Menyatu Karena Arumbai, Tetap Rukun Karena Rasa Persaudaraan – Ambon Ekspres
Trending

Menyatu Karena Arumbai, Tetap Rukun Karena Rasa Persaudaraan

Lomba Arumbai Manggurebe di teluk Ambon, menyimpan cerita sakral bagi masyarakat desa Galala  dan negeri  Hitu Lama, menjadi tonggak sejarah terjalinnya hubungan pela antara masyarakat di dua desa/negeri tersebut.  Telah lebih dari setengah abad  hubungan pela ini  dipelihara. Sadar bahwa hubungan pela harus bertahan di tengah terpaan era globalisasi, acara Panas  Pela pun digelar berulangkali.

Arus lalulintas di jalan Kapten Piere Tendean, desa Galala, kecamatan Sirimau pada, Selasa (20/10), sekira pukul 09:30 WIT,  tersendat selama beberapa menit. Puluhan pengendara kendaraan roda dua dan roda empat yang datang dari luar kota Ambon maupun dari arah sebaliknya, harus memperlambat laju kendaraannya. Sebab, sebagian badan jalan digunakan acara penjemputan Raja negeri Hitu Lama dan rombongan, yang datang dalam rangka  acara Panas Pela.

Selain di badan jalan itu, di atas trotoar, beberapa lorong  serta  teras beberapa rumah warga di sana, juga  disesaki ratusan orang. Mereka adalah warga Galala dan warga Hitu Lama yang berkumpul untuk melaksanakan  ritual adat tersebut.

Di tengah kerumunan orang di badan jalan itu, berdiri  kepala desa Galala  Johan Van Capelle dan sejumlah petinggi di desa Galala, menghadap ke negeri Halong, arah  datangnya raja negeri Hitu Lama Sahlana Pelu dan rombongan.
Di belakang barisan kepala desa Galala, berdiri  sekelompok laki-laki berbaju cele. Mereka menjinjing miniatur sebuah  arumbai yang dibuat dari belahan bambu, dihiasi daun nyiur. Bendera Merah Putih melambai pada ujung Arumbai.

Pukul 10 : 05, Raja negeri Hitu Lama dan rombongan yang terdiri dari para Saniri Hitu Lama, tiba di lokasi. Suasana kian ramai. Warga terus  menyesaki badan jalan.  Raja Hitu Lama yang datang dengan mengenakan baju kebesaran,  Sorban warna putih dan hitam itu, disambut kepala desa Galala dengan mengalungkan sebuah sarung kain adat di leher raja Hitu Lama.

Dua pemimpin itu pun berbalik, melangkah, kemudian memasuki miniatur Arumbai yang dijinjing puluhan pemuda itu.  Tarian adat  yang dilakoni sejumlah perempuan paruh baya pun dipertunjukkan, menyambut sekaligus mengantar raja dari negeri Hitu Lama itu untuk menuju tempat upacara Panas Pela, di lorong Toko Ende, Galala. Sejumlah  wartawan pun tidak ingin kehilangan kesempatan, mengabadikan momen bersejarah itu.

Rasa bahagia  nampak jelas dari wajah setiap warga di sana. Baik warga Galala yang dengan bersemangat menjemput pela mereka itu,   maupun warga Hitu Lama yang langsung berbaur  dengan warga Galala.

Di lokasi acara, telah dibangun sebuah Tugu Panas Pela, berukuran tinggi kurang lebih dua meter. Di ujung atasnya terpasang miniatur arumbai. Sementara di bagian tengah tugu tertera tulisan “Tugu Tetap Abadi Pela Galala-Hitu Lama, 19 Mei 1959”.

“Pela Galala-Hitu Lama tetap abadi selamanya,” ikrar Kepala desa Galala Johan Van Capelle dan Raja Negeri Hitu Lama Sahalana Pelu, saat  keduanya tiba, tepat di dekat Tugu sejarah Pela itu, disambut tepuk tangan para warga, undangan dan hadirin.

