Paparisa Ambon Bergerak, Rumah Bersama Komunitas Kreatif – Ambon Ekspres
Trending

Paparisa Ambon Bergerak, Rumah Bersama Komunitas Kreatif

Diawali kegelisahan panjang tentang arti sebuah perubahan, sejumlah komunitas kreatif di kota Ambon duduk bersama. Mereka ingin mempunyai sebuah rumah bersama, tempat ide-ide disulam. Dari situ, banyak hal positif praktis terealisasi. Kini, impian itu terwujud dengan adanya Paparisa Ambon Bergerak.

Oktober 2015 malam, saya berkunjung ke Paparisa Ambon bergerak yang terletak di jalan Diponegoro, Lorong Sagu. Rumah komunitas bersama ini terdiri dua lantai. Lantai pertama, digunakan sebagai ruang admin dan ruang tamu.

Pada dinding lantai satu, terpajang sejumlah pamflet kegiatan dan kampanye Ambon Bergerak. Disudut kiri ruangan itu, terdapat tulisan Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara”Paparisa Ambon Bergerak merupakan ekosistem pembangunan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) di Ambon. Indonesia memerlukan ribuan Paparisa. Semoga Paparisa Ambon bisa menyebarkan virusnya ke seluruh Indonesia”. Rudiatara menulisnya saat berkunjung ke Paparisa 4 Juli 2015.

Sementara di lantai dua, terdapat empat ruangan yang dipakai untuk studio musik, rapat, perpustakaan yang menampung sekitar 500 buku, dan ruang berdiskusi. Perpustakaan Paparisa Ambon Bergerak menyediakan buku-buku seperti sosial, politik, hukum, bahasa, motivasi, seni dan sastra, komik dan buku umum lainnya.

Paparisa ada sebagai bentuk kerinduan komunitas, akan ruang bersama untuk saling berinteraksi. Pasalnya selama ini, interaksi antar komunitas nyaris tak dilakukan di sebuah tempat yang representatif. “Dulu, teman-teman komunitas bergerak secara sporadis atau parsial. Masing-masing melakukan aktivitas sendiri. Lokasinya bisa di rumah kopi atau di jalanan,”ujar Piere Adelaar kepada saya saat kami berbincang mengenai alasan adanya Paparisa.

Piere dan teman-teman, biasanya sering kumpul bersama di depan Ambon Plaza. Selain itu, berpindah dari satu café ke café lainnya, hanya untuk bertukar pendapat tentang apa yang mau dilakukan. Selain itu, mereka juga berinteraksi secara massif di media sosial, terutama facebook dan twitter.

“Kebutuhan akan tempat berkumpul itulah yang membuat kami berinisiasi untuk mencari suatu tempat representatif. Karena pada awalnya, kami sering berkumpul di depan Amplaz,”kata fasilitor seni di Paparisa Ambon Bergerak itu.

Mendapat Bantuan
Pergerakan komunitas muda di Maluku mulai terlihat sejak tahun 2009 dimana anak-anak muda yang peduli lingkungan sosial berkumpul dalam kebersamaan persepsi tentang kondisi kota Ambon. Komunitas dibentuk berdasarkan persamaan minat. Awalnya mereka bergerak dengan kampanye besar, yakni Timur Bergerak.

Ide Timur Bergerak dicetuskan oleh Irfan Ramli, penulis skrip Film Cahaya Dari Timur. Nama ini kemudian bermetamorfosa menjadi Ambon Bergerak. Pada awalnya sekitar tujuh komunitas yang bergabung di Ambon Bergerak. Diantaranya, Maluku Hip Hop, Las Ambon, Teater Embun, Ambon Band Community, Komunitas Manis Pahit.

Di tahun 2011, walau kegiatan berdasarkan minat tertentu, tetapi kebersamaan antar komunitas mulai terjalin dengan begitu erat sejak peristiwa kericuhan 11 September. Dari situ, sejumlah komunitas lain ikut terlibat. Dan kegiatan bersama dengan melibatkan seluruh komunitas muda Maluku pun mulai dilakukan.

Misalnya aksi solidaritas kepada masyarakat kepulauan Aru dengan tagline Save Aru yang dinisiasi oleh Ambon Band Community. Kemudian pentas seni TrotoArt, penggalangan bantuan untuk korban banjir 2013, dan Ramadhan berbagi.

Gerakan Save Aru, merupakan kontribusi nyata komunitas Ambon Bergerak. Bersama sejumlah elemen masyarakat, pemuda dan organisasi nirlaba, penolakan terhadap perusahaan tebu, PT Menara Grup berhasil angkat kaki dari bumi Jargria itu. Kegiatan-kegiatan ini sempat diliput media nasional dan internasional.

