Asap Serang Malteng, Warga Mulai Kesakitan – Ambon Ekspres
Trending

Asap Serang Malteng, Warga Mulai Kesakitan

MASOHI,AE— Kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan di Seram Utara Timur Kobi, Kabupaten Maluku Tengah kini mengkhawatirkan. Sebanyak 144 warga desa Maneo Rendah dan Maneo Tinggi, serta desa-desa sekitar lokasi kebakaran menderita berbagai penyakit. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Malteng menetapkan status siaga.

Hingga kini upaya dinas terkait yang tergabung dalam penanganan bencana belum berhasil memadamkan kobaran api yang telah membakar habis hutan di sekitar desa Maneo Rendah dan Meneo Tinggi, kecamatan Seram Utara Timur Kobi, Maluku Tengah. “Sudah saya koordinasikan dengan gubernur, bahkan menyurati ke menteri soal kebakaran hutan,” kata Bupati Malteng, Abua Tuasikal, tadi malam.

Memang, kata dia, mereka terkendala dengan peralatan untuk pemadaman. Sampai kemarin, upaya pemadaman api oleh dinas terkait bersama TNI dan Polri serta masyarakat dilakukan dengan cara tradisional yakni menggunakan dedaunan disamping membuat ilarang atau sekat api. Hal tersebut membuat rembetan api terus menjalar ke tempat lain.

Meski terhadang peralatan, upaya pemadaman terus dilakukan, karena titik api terus bertambah, dan sangat mengkhawatirkan. “Saya akan meminta Badan Penanggulangan Bencana Nasional untuk membantu. Karena, kebakaran, bukan hanya di Sumatera dan Kalimatan saja. Kami di Pulau Seram juga mengalami hal serupa,” kata dia.
Gubernur Maluku Ir Said Assagaff, mengatakan pemerintah provinsi selalu melakukan kordinasi dengan pemerintah kabupaten, terutama SBT, SBB dan Maluku Tengah.” Ya, saya selalu berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten yang wilayahnya mengalami bencana kebakaran hutan,” tuturnya kemarin.

Bahkan, tambah Assagaff, pihaknya juga terus membangun kordinasi dengan menteri lingkungan hidup.” Saya setiap saat sms dengan beliau (menteri lingkungan hidup), tentang bagaimana kondisi kebakaran hutan di Maluku,” ujarnya.

Kebakaran yang terjadi di pulau Seram belum separah seperti yang terjadi di pulau Sumatera dan Kalimantan,” Kebarakan di SBT, Seram Utara dan SBB, tidak sampai ribuan juta hektar seperti yang terjadi di sumatra dan Kalimantan. Sehingga dampaknya tidak terlalu berpengaruh bagi masyarakat,” terangnya.

Meski demikian, tamba Assagaff pihaknya terus melakukan pemantauan dan memberikan bantuan bagi suku terasing yang terkena dampak kebakaran hutan itu.”Untuk bantuan saya sudah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten, agar bergerak cepat memberikan tempat tinggal dan pangan yang cukup kepada mereka, terutama beras disamping umbi-umbian,” terangnya.

Menyoal, penanganan kebakaran, Assagaaff mengatakan tingginya titik api menjadi kendala dalam proses pemadaman oleh aparat di kabupaten.” Memang sulit untuk mencapai titik api karena rata-rata berada di ketinggian yang jauh dan sulit, sehingga tidak ada upaya pemadaman yang dilakukan,” pungkasnya.

Kepala BPBD Malteng, Marzuki Latuconsina di Masohi, Senin,(19/10), mengatakan mereka masih terus berupaya agar api bisa padam, meskipun dengan cara seadanya. “Menggunakan daun-daun dan membuat ilarang,” ujar.

Sampai hari ini,(Senin,red) kobaran api berada di sekitar Desa Waimusi tidak jauh dari Desa Maneo Rendah. Dimana sekitar 23 hektar lahan milik masyarakat Waimusi yang didalamnya terdapat tanaman masyarakat terbakar, sementara lahan masyarakat Desa Maneo Rendah yang ikut terbakar telah mencapai 50 ribu hektar.

Untuk penanganan bagi warga di desa-desa yang terkenah dampak langsung asap berbagai logistik telah didorong ke wilayah itu. Dan hari ini tengah malakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk upaya penanganan selanjutnya.

Tak hanya di kecamatan Seram Utara Timur Kobi, kebakaran juga terjadi di dua kecamatan lainnya yakni kecamatan Seram Utara Barat serta kecamatan Teon, Nila, Serua(TNS) tepatnya di desa Yapila. Namun, kebakaran di desa Yapila berhasil dipadamkan. Sementara di Seram Utara Barat api hingga kini masih berkobar di sekitar hutan desa Horale. “Lahan yang terbakar di Horale mencapai 42 hektare adalah lahan milik warga termasuk di desa Wailulu,” sebutnya kepada Ambon Ekspres.

Latuconsina mengaku, asap akibat kebakaran hutan di Pulau Seram telah berdampak luas, bukan saja warga yang ada di Seram tapi juga dampaknya hingga ke Pulau Ambon dan Pulau-Pulau sekitar. Olehnya itu, pihaknya sedang melakukan rapat koordinasi bersama Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, Kesbangpolinmas, TNI dan Polri, Satpol-PP, Dinas Sosial serta instansi teknis lainnya untuk mengambil langkah-langkah penanganan selanjutnya. “Malteng dalam status siaga, karena itu kita koordinasi untuk ambil langkah selanjutnya,” jelasnya.

Kondisi siaga asap tersebut terkait banyaknya korban yang terserang berbagai penyakit akibat terkenah dampak langsung asap. Dinas Kesehatan kabupaten Maluku Tengah melalui Puskesmas Pasahari B Seram Utara Timur Kobi mencatat terdapat 144 warga yang sementara dalam penanganan perawatan diantaranya adalah penyakit Inspeksi saluran pernafasan akut(ISPA), Desapepsia, Hipertensi, Rematik, serta Iritasi mata. “Total warga yang menderita akibat asap di desa Meneo Tinggi 45 orang mencakup ISPA 19 orang, Despepsia 13 orang, Hipertensi 8 orang, rematik 5 orang dan iritasi 3 orang,” jelas Kepala Puskesmas Pasahari B, Suharto saat dihubungi via telepon.

Kondisi yang sama dialami warga desa Maneo Rendah, yakni warga yang tekenah ISPA berjumlah 56 orang, Diare 9 orang, Despepsia 8 orang, Hipertensi 11 orang dan iritasi mata 5 orang. Namun, Suharto mengatakan, pengobatan warga tersebut dilakukan 10 hari lalu lantaran desa-desa tersebut sulit dijangkau.

Untuk mencapai desa-desa tersebut dijangkau dengan berjalan kaki sekitar kurang lebih 9 jam. “Desa Maneo Rendah kurang lebih 9 jam, sedang ke Maneo Tinggi 11-12 jam, sampai. Di Meneo Rendah harus tidur paginya baru bisa lanjut jalan. Itu jadi kendala kita ke sana,” katanya.
Dikatakan, dari total warga yang menderita akibat asap tersebut sebagian besar adalah anak-anak. Untuk itu,

pihaknya terus melakukan pemantauan sekaligus melakukan pengobatan terhadap penderita akibat asap. “Ya, saya tadi,(Hari ini,reda) barusan dari sana, kita terus pantau dan memberikan pelayanan kesehatan meskipun butuh waktu lama jelan kaki kesana,” tutupnya.
(ANC/ARI)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!