Botol Bekas Air Mineral Jadi Keramba Ikan – Ambon Ekspres
Trending

Botol Bekas Air Mineral Jadi Keramba Ikan

PNS, Yang Punya Usaha Berpenghasian Ratusan Juta

Pria berkulit hitam, yang kesehariannya bertugas sebagai pegawai Negeri Sipil (PNS), di Kodam XVI/Pattimura ini, selalu meluangkan waktunya usai jam dinas maupun waktu libur, Sabtu dan Minggu, untuk memungut botol bekas air mineral di kawasan OSM, Kelurahan Wainitu, Kecamatan Nusaniwe, kota Ambon, dan Markas Komando Daerah militer XVI/Pattimura, tempat dia bertugas.

Rabu pagi menjelang siang, sekira pukul 09.30 WIT, saya mendatangi Makodam XVI/Pattimura, tempat Jefry bertugas, untuk mencari keberadaan pria yang mengubah sampah botol bekas air mineral menjadi keramba ikan itu. Disana dia, tak ada. “Bang (Wartawan red) cari siapa? kalau Pak Jefry belum datang, silahkan menghubungi di nomor hpnya,”kata salah satu prajurit TNI, yang saya temui.

Setelah berbincang singkat dengan salah satu anggota TNI itu, saya memutuskan untuk tetap menunggunya di Kodam, tempat dia bertugas. Tak lama berselan, saya bisa bertemu dengan Jefry. Berkenalan, lalu kemudian, Jefry mau berkisah tentang profesi sampingannya yabg mendatangkan untung besar itu.

Awal mula pembuatan keramba ikan dari botol bekas air mineral itu, terinspirasi setelah Jefry menonton salah satu program televisi, sekitar awal tahun 2009. Saat itu, ada seorang ilmuan asal Autralia, membuat pulau di tengah laut negera kanguru, dari botol-botol bekas air mineral maupun minuman lainnya.

Tak tunggu lama, pria kelahiran kota Ternate, 23 September 1973 itu, mulai belajar. Belajar membuat sesuatu dari botol bekas. “Setelah nonton program itu, besoknya langsung saya mulai mengumpulkan sampah botol bekas itu,” kata suami dari Nilda Masniyanti Adrian ini.

Selama berhari-hari, setelah jam kantor maupun hari libur dia selalu memungut botol bekas. Bahkan dalam sehari Jefry bisa mengumpulkan 100 hingga 250 botol bekas air mineral untuk dijadikan keramba ikan.

“Kalau untuk hari Sabtu itu mulai dari jam 07.00 WIT, sampai jam 11.00 WIT. Kemudian saya lanjut sore, dari jam 16.00 Wit, sampai jam 18.00 WIT. Untuk hari Minggu itu, setelah pulang gereja, mulai bergerak sampai jam 18.00 Wit. Saya jalan sama karung, di kawasan pantai OSM saja, kemudian juga menggunakan perahu untuk pungut di laut,” kata Jefry yang saat itu, menggunakan baju seragam PNS Kodam.

Ayah dari tiga anak ini, mengaku memulung sampah bekas air mineral itu dilakukan secara rutin dari Januari hingga April 2009 silam. “PNS Pemulung, yang tidak puas dengan gaji. Kalimat itu memang sering saya dengar baik di kawasan asrama maupun dari beberapa teman sendiri,” ucapnya.

Kalimat bernuansa hinaan itu, tidak membuat dirinya harus mundur. Namun dia berkeyakinan bahwa suatu saat nanti, apa yang dilakukannya, bisa berguna bagi dia, keluarganya, dan orang banyak. “Cuek saja dengan kata orang itu. Isteri saya juga sempat marah namun karena saya ini hobi melaut, maka saya kemudian cerita maksud dan tujuan dari botol-botol bekas itu sama isteri, alhasil isteri percaya,” kenangnya.

