Warga Maneo Minta Direlokasi – Ambon Ekspres
Lintas Pulau

Warga Maneo Minta Direlokasi

MASOHI,AE—Kebakaran hutan yang terjadi sejak bulan September 2015 yang belum berhasil dipadamkan menyisihkan penderitaan mendalam bagi warga di wilayah Seram Utara Timur Kobi, kabupaten Maluku Tengah terutama warga di desa Maneo Rendah se-petuanan.

Bukan saja dampak akibat asap kebakaran yang telah menghabiskan kehidupan meraka di hutan, namun ketimpangan pembangunan dalam berbagai aspek pendidikan dan kesehatan telah lama dirasakan warga di pedalaman Utara Pulau Seram tersebut. Kondisi tersebut memaksa warga untuk memilih direlokasi.

“Ini jadi alasan warga untuk direlokasi setelah saya melakukan pertemuan dengan warga kemarin, ” ujar raja Maneo, Nicolaos Boiratan dari kaki gunung Binaiya kepada Ambon Ekspres.

Boiratan mengutarakan, ketimpangan pembangunan terutama pendidikan dan kesehatan tidak dinikmati warganya dimana, ketersediaan sarana puskesmas pembantu(Pustu) yang melayani beberapa dusun hingga kini tidak memiliki tenaga kesehatan. Meski diakuinya, untuk menempuh desa Maneo dan petuanan membutuhkan waktu cukup lama dan sulit.

“Tapi warga saya butuh pelayanan kesehatan, butuh pendidikan. Disini ada Pustu tapi tidak ada tenaga perawat atau bidan demikian pula pendidikan. Saya terpaksa mengatakan terus terang sejak kemerdekaan sampai reformasi ini kita tidak pernah rasakan pembangunan,” ucapnya terbata-bata, Selasa,(20/10).

Sulitnya jangkauan serta akses tersebut mendesak warganya meminta pemerintah sedianya dapat merelokasi mereka ke tempat yang lebih dekat dan mudah mendapatkan akses. Permintaan warganya tersebut kata Boiratan telah disampaikan ke wakil gubernur Maluku, Zeth Sahuburua di Ambon pekan kemarin.

Dimana, total warga Maneo Tinggi serta petuanan yang akan direlokasi adalah sebanyak 916 jiwa atau sekira 200 Kepala Keluarga (KK). “Sudah saya sampaikan dihadapan pak wakil gubernur dan kami minta pemda bisa mengupayakan lahan kosong bagi warga saya,” ketusnya.

Maneo Rendah sebagai desa induk katanya membawahi suku Mausuane salah satu suku pedalaman yang menempati pegunungan Yamakita, untuk menuju perkampungan suku ini lanjut Boiratan dilalui dengan berjalan kaki sekira 3-4 jam. “Nah, hanya suku ini yang tidak mau direlokasi, semua dusun mau direlokasi terutama Maneo Tinggi yang menjadi titik kebakaran,” katanya.

Olehnya itu,Boiratan meminta baik pemkab Maluku Tengah maupun pemda provinsi segera mengambil langkah merelokasi warganya yang kini menderita akibat kebakaran hutan. “Ya, kalau sudah direlokasi saya optimis kehidupan kita akan lebih baik karena mudah memperoleh akses baik itu pembangunan maupun transportasi, jadi warga saat pertemuan itu sangat berharap direlokasi,” harapnya. (ANC)

Most Popular

To Top