Orang Ini Peternak Tokek, Harga Bisa Rp 1 M per Ekor, tak Takut Bau Mistis – Ambon Ekspres
Trending

Orang Ini Peternak Tokek, Harga Bisa Rp 1 M per Ekor, tak Takut Bau Mistis

KAMIM namanya. Dia seorang peternak, tapi bukan ternak ayam, bebek, puyuh, atau kambing. Dia peternak tokek. Ya, salah satu hewan melata itu memang identik dengan bau-bau mistis, tapi justru membuat Kamim meraup uang lumayan.

agi sebagian masyarakat mungkin akan berfikir ulang jika berencana menggeluti bisnis tokek. Betapa tidak, selain jarang ditemui, salah satu hewan sefamili dengan cicak itu juga sangat identik dengan cerita mistis. Tak heran, jika hanya segelintir orang yang mau menggeluti usaha itu.

Satu diantaranya, yaitu Kamim, salah seorang warga Desa Banjardowo, Jombang. Dia sudah puluhan tahun bergelut dengan usaha tokek. Maka, jangan kaget jika bertandang ke rumahnya, bakal menemui puluhan tokek berada di kandang.

Bahkan, jika tokek sedang bersuara, dari kejauhan sudah mendengar bunyi-bunyian khas dari binatang melata itu.
Maklum, bisa dikatakan Kamim menjadi satu-satunya orang di Kota Santri ini yang beternak tokek. Barangkali warga yang lain ogah karena hewan itu berbau mistis.

”Ya memang, banyak yang bilang tokek itu hewan jelmaan, ada juga yang bilang tokek itu ada yang nunggu alias makhluk halus,” kata Kamim, sembari tertawa.

Padahal, kata Kamim harga jual tokek cukup tinggi, mulai dari Rp 20 juta hingga Rp 50 juta. Bahkan satu ekor tokek harganya bisa melambung hingga miliaran rupiah.

”Namun, tergantung ukurannya. Semakin panjang tokek, maka harganya pun juga makin tinggi,” katanya.
Untuk saat ini, ada sedikitnya 32 tokek yang ia pelihara. Dari jumlah itu, mayoritas tokek tersebut hasil buruannya tiap malam. Tapi, ada juga tokek-tokek kecil hasil budidaya tokek di rumahnya.

Saking banyaknya tokek yang ia pelihara oleh warga sekitar sosok Kamim lebih dikenal dengan julukan raja tokek. ”Ya entah siapa yang mulai, tahu-tahu punya sebutan itu melekat pada diri saya,” tuturnya.

Memang, bisnis tokek yang ia geluti sudah berjalan lama, sekitar 23 tahun, tepatnya tahun 1983 silam. Saat itu, dia belum segetol sekarang, pasalnya hanya berburu dan menjualnya ke pengepul.

Tapi, seiring berjalannya waktu, Kamim mulai berfikir untuk merintis budidaya tokek. ”Jadi sekitar tahun 90-an mulai budidaya, itung-itung sudah punya pengalaman,” kata pria berusia 64 tahun ini.

Lantas ia menyebutkan dari tiga jenis tokek yang biasa tersebar, yaitu tokek batu, tokek hutan dan tokek rumah. Jenis tokek rumah yang biasa diburu dan dibudidayakan. Itu setelah nilai harga jual tokek rumah lebih tinggi.

”Masing-masing jenis ada yang membedakan, baik warnanya maupun bentuknya. Kadang-kadang ada yang kecil dan besar,” jelas Kamim.
Untuk harga tokek rumah saja kata Kamim bisa mencapai puluhan juta. Namun, itu tergantung panjang tokek. Beberapa bulan lalu, ia menjual dengan bandrol Rp 25 juta dengan panjang 38 sampai 39 centimeter.

”Jadi paling panjang 40 sampai 45 centimeter, harganya bisa Rp 45 juta sampai Rp 1 miliar. Tokek baru layak jual tinggi panjangnya kalau panjangnya kisaran 38 sampai 40 centimeter,” sebutnya.

Kamim mengaku tidak mengetahui secara pasti tokek itu bakal dipergunakan untuk apa. Hanya, informasi yang ia dapat, biasanya tokek dimaksimalkan untuk pengobatan. ”Juga terkadang dipelihara, karena mitosnya tokek itu membawa peruntungan,” ucapnya.

Apakah ada ritual khusus ketika berburu tokek? Kamim mengaku tidak membutuhkan ritual khusus. Hanya, karena tokek dinilai mempunyai nilai mistis, maka ketika berburu harus membekali diri dengan nyali tinggi, disamping kejelian dan kesabaran.
”Sebab bisa-bisa bukan tokek yang kita buru, tapi makhluk halus,” pungkasnya sambil tertawa. (nk)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!