Tangisan Haru dari Kaki Binaya – Ambon Ekspres
Trending

Tangisan Haru dari Kaki Binaya

Ary Latumutuina (78) tertegun. Tangisannya pecah  seketika kalah melantunkan lania-lania, seakan menembus kabut tipis yang terbawa angin Gunung Murkela. Ia terkungkung diantara jutaan harapan warga karena pertama kalinya negeri Piliana yang terletak dibawa kaki Binaiya itu dikunjungi Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) kabupaten Maluku Tengah.

Lelaki separoh baya bersama beberapa tetua adat terkesiap, Asope atau kain berang merah tertancap sejak pagi buta, Rabu,(28/10) kala mentari belum juga menampakan diri dari sisi Gunung Hoale. Kabut tipis menyelimuti seantero negeri membatasi horizon. Tatapan polos anak-anak negeri yang sesekali melemparkan senyum bahagia dari bilik jendela pelepa sagu.

Ary tak mampu membendung keharuan, ia tertunduk seraya bibirnya yang keriput tak henti-hentinya berkomat-kamit saat menerima rombongan pengurus KNPI Maluku Tengah. Bagi dia dan warga, kunjungan ini merupakan sebuah kehormatan dalam sejarah panjang perjalanan negeri yang terletak dibawa kaki Binaya itu, saat masih nomaden dari lembah Maraina.

Proses adat-istiadat menyambut rombongan KNPI telah dipersiapkan matang-matang seperti cakalele, tarian maku-maku, prosesi pengukuhan serta segala macam adat-istiadat lainnya. Sambutan dengan serangkaian proses adat dilakukan dibawa garupa. Disana berkumpul raturan warga menyaksikan ritual adat dari lereng-lereng jalan, dibawa pepohonan cengkih dan coklat.

Usai disambut tetua adat, rombongan terus disambut tarian maku-maku dan cakalele oleh sekelompok pemuda-pemudi sekaligus mengalungkan krans bunga kepada ketua KNPI Sah Alim Latuconsina, sekretaris Frangki Haurissa dan dua pimpinan kecamatan. “Bagi kami ini satu kehormatan luar biasa dalam sejarah negeri ini, karena sejak kemerdekaan kami belum pernah mendapat kunjungan resmi dari pemerintah daerah,” ungkap Ary sambil menentang kerangka payung mirip sangkur komando.

Piliana, negeri yang dijuluki “Diatas Awan” itu memang bukan pertama kalinya melakukan kontak dengan orang luar. Hampir tiap saat mereka melakukan kontak dengan pendatang sebagai porter(penunjuk arah) bagi pendaki Binaiya yang melewati jalur selatan. Namun, dalam sejarah perjalanan nomaden, semenjak masih berada di Gunung Maraina baru pertama kali negeri itu mendapat kunjungan resmi.

Ary mengakui, sejauh ini jarang terjamaah pembangunan. Baik itu pembangunan fisik maupun pemberdayaan dari pemerintah. Sejumlah sarana seperti jalan lingkungan, ruang belajar adalah bantuan dari pihak swasta.

Ketertinggalan dari aspek pendidikan sudah pasti, sebab negeri tersebut hanya berdiri satu buah Sekolah Dasar dengan jumlah siswa yang terbatas. Untuk menempuh pendidikan SMP dan SMA mereka harus turun ke negeri Hatu sekira 7 kilometer berjalan kaki.

Demikian juga segi kesehatan, berbeda dengan desa-desa lainnya di Maluku yang tersedia sarana pelayanan kesehatan. Warga Piliana hanya mengandalkan satu bidan desa serta memanfaatkan alam untuk pengobatan tradisional. “Kalau dikatakan masih tertinggal memang, karena belum banyak sarana disini, banyak pengangguran, tapi optimis kita punya dua sarjana dan beberapa anak negeri sementara tempuh pendidikan tinggi,” tambah bapak raja Agustinus Ilelapotoa.

Meski berada di ketinggian 504 meter di atas permukaan laut (mdpl), kebudayaan mereka perlahan-lahan mulai tercerabut. Salah satu faktor penyebab pergeseran lebih dimungkinkan oleh komunikasi dengan banyak pendatang disamping perubahan yang diakibatkan oleh perkembangan teknologi- informasi.

Tercerabutnya budaya setempat nampak dengan mulai ditinggalkannya Asope, ini berbeda dengan suku pedalaman Nuaulu yang sama-sama berada dalam rumpun Patasiwa. Bagi warga Piliana, Asope hanya dikenakan saat hari-hari tertentu seperti saat upacara adat dan ketika menuju ke hutan. “Asope itu tidak setiap saat, hanya hari-hari tertentu saja seperti upacara adat dan ketika pergi ke hutan tujuaanya agar mudah dikenal,” lanjut tete Ary.

Tradisi meninggalkan Asope tersebut sejak lama, kemungkinan saat perpindahan mereka dari negeri Hattu. Dimana menurutnya, proses perpindahan nenek moyang mereka melalui beberapa fase dan mediasi hutan seputar pegunungan Maraina.

