Petugas Kebersihan Perkosa Siswi SMP – Ambon Ekspres
Metro Manise

Petugas Kebersihan Perkosa Siswi SMP

Maluku Darurat Kekerasan Seksual

AMBON, AE— Salah satu oknum petugas kebersihan Kota Ambon yang diketahui bernama Yulis Kudubun akhirnya meringkuk dalam tahanan polisi.

Dia diduga melakukan tindakan pemerkosaan terhadap anak dibawah umur yang masih duduk di bangku SMP. Korban dan pelaku berdomisili di Desa Passo, Kecamatan Baguala, Kota Ambon.

ksi lelaki yang sehari-hari mengemudikan truk sampah itu terkesan nekat. Sebelum menyetubuhi korban, dia sempat mencegat korban dan menebar ancaman. Lelaki ini bahkan mengancam akan menghabisi nyawa korban jika tidak menuruti keinginan nafsu bejatnya.

Karena takut, akhirnya gadis ABG ini pun terpaksa menyerahkan kegadisan kepada lelaki biadab itu. Korban dibawah ke semak-semak tepat dekat sebuah kali tidak jauh dari tempat tinggal korban. Disitulah gadis itu dinodai.

Kasubag Humas Polres Ambon Iptu Meity Jacobus menandaskan, aksi bejat lelaki berusia 36 tahun itu terjadi pada Sabtu (31/10) sekira pukul 19.00 WIT. Saat itu kondisi sudah agak gelap. Warga sudah mulai kurang berlalu-lalang.

Dengan kesempatan itulah, kemudian pelaku melancarkan aksinya. ”Sebelumnya pelaku sudah membuntuti korban saat ibu korban menyuruhnya untuk berbelanja disebuah pondok dekat dengan TKP.

Saat itu kondisi sudah gelap. Disitulah dia (Yulis, red) mencegat korban. Korban sempat diancam. Saat itu pelaku sudah dipengaruhi minuman keras (miras),” jelas Meity, Senin (2/11).

Kerana takut, gadis berusia belasan tahun itu kemudian menuruti keinginan pelaku. Dia dipaksa membuka pakaiannya. Korban sempat menolak namun pelaku kembali mengancam akan membunuhnya.

‘’Akhirnya korban yang lugu kemudian menuruti permintaan pelaku. Korban dibawa ke semak-semak. Disitu kemudian dia diperkosa,” tandas Meity.

Ternyata, kata Meity, pelaku sudah pernah melakukan perbuatan itu terhadap korban. ‘’Jadi setelah diselidiki, ini untuk kedua kalinya pelaku menyetubuhi korban.

Yang pertama dilakukan pada 26 Oktober dan yang terakhir itu tanggal 31 Oktober dengan aksi yang sama. Korban selalu dibuntuti pelaku setiap keluar rumah,” tandasnya.

Kasus ini terbongkar setelah ada informasi yang berkembang tengah warga dan diketahui pihak keluarga. Keluarga langsung menginterogasi korban.

Di situlah kemudiaan korban memberanikan diri untuk menceritakan kepada orang tuanya. ”Pihak keluarga ada dengar informasi terkait apa yang dialami anak mereka ini (korban-red).

Dan setelah ditanya orang tuanya, disitulah korban menceritakan apa yang sudah dilakukan pelaku terhadap dirinya,” beber mantan Kanit Lakalantas Satlantas Polres Ambon itu.

Mendengar penuturan sang anak, pihak keluarga naik pitam. Mereka kemudian mendatangi pihak kepolisan untuk melaporkan kasus ini. ”Kasu ini awalnya dilaporkan ke Polsek Baguala. Kemudian dilimpahkan ke Polres Ambon karena di Polsek Baguala tidak ada PPA.

Pelaku kemudian ditangkap dan kini masih diproses hukum. Pelaku dijerat pasal 81 UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara,” pungkasnya.

Terpisah, Manejer Yayasan Lapan Maluku, Bai Hajar Tualeka menandaskan, ini merupakan kasus pemerkosaan karena sudah masuk tingkat persetubuhan. ”Korbannya juga masih dibawah umur,” tutur dia.

Tualeka menandaskan, maraknya kekerasan seksual ini menyebabkan Maluku saat ini bisa dikategorikan daerah darurat kekerasan seksual. Pasalnya, berdasarkan data komnas perlindungan perempuan dan anak, untuk kasus pemerkosaan (setubuhi/cabul) hampir setiap harinya diterima melebihi dari satu kasus.

‘’Komnas perlindungan perempuaan dan anak Maluku mencatat ada 5 kasus yang diterima setiap harinya. Jadi kita di Maluku ini sudah masuk kategori darurat kekerasan seksual,” ungkap dia.

Dirinya menilai, pemerintah daerah belum serius menyikapi kasus-kasus seperti ini dengan baik. Ini perlu disikapi sehingga tidak berpengaruh terhadap pisikologi korban yang nantinya akan berdampak pada masa depannya khususnya yang masih dibawah umur.

”Yang kita lihat saat ini, untuk kasu kekerasan seksual di Maluku belum ada penanganan secara serius dari pemerintah daerah termasuk Kota Ambon.

Ini sudah menyangkut pelanggran HAM, karena kekerasan seksual ini merusak tubuh dan juga massa depan seseorang. Apa lagi korban masih dibawah umur. Jadi perlu disikapi dengan serius,” tegasnya.(ERM)

Most Popular

To Top