PLTU Waai Dilirik Pengusaha Tiongkok – Ambon Ekspres
Trending

PLTU Waai Dilirik Pengusaha Tiongkok

AMBON, AE— Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di desa Waai, kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah mulai dilirik pengusaha dari luar negeri. Direncanakan, hari ini dilakukan pertemuan antara  pemerintah provinsi Maluku dengan pimpinan PT PLN Wilayah Maluku-Maluku Utara, membicarakan keinginan tersebut.

Hal itu disampaikan oleh wakil gubernur Maluku Zeth Sahuburua, seusai menerima kunjungan konsulat jenderal (konjen) Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Yu Hong dan rombongan yang terdiri dari beberapa pengusaha dari RRT, Rabu (21/10), di kantor gubernur Maluku.

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 1 jam itu, dimulai sekira pukul 15 : 05 WIT itu, wakil gubernur menjelaskan tentang potensi sumber daya alam di Maluku diantaranya potensi perikanan, pertanian dan Pariwisata.
“Saya tidak memberikan penjelasan secara menyeluruh tentang kondisi Maluku yang terdiri dari sekitar 92  persen adalah  laut dan sekitar 7 persen adalah daratan, jadi kita butuh adanya investasi di sini,” kata Sahuburua.

Diakuinya, para pengusaha Tiongkok  lebih banyak tertarik pada potensi perikanan di Maluku. Wagub pun menjelaskan bahwa  produksi nasional ikan per tahun mencapai 8 sampai 10 juta ton. Sementara Maluku menghasilkan 1.7 juta ton. ”Itu artinya kira-kira 26 persen (dari total secara nasional). Jadi tentunya kita harapkan ada investasi, yang menguntungkan kita, bukan investasi yang merugikan,” jelasnya.

Tidak semua pengusaha yang hadir memilih laut. Salah satunya, Kencana menyatakan kesediaan untuk menyediakan listrik bagi masyarakat Maluku. Karena itu, wakil gubernur pun menjelaskan tentang kondisi PLTU Waai.

“Tadi kan dia minta, kalau orang yang  sudah bangun itu sudah gunakan uang berapa banyak, dia ingin ambil alih, tapi saya bilang, kita musti cek sama PLN dulu. Kira-kira apa masalahnya. Tidak mungkin kita tebak begitu dan langsung mengiyakan, tapi harus cek dulu. Masalah apa,”ujarnya.

Karenanya, lanjut Sahuburua akan mengundang pihak PLN untuk meminta penjelasan tentang kondisi PLTU Waai sekaligus tentang keinginan pengusaha Tiongkok untuk melanjutkan pembangunan.

“Mudah-mudahan kalau saya ke Jakarta, bisa kita ketemu lalu membicarakan, mendudukkan masalahanya. Jadi besok itu saya mau undang PLN datang mau cek, kira-kira di Wai itu apa kesulitannya. Dan Andaikata kesulitan di Waai itu kita sampaikan ke mereka (pengusaha) dan ternyata mereka bisa, ya kita langsung jalan,” tegasnya.

Sebelumnya, mantan General Manager PLN wilayah Maluku-Maluku Utara Iksan Asaad kepada Ambon Ekspres mengatakan, masalah PLTU Waii telah mendapat perhatian serius pemerintah pusat. Kontrak dengan pihak kontraktor yang menangani pekerjaan sebelumnya pun dihentikan, karena dinilai tidak maksimal dalam bekerja. Dan pekerjaan segera dilanjutkan, dan direncanakan berakhir tahun 2017.

Dari hasil koordinasi dengan Direksi PLN pusat dan pihak Unit Induk Pembangunan (UIP) 14, diketahui bahwa terhambatnya pekerjaan PLTU hingga saat ini karena masalah finansial dari kontraktor. Masalah kenaikan kurs, rupiah anjlok. Sementara bahan-bahan yang  digunakan,  diimpor  semua.

PLTU Waai yang berkapasitas 2 X 15 Mega Watt telah di masukan dalam Rencana Umum Pekerjaan Tenaga Listrik di Kementerian Enegeri Sumber Daya Mineral (ESDM). Bila selesai, PLTU Waai sangat membantu dalam pelayanan listrik di Kota Ambon.

Pekerjaan lanjutan akan diserahkan kepada kontraktor lain yang lebih siap untuk bekerja hingga tuntas. Sejumlah kontraktor besar telah menyatakan kesiapannya. Namun, belum ditindak lanjuti. Bila dinilai mendesak, maka akan ditangani langsung oleh anak perusahaan milik PT PLN.

Koordinator Mollucas Democratization Watch (MDW) M. Ikhsan Tualeka mengemukakan, pembangunan PLTU Waai memang sudah harus dilanjutkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan listrik kepada masyarakat.

“Harus dilihat betul rekam jejak kontraktor, khusus dalam pembangunan PLTU. Perusahaan atau kontraktor pengganti harus pernah menangani pekerjaan serupa. Agar tidak lagi terjadi masalah,” ujar Peneliti Indonesia Goverance Index (IGI) ini. (MAN)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!