“Alhamdulillah, ada yang berbaik hati memberikan hibah, yakni ITC Watch,”tutur Muhammad Burhanudin Borut, salah satu fasilitor di Paparisa Ambon Bergerak. Dari hibah itulah, mereka mengontrak rumah tersebut.

Berkat kegigihan dalam berkretifitas, Paparisa Ambon Bergerak atau Rumah Bersama ini mendapatkan Anugerah Komunikasi Indonesia (AKI) dari Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) sebagai bentuk dukungan dan motivasi dari pemerintah agar intensif berkarya. Paparisa Ambon Bergerak merupakan salah satu dari tujuh penerima AKI I pada 2015, khusus untuk kategori Komunitas Media Sosial.
***
Di Paparisa Ambon Bergerak, kini terdata sekitar 16 komunitas, yakni Save Ambon Bay, Penyala Ambon, Kanvas Alifir, Bengkel Seni Embun, Bengkel Sastra Maluku, Ikan Asar, Cidade de Amboina, Maluku Hiphop, Relawan TIK Provinsi Maluku, Relawan TIK Kota Ambon, Blogger Maluku, Maluku Baronda, Baileo Doc, Ambon Photo Club, dan Pardiedoe.

Awal 2015, aktifitas komunitas mulai dilakukan di Paparisa Ambon Bergerak. Umumnya mereka melakukan kegiatan secara swadaya, namun punya dampak yang cukup besar.

Untuk mengefektifkan interaksi dan kegiatan sesama komunitas, ditunjuk 5 fasilitator, yakni Pendidikan, Seni, TIK, Pariwisata dan Multimedia. Ini merupakan lima kelompok alur yang bisa menjelaskan tentang kegiatan-kegiatan kreatif komunitas.

Selain itu, juga dibentuk kelas Public Speaking, kelas sejarah kota Ambon, kelas enteprenueship, kelas musik, kelas guitar effect dan lainnya. Bahkan, belum lama ini Ridho Slank, mengisi kelas musik guitar effect.

“Misalnya teman-teman Ema Bergerak punya kebutuhan temanp-teman dari bidang seni musik untuk tampil acara di Ema, maka yang mereka hubungi adalah Piere. Karena dia adalah fasilitator seni. Begitu juga dengan komunitas seni lainnya,”jelas Burhanudin.

Orang Muda

Paparisa Ambon Bergerak punya visi, ingin membangun partisipasi pemuda kreatif yang berjiwa sosiopreuner dengan dukungan multi stakeholder dalam bingkai perdamaian berkelanjutan. Dengan misi Mengembangkan kreatifitas orang muda, melakukan kegiatan sosial yang berdampak pada kesejahteraan Orang Muda, mendorong kerjasama multi stakeholder, mendorong partisipasi Orang Muda dalam proses pembangunan perdamaian yang berkelanjutan.

Burhanudin dan Piere serta anak muda lainnya di Paparisa Ambon Bergerak, punya presepsi tersendiri atas misi besar itu. Menurut mereka, saat ini, tidak zamannya lagi bagi anak muda untuk menuntut perubahan daerah ini dari tangan pemerintah. Karena itu, anak muda dituntut untuk berkontribusi dengan segala potensi yang dimiliki.

Melalui interaksi yang intens, komunitas-komunitas tersebut berupaya dan telah berada dalam atmotfer perubahan itu sendiri. Seperti komunitas Maluku Baronda yang mengkampanyekan Re-branding Maluku dari aspek pariwisita. Bahkan, jauh sebelum adanya kepedulian pemerintah di sektor ini.

“Selama ini kita hanya menuntut perbaikan kepada pemerintah. Padahal itu sudah usang. Karena itu, pada suatu titik kami berpikir, anak muda harus bergerak dengan kreatifasnya untuk berkontribusi bagi perubahan di daerah ini,” katanya.

Selain beragam komunitas, di Paparisa Ambon bergerak juga terdapat orang-orang dari latar belakang agama dan suku, serta daerah yang berbeda. Namun, bagi mereka, itu hanya given (pemberian) dari interaksi sosial yang selama ini dibangun bersama.

Perjumpaan anggota komunitas yang berbeda agama, bukan menjadi hal tabu bagi mereka. Ini yang kemudian menimbulkan rasa ingin tahu sejumlah peneliti masalah sosial dan konflik berkunjung ke Paparisa dengan berbagai pertanyaan. Namun, jawaban mereka sangat sederhana, itu bagian dari bonus atas kerja kreatifitas itu sendiri.

“Kalau orang menanyakan, kenapa kami sering bertemu, karena mungkin kami semua moderat yah,”ucap Burhanudin sambil tersenyum. (***)

Most Popular

To Top