Cerita pela antara warga Galala dengan warga Hitu  Lama dimulai pada sekitar  56 tahun lalu. Tahun 1959 pejabat  Panglima XV Pattimura Kolonel Herman Pieters mengadakan lomba Arumbai Manggurebe dengan melibat masyarakat di negeri-negeri di pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease. Desa Galala pun tidak ketinggalan untuk mengikuti perlombaan tersebut, karena itu pemerintah desa Galala  kemudian memesan arumbai atau Belang dari negeri Hitu Lama.

Setelah kesepakatan sesuai waktu yang ditentukan, utusan dari desa Galala datang untuk membayar Arumbai yang dipesan tersebut. Namun  raja Hitu Lama, As’Ad Pelu menolak pembayaran itu, serta mengusulkan untuk angkat pela dengan masyarakat Galala. Tawaran itu disambut gembira oleh utusan dari Galala serta masyarakatnya.

Dari situlah  maka tanggal 19 Mei 1959, raja Hitu Lama, As’Ad Pelu dan raja negeri Galala Esou Yoris, mengikrarkan hubungan pela antara Galala  dengan negeri Hitu Lama, yang dikenal dengan Pela Arumbai.

Hubungan pela yang terjadi, antara Salam dan Sarane, yang berlatar arumbai ini, tidak memiliki janji yang berbentuk hukum. Tetapi, sejak saat itu, masyarakat desa Galala dan Negeri Hitu Lama memiliki ikatan untuk membangun kehidupan dalam kerukunan persaudaraan yang saling melindungi, saling menghormati, serta saling membantu.

Ini telah terbukti. Masyarakat negeri Hitu Lama turut berpartisipasi secara langsung  dalam pembangunan gedung Gereja di Galala, begitu juga sebaliknya, masyarakat desa Galala turut membantu pembangunan Masjid di negeri Hitu Lama. Pekerjaan gotong royong yang dikenal dengan istilah Masohi, tetap lestari sampai saat ini.

Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Ambon, Stevanus Tiwery mengatakan, acara Panas Pela merupakan bagian dari upaya untuk menjaga agar budaya pela tetap terpelihara, agar tidak diklaim oleh negara lain.

Dikatakan, Maluku dan kota Ambon, dikenal  sebagai wilayah dengan kekayaan budaya yang beranekaragam satu diantaranya adalah budaya Pela. Pela, kata Stevanus merupakan sebuah kata yang melekat dalam sanubari masyarakat Maluku. Tidak diketahui kapan muncul dan negeri mana yang mencetuskan budaya pela, karena minimnya catatan sejarah. Namun Pela telah menjadi dasar budaya bagi masyarakat Maluku
Dalam pengertian umum yang diketahui, pela merupakan sebuah sumpah dan janji untuk saling menjaga, saling membantu. Ikatan Pela terjadi di Maluku, memiliki kekuatan yang kuat, mengikat dan sangat sakral serta telah teruji keberadaannya sebagai pemersatu masyarakat Maluku.“ Falsafah orang Maluku, sagu salempeng dipatah dua.

Ale rasa beta rasa, potong di kuku rasa di daging, Ale Salam beta Sarane, katong semua basudara,”ujarnya.
Raja negeri Hitu Lama Sahlana Pelu mengungkapkan, acara Panas Pela ini merupakan panasa Pela ke empat sejak ikrar pertama diucapakan pada tahun 1959 lalu. Dan ini akan menjadi suatu tradisi untuk terus menjaga hubungan pela antara masyarakat Galala dengan masyarakat Hitu Lama.

“Ini adalah Panas Pela yang keempat. Dengan hubungan pela ini, kami tidak hanya berkumpul  dalam acara seperti ini saja. Setiap ada kegiatan, baik di Hitu Lama maupun di Galala, itu kita punya tanggung jawab bersama,” ungkap.

Kepala Desa Galala  Johan Van Capelle berharap Panas Pela menjadi kegiatan yang mendapat perhatian serius  dari pemerintah daerah. Baik provinsi maupun kabupaten/kota, guna membentengi masyarakat dari aksi provokasi pihak-pihak yang  tidak bertanggung jawab
“Supaya kita sampaikan kepada anak cucu kita bahwa ikatan  saudara  yang kita terapkan harus terus diwariskan,” pesannya.(**)

Most Popular

To Top