Warga Halong Demo Raja – Ambon Ekspres
Metro Manise

Warga Halong Demo Raja

AMBON, AE— Ratusan warga Negeri Halong, Rabu (21/10) mendatangi kantor negeri tersebut. Mereka berunjuk rasa dengan membawa tanah, kain putih dan spanduk bertuliskan kecaman kepada Raja Negeri Halong beserta saniri, yang dinilai arogan dan dan tidak berpihak kepada masyarakat khususnya 14 KK yang tengah bersengketa dengan keluarga Solomon terkait lahan di kawasan Air Besar Halong.

Pantauan koran ini, aksi warga tersebut dilakukan sekitar pukul 10.30 WIT. Banyaknya warga yang datang ke kantor negeri tersebut, mengakibatkan kemacetan panjang di jalan raya. Warga yang tidak dapat menemui raja, sempat beradu mulut dengan staf negeri maupun pengacara. Beruntung tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan setelah dilerai aparat keamanan. “Kami ingin mendengar keterangan langsung dari Raja Halong, yang ingin menjual tanah yang saat ini masih dalam sengketa,” teriak salah satu tokoh masyarakat Negeri Halong, Agus Bastian.

Menurutnya, sengketa lahan yang sudah ditempati 14 KK selama 5 generasi itu masih berada di Mahkamah Agung sehingga belum bisa dijual siapapun. “Ini sikap arogansi dan intervensi raja beserta saniri yang datang menyuruh 14 KK untuk segera mengosongkan lahan untuk dibangun minimarket. Kami punya bukti rekamannya,” terangnya.

Bahkan, kata Agus, raja pernah menawarkan sejumlah uang untuk pindah ke lokasi lain yang tanahnya juga belum jelas asal usulnya. “Ini bukan sikap seorang pemimpin yang berpihak pada masyarakatnya,” tandasnya lagi.

Mestinya, kata Agus, raja datang ke masyarakat untuk berunding dan musyawarah membicarakan masalah ini secara baik-baik sesuai aturan yang berlaku. “Kami masyarakat awam saja sangat menjunjung tinggi aturan, karena kami mengerti sampai saat ini belum ada putusan. Tetapi kenapa raja tidak menghargai aturan dan melakukan hal yang malawan hukum,” kesalnya.

Karena tidak berhasil menemui raja, warga secara teratur kembali ke rumah masing-masing. Mereka berjanji akan terus menunggu jawaban dari raja atas langkahnya yang ingin menjual lahan tersebut. “Kami mengalah bukan berarti kami kalah. Kami pulang bukan berarti kami lupa apa yang kami suarakan hari ini. Kami tetap menunggu jawaban dan tanggungjawab raja atas perbuatannya,” pungkasnya. (ARI)

Most Popular

To Top