Pasar Batu Akik Mulai Menurun – Ambon Ekspres
Trending

Pasar Batu Akik Mulai Menurun

Lorong Jahanam pun Mulai Sepi Pengunjung

Akhir tahun 2014 lalu, Indonesia diserang demam batu. Dari Sabang sampai Merauke, punya batu mulia andalan, dengan nama daerahnya masing-masing.

Dari hanya seharga Rp50 ribu, sampai tembus miliaran rupiah. Delapan bulan lalu, pasar batu mulia atau batu akik di Ambon sangat ramai. Kini sepi. Lokasi yang kerap dipakai sebagai pasar batu akik, kini tak terlihat lagi tumpukan manusia.

residen Amerika Serikat Barack Obama punya cincin batu akik. Kabarnya hadiah dari Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY), saat Obama berkunjung ke Indonesia. SBY juga memiliki cincin dengan ornamen batu akik. Konon batunya dari Bacan.

Bacan adalah nama daerah di Maluku Utara. Tahun lalu daerah ini menjadi incaran penggila batu mulia.

Batu Bacan jenis Doko memiliki kemiripan dengan batu asal Kabupaten Garut dan juga Tiongkok. Di Ambon, membanjir batu akik dari Bacan. Seluruh tempat atau lokasi diseputaran kota bertajuk manise ini, sempat disulap menjadi lapak bagi sekian orang untuk memamerkan segala jenis batu.

Bacan Doko, adalah jenis yang paling diminati pembeli. Selain Doko, ada Bacan Palamea dan berbagai jenis lainnya seperti Obi dan lainnya. Bahkan adapun jenis batu yang didatangkan dari luar daerah seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan dari daerah Raja Ampat Provinsi Papua Barat. Dari Pulau Seram, Maluku, juga tak ketinggalan.

Selain pertokoan, supermarket, mall maupun sepanjang jalan di sudut kota, menjadi sasaran untuk dijadikan tempat berdagang batu akik. Dari sekian banyak lokasi pasar, lorong Jahanam atau Rawa Becek 2 (antara jalan A.Y. Patty dan jalan Samratulangi) kecamatan Sirimau Ambon, inilah yang menjadi pusat transaksi jual beli terbesar untuk pasaran batu akik di Ambon.

Bukan saja berbagai jenis batu yang bisa ditemui di lokasi tersebut. Sebagai pengikat batu, gagang cincin maupun liontin, dengan berbagai ukuran dan jenis juga tersedia. Tak heran, jika disepanjang lorong batu ini, banyak sekali orang-orang yang berprofesi sebagai pemotong atau pengukir batu, yang siap melayani pesanan sesuai permintaan.

Sekali poles untuk menghasilkan sebuah bentuk batu sesuai pilihan, para pengukir batu ini dihargai dengan jumlah Rp. 50.000/buah. Awalnya, sejak lokasi ini pertama dibuka jelang akhir tahun 2014 kemarin, tempat ini selalu menjadi tempat terpadat dari segala lokasi batu yang ada di kota Ambon.

Setiap kendaraan roda dua atau motor pun akan mengalami kesulitan jika ingin melintasi jalan tersebut.

Bukan saja pembeli yang mendatangi lorong batu, bahkan ada yang sekedar melihat-lihat. Demam batu akik, nampaknya bukan saja menyentuh hati para kaum adam khususnya orang dewasa. Segmen remaja maupun kaum hawa juga tertarik mengenakan batu akik. Anak-ank pun ikut memakai perhiasan ini.

Tak heran, jika para pedagang batu akik ini mendapat keuntungan yang luar biasa. Dalam sehari bisa ratusan ribu hingga jutaan rupiah yang dibawa pulang. Begitupun dengan para penjual gagang cincin maupun para pengukir/atau penggosok batu.

Pasar batu akik cukup ramai lima bulan lalu. Sangat membantu perekonomian daerah. Secara tidak langsung, juga telah membuka lapangan pekerjaan bagi sekian banyak orang untuk bisa bergabung dalam bisnis yang cukup menjanjikan itu.

Namun masa-masa itu nampaknya tidak bertahan lama. Saat ini, pasaran batu akik sudah mulai sepi. terlihat di beberapa lokasi tempat penjualan batu sudah tak seramai dulu.

Kendaraan yang dulunya kesulitan jika melintasi jalur tersebut, kini sudah tak ada hambatan lagi. Karena pengunjung yang dulunya memadati sepanjang lorong itu, sudah sangat berkurang.

Bon (39), salah satu dari sekian banyak pedagang batu akik, yang merupakan warga kota Ambon, mengatakan, sejak hari raya Idul Fitri 1436 Hijriah pada Juli 2015 kemarin, hingga kini suasana penjualan batu akik mulai mengalami penurunan.

Penjualan batu, gagang cincin, maupun para pengukir atau penggosok batu tidak untung lagi seperti sebelumnya. Tempat yang dulunya ramai dikunjungi warga kota Ambon maupun para wisatawan lokal maupun macanegara ini sudah mulai sepi. Pastinya, demam batu yang tadi sempat melanda kota Ambon mulai menurun.

