merupakan bagian dari setingan untuk menarik perhatian publik. ”Ini bagian dari settingan politik,”tegas salah satu tokoh pemuda SBT Abas Rumadan, Kamis (16/10) di Ambon.

Abas menuturkan, awalnya aksi yang dipusatkan di depan halaman kantor Bupati SBT berjalan baik. Tapi suasana seketika memanas, polisi mengeluarkan tembakan peringatan karena para pendemo bertindak brutal dan sulit dikontrol.

Mirisnya para orator yang berorasi nekat mengeluarkan pernyataan yang bernada SARA. Sehingga menarik perhatian masyarakat lain yang sedang beraktifitas di Kota Bula. Protes penolakan caretaker SBT sesungguhnya bukan tuntutan masyarakat SBT. Apa yang diinginkan para pendemo hanyalah mewakili kepentingan kelompok tetentu.

Aksi demontrasi yang dimulai sekitar pukul 10.00 WIT menuntut Gubernur Maluku untuk membatalkan Hendrik Far-Far yang sudah ditetapkan Menteri Dalam Negeri sebagai Caretaker Bupati SBT. Menurut Abas sangat tidak rasional dan inkonstitusional. Apalagi penolakan Careteker SBT hanya karena Hendrik bukan sekulutur dengan warga SBT.

Kedatangan Far-Far di Kota Bula pada Sabtu 17 Oktober 2015 akan disambut penuh suka cita.  Mayoritas masyarakat SBT sudah menjamin keamanan Far-Far mulai dari kedatangan di Kota Bula sampai mengakhiri masa tugasnya sebagai Caretaker Bupati SBT.

“Sabtu nanti akan ada penjemputan secara besar-besaran, masyarakat SBT di Kota Bula dan seluruh PNS bakal menyambut kehadiran pak Hendrik selayak saudara sekandung, jadi masyarakat Maluku tidak boleh tertipu dengan ulah sekelompok orang saat aksi demo, Kamis 15 Oktober,” pintah Abas.

Semntara itu Kapolres SBT Ajun Komisaris Besar Polisi Wawan Setiawan menegaskan, korban aksi unjuk rasa di depan kantor bupati itu, bukan terkena peluru karet, melainkan karena aksi dorong-dorongan antara massa dan polri, hingga membuat terjatuh dan mengalami luka lecet.

“Kami tidak menggunakan peluru karet. Yang kami gunakan itu hanya gas air mata, untuk menghalau massa yang berjumlah sekitar 300 orang itu. Jadi tidak benar itu kalau pakai peluru karet,” kata Wawan, kepada koran ini, kamis petang kemarin.

Menurutnya, massa yang awalnya melakukan unjuk rasa dengan aman dan tertib itu tiba-tiba terjadi aksi saling dorong dengan ratusan personil aparat keamanan yang telah disiagakan lebih awal di depan kantor bupati.

“Awalnya demo itu berlangsung aman dan tertib. Namun tiba-tiba massa yang sudah membawa kayu itu mencoba masuk untuk memboikot kantor bupati. Disinilah terjadi aksi saling dorong, hingga menimbulkan korban luka lecet ini,” jelasnya, sambil menambahkan personil kepolisian yang diturunkan itu, sekitar 100 orang.

Setelah menderita luka, korban kemudian dilarikan ke rumah sakit, untuk mendapatkan pertolongan medis. “Tadi (Kamis sore kemarin) sekitar jam 18.00 Wit, korban sudah kami jenguk dan kondisinya kian membaik, karena mengalami luka lecet di bagian jidat. Mungkin malam ini sudah bisa dikembalikan ke rumah,” terang mantan Kabag DalOps Biro Operasional polda Maluku.

Hingga kini lanjut pria dengan dua melati dipundaknya itu, situasi dan kondisi keamanan di Kabupaten SBT terutama kota Bula, sudah kondusif dan tidak ada hal-hal yang dapat mengganggu situasi dan kondisi keamanan yang ada. “Alhamdulillah, sampai saat ini situasi dan kondisi keamanan di kota Bula maupun SBT pada umumnya aman terkendali. Kota bulan sendiri sudah tidak ada apa-apalagi. Pokoknya SBT aman terkendali,” tegasnya. (TAB)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!