Maraina atau Nusa Fauna sendiri merupakan cikal bakal berkumpulnya semua suku sebelum tercerai-berai, kemudian menetap di Inaole, Losa, Layatonuhatan, Hatu( pesisir pantai) kemudian kembali ke pedalaman (Piliana) saat ini. “Sebelum ke Hatu atau masih di Losa terjadi peperangan suku melawan Belanda, setelah itu ke Hattu karena pertimbangan jumlah penduduk, kita kembali ke sini(Piliana) hingga sekarang,” terangnya menambahkan lama perpindahan baru 75 tahun.

Sekelumit permasalahan mendasar tersebut, menjadi alasan utama bagi KNPI menetapkan negeri Piliana sebagai pusat peringatan HUT Sumpah Pemuda ke-87 tahun 2015. Upacara berlangsung hening. Sejumlah siswa didatangkan dari kota kecamatan Tehoru dan Telutih, demikian pula pengurus KNPI dua kecamatan itu. Sebab di negeri itu hanya tersedia Sekolah Dasar.

Tak kalah menarik diantara deretan peserta upacara terbentuk satu baris tetua adat dengan dengan Asope di kepala, seperti barisan grup Komando Pasukan Khusus (Kopasus). Upacara dirangkaikan dengan pencanangan negeri Piliana sebagai negeri binaan KNPI dibuktikan dengan penandatanganan prasasti yang disaksikan Muspika dan tetua adat. Setelah itu, dilanjutkan dengan prosesi pengukuhan Sah Alim Latuconsina sebagai anak negeri Piliana.

Mendung disertai rintik hujan mengawal prosesi pengukuhan, kembali seluruh tetua adat meneteskan air mata kala tetua adat memulai prosesi Alahasiwa sebuah simbol prosesi negeri-negeri dalam rumpun patasiwa. “Ini seperti pulang kampung, sebab Latuconsina tercatat bagian dari terpecahkan marga di Piliana,” ujar tetua adat.

Karenanya, ikrar Sumpah Pemuda jilid II bukan lagi pada tataran konsep-konsep besar, melainkan kerja dan berkarya. Bagi KNPI, aksesibilitas, ketimpangan ekonomi, pendidikan, kesehatan serta aspek lainnya. “Ini bukan sebuah kebetulan tapi melalui observasi sebagian pengurus KNPI yang tergabung dalam Komunitas Pecinta Alam Seram(Kompas),” kata Latuconsina dalam pidatonya.

Observeasi dimaksud, kata dia, mencakup kebutuhan keterisolasian akibat jalan, keterbelakangan, ketertinggalan, kemiskinan serta potensi sumber daya manusia, sumber daya alam untuk pengembangan pariwisata. “Ini menjadi embrio bagi negeri-negeri lainnya di Maluku Tengah,” sebutnya.

Selain itu, dia juga menyerukan pentingnya menjaga kelestarian alam karena fenomena perubahan iklim tidak dapat dihindari, eksploitasi dan kebakaran hutan terutama merambah dan kian mengkhawatirkan. “Kalau tidak diantisipasi suatu waktu kita akan merebut oksigen untuk bernafas olehnya kita komitmen, kalau bukang ale deng beta sapa lai yang mau jaga alam,” tukas Latuconsina.

Latuconsina mengatakan, sebagai negeri binaan, Piliana kedepan akan diintervensi dengan pendekatan program dari KNPI baik program pembangunan, pemberdayaan maupun pengembangan kapasitas kepemudaan. Kendati masih tertinggal, namun negeri Piliana menyimpan banyak potensi sumber daya alam yang bisa dijadikan destinasi wisata yakni danau Ninipala yang lebih dikenal dengan “Air Jodoh” dan air terjun Sopakohua. Oleh warga setempat, danau Ninipala diyakini membawa dewi asmara  bagi siapa saja datang ke danau tersebut.

Dua pohon Gohi atau Kaiyofi yang tumbuh berdekatan dalam danau tersebut  merupakan pasangan pria dan wanita.  “Kalau suka dengan satu cewe atau cowok niat saja di danau, pasti bertemu. Dua pohon Gohi itu kokoh akarnya menyatukan cinta perempuan dan laki-laki,” ucap Ary setengah senyum.

Konon, danau tersebut oleh nenek moyang warga Piliana dijadikan sebagai tempat mensucikan diri. “Kasih anyor (Hanyut) semua pikiran kotor, buruk sangkah, fitnah dan pikiran-pikiran kotor lain,” katanya.

Danau Ninipala terletak sekira 200 meter dari negeri Piliana untuk menuju ke danau Ninipala ditempuh dengan berjalan kaki melewati pepohonan coklat sekitar 50 meter dari jalan utama. “Ya, kami berharap perhatian pemerintah untuk mengembangkan negeri kami, potensi wisata kami sehingga kami bisa berdiri, maju dan setarah dengan negeri-negeri lain di Maluku Tengah,” tutup Ilelapotoa. (**)

Most Popular

To Top