“Kalau dulu itu, pertama katong (kita, red) berjualan di sini, keuntungan sangat besar. Sekitar Rp700 ribu hingga jutaan rupiah yang katong bawa pulang. Bayangkan, hari itu masih awal demam batu, jadi keuntungan masih besar.

Tapi sekarang, sejak Idul Fitri 2015 kemarin, pedagang sudah mulai sepi,” ungkap Bon kepada saya.

Untuk omset dari hasil penjualan batu akik miliknya, setiap harinya pasti ada walaupun pengunjung mulai sepi. Akan tetapi omset yang didapat tidak seperti sebelumnya yang dulu bisa diatas Rp500 ribu hingga jutaan rupiah.

Kini hanya sekira Rp100 ribu rupiah hingga Rp200 ribu rupiah perhari. Namun jika ada permintaan secara tiba-tiba, bisa mendapat keuntungan yang besar hingga Rp500 ribu hingga jutaan rupiah.

“Omset jelas menurun, tetapi untuk pemasukan hari-hari pasti ada walau hanya 100 atau 200 ribu rupiah. Kalau APEKSI boleh, kita dapat keuntungan besar, karena yang datang itu para pejabat. Tetapi kalau Mangente Ambon dan Pesparawi kemarin itu, tidak terlalu banyak seperti APEKSI,” tuturnya.

“Kalau menurun, ini mungkin karena pengaruh ekonomi di pusat. Apalagi sempat rupiah kan menurun. Jadi kalau ekonomi bermasalah, pasti akan berpengaruh. Karena jika pemasukan sedikit kan pasti pengeluaran dipersempit.

Jadi selain karena ini musiman, menurunnya pasaran batu akik ini juga pengaruh dampak ekonomi,” terang dia.

Harga batu akik juga mulai turun, seiring menurunnya permintaan konsumen. Sebelumnya, batu akik jenis Doko yang tadinya bisa dijual dengan 3-5 juta rupiah. Kini bisa dibuka harga dengan 1-2 juta rupiah. Namun semua kembali pada ukuran dan kualitas batu. Intinya harga yang dipasarkan turun 50 persen atau setengah dari harga sebelumnya.

Bukan saja batu yang mengalami penurunan harga, tetapi cincin, liontin yang dijual juga mengalami penurunan harga sekitar 20-30 persen dari harga awal. Kini puluhan pedagang yang ada, hanya memperebutkan beberapa pengunjung atau pembeli yang datang.

Sehingga ada permainan harga dari pedagang. Yang jelas, harga yang ditawarkan setiap pedagang pasti berbeda-beda, tetapi turun dari harga sebelumnya.

“Sekarang ini, contohnya 100 orang pedagang yang berjualan di sini. Terus hanya ada 10 orang pengunjung, dan katakanlah itu 10 orang itu termasuk pembeli. Maka yang akan terjadi, bagaimana 100 orang pedagang ini bisa mengambil hati 10 orang pembeli ini. Pasti bermain harga. Yang jelas harganya dibawah agar jualannya laku dibeli,” jelas Bon.

Hal senada juga disampaikan, Ongky (43) salah satu penjual batu akik. Dia mengaku saat ini, pasaran batu akik tidak seperti biasanya. Dimana omset yang diperoleh bisa mencapai jutaan rupiah perhari. Kini bisa dipastikan hanya seminggu sekali untuk bisa mencapai omset seperti sebelumnya.

Omset perhari tentunya bisa didapat walau kecil. Sehingga untuk pengambilan barang baru berupa bongkahan, batu cincin, atau hanya batu yang sudah diukir ini, masih menunggu hingga sebagian barang lama laku terjual.

“Kita tunggu barang lama habis baru kita tambah yang baru. Karena tidak bisa seperti itu, takutnya terjadi penumpukan barang. Kadang teman punya barang yang kita jual, jadi kalau sudah laku kita dapat dari dia,” tutur Ongki sambil tersenyum.

Menurut Ongki, seluruh pedagang yang ada di sini pasti masih akan tetap berjualan hingga memang musiman atau demam batu akik ini benar-benar turun atau sudah tidak dilirik lagi oleh masyarakat.

Walau sempat ada isu akan dipindahkan ke pasar Gotong Royong samping Amplas, kecamatan Sirimau Ambon. Proses transaksi jual beli batu akan tetap berlangsung di jalan ini beberapa waktu kedepan.

“Kita sudah dengar akan dipindahkan ke pasar Gotong Royong sana, tapi belum ada info berikutnya. Pedagang-pedagang ini kan ada juga dari Ternate. Dan sebagian dari Jawa itu sudah pulang.

Dan kita tetap akan berjualan batu akik di sini selama masih ada musim batu. Intinya, selama masih ada orang yang membeli cincin untuk dipasang batu akik, maka pasti ada batu yang akan dibeli” pesan Ongki.(***)

Most Popular

To Top