Empat bulan setelah menonton tayangan program itu, lelaki bertubuh tegak ini, memutuskan membuat kerambah dari hasil pungutan yang sudah menumpuk disamping rumahnya itu. Namun, kemudian terhadang anggaran untuk membeli perlengkapan tambahan lainnya, seperti tali, kayu, paku, dan lainnya.

“Botol bukan sekedar botol, melainkan botol yang ada penutupnya. Setelah sudah merasa cukup, kemudian saya minta sama isteri untuk kita kredit, agar bisa membuat keramba ikan kami. Akhirnya isteri saya bersedia, dan mulai kredit sekitar Rp 15 Juta dari salah satu bank. Rp 15 juta itu untuk pembuatan keramba hingga pada pembelian bibit ikan,” terangnya.

Setelah menerima kredit itu, dia langsung membuat keramba. Pengerjaan keramba tidak membutuhkan waktu lama. Hanya sekitar 14 hari, kerambah ikan dari botol air mineral itu akhirnya jadi dan siap dipergunakan.

“Satu keramba membutuhkan 15 hingga 20 pelampung. Sementara satu pelampung itu membutuhkan  250 hingga 300 botol bekas. 14 hari pengerjaan kerambah, mulai dari pengisian botol ke karung, pembuatan rangka keramba hingga kerambah itu dibawa ke tengah laut,”papar Slamta.

Kini pria yang mengabdikan diri sebagai PNS TNI selama 16 tahun itu, sudah menikmati hasil dari kerambah buatannya sendiri. Bahkan dari kerambah yang terbuat dari botol air mineral itu, melahirkan dua buah kerambah ikan lainnya.

“Hasil panen dari keramba botol bekas yang dibuat tahun 2009 itu, panennya di tahun 2011 sekitar Rp 100 juta, untuk dua kali panen. Berarti sekali panen itu Rp50 juta. Itu hanya untuk dua jenis ikan, yakni ikan Kerapu tikus dan ikan kuel atau dikenal dengan bubara. Dari situ kemudian saya membuat dua keramba lainnya, yang terbuat dari drum plastic,” jelasnya.

Setelah menambah dua keramba lainnya, kini ayah dari Julius Slamat, mahasiswa Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Pattimura Ambon itu, menambahkan satu jenis ikan lainnya, yakni ikan hias.

“Untuk saat ini, per tahun saya empat kali panen ikan dari tiga keramba itu. Kisaran harga kerapu tikus sekali panen itu sekitar Rp35 juta, kemudian bubara sendiri, yang tergantung berat ikannya. Kemudian ikan hias sendiri, jadi untuk empat kali panen itu bisa menghasilkan Rp 100 juta hingga Rp 200 juta,”terangnya.

Dengan penuh kepercayaan pria yang kini mulai melatih para nelayan untuk pembudidayaan ikan itu, mengatakan kalau ketiga anaknya itu, disekolahkan dengan hasil dari tiga kerambah ikan.

“Emas biru dan emas hijau yang dicanangkan oleh Pak Pangdam (Mayjen TNI Doni Munardo), saat ini sudah saya rasakan. Anak saya yang pertama kuliah kedokteran biayanya dari uang ikan,” ucap dia.

Untuk itu, pria yang kini berusia sekitar 42 tahun  berharap agar masyarakat Maluku, tidak terlalu terlena dengan kekayaan alam yang ada di negeri ini. Melainkan manfaatkan segala sumber Daya alam yang ada untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

“Apa yang sebenarnya tidak ada di Maluku ini, semuanya ada. Hanya saja, kita malas dan tidak mau berusaha. Padahal jika itu (SDA) dilakukan kemudian dikelola dengan baik maka masyarakat Maluku tidak ada yang miskin. Saya siap untuk membagikan ilmu dan pengetahuan ini, kepada yang lain. Saya sendiri juga sudah bentuk satu kelompok pembuat kerambah dan hasilnya juga sudah hampir di nikmati oleh kelompok yang beranggotakan sekitar 12 orang,” kunci warga OSM itu.
(****)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!