Barang Haram Yang Dihalalkan – Ambon Ekspres
Trending

Barang Haram Yang Dihalalkan

Pemerintah Menyerah

AMBON, AE— Pasokan merkuri dan cianida sudah tak terkendali. Namun belum satupun pemasok yang ditahan. Penggunaan dua barang haram ini juga sudah massif di Gunung Botak, kabupaten Buru.

Ribuan penambang masih tetap menjalankan aktivitas penambangan emas, tanpa terganggu penertiban, meski harus membayar sejumlah uang baik kepada pemilik lahan maupun oknum aparat keamanan.

Dua zat kimia berbahaya ini dipasok secara terbuka masuk ke Buru. Semuanya melalui jalur laut. Padahal pemerintah tak pernah mengeluarkan ijin perdagangan merkuri dan cianida di Buru maupun di Maluku bagi satupun pelaku usah. Aktivitas ini kemudian oleh pemerintah dicap illegal. Sayangnya, pelanggaran hukum diabaikan oleh para pemasok.

Lalu lintas perdagangannya juga sangat ramai. Masuk melalui pelabuhan resmi milik pemerintah di Namlea. Malam hari, menjadi waktu tepat untuk dilakukan bongkar muat. Tak ada sembunyi-sembunyi.

Banyak petugas pelabuhan mengetahui aktivitas itu, namun mereka memilih bungkam. Entah apa penyebabnya, namun operasi ini tidak pernah terpantau oleh aparat keaman.

Lalu siapa pemasoknya. Sampai kemarin, informasi yang diperoleh hanya ada satu pemasok namanya Jefri. Pengusaha asal Palu, Sulawesi Tengah itu kini menjadi pemasok tunggal merkuri dan cianida. Dulu ada dua koperasi, namun kini tak lagi beroperasi, setelah Dinas Perdagangan dan Perindustrian mencabut ijinnya.

Sementara Jefri disebut-sebut beroperasi secara illegal. Dia juga dituding dibekengi. Namun siapa yang membekengi, tak seorang pun di Buru berani buka mulut. Namun, ada satu penadah barang haram ini di Namlea. Dia menjual secara bebas, tanpa bisa dihalangi oleh aparat keamanan maupun pemerintah.

Informasi yang berhasil dihimpun Ambon Ekspres di lokasi tambang Gunung Botak, di Kecamatan Kaeali, Kabupaten Buru, peredarann cianida yang diketahui tidak memiliki ijin penyaluran itu, bebas beredar di lokasi tambang. Peredaran cianida itu dilakukan oleh CV Leparisa Jaya.

Munding, pria paruh baya asal Sulawesi Selatan, menjadi salah satu penyalurnya. Dia bebas menjual dan mengedarkan Cianida tanpa ada halangan dari aparat keamanan. Ironisnya, pengedaran cianida itu diketahui oleh seluruh aparat keamanan, namun tidak ada tindakan tegas.

Sejak adanya aktivitas tambang emas ilegal di Kabupaten Buru tahun 2012 lalu, banyak peristiwa yang terjadi hingga berhujung kriminalitas baik pencurian, perampokan sampai dengan pembunuhan.

Puluhan nyawa melayang belum lagi dengan adanya korban meninggal karena longsoran, tertimbun tanah dan menghisap zat asam di dalam lubang galian. Namun semua itu tidak ada penyelesaian bahkan aktivitas terus berjalan hingga berita ini diturunkan.

Informasi tidak resmi yang berhasil dihimpun, rencana penutupan tambang akan dilakukan pada 13 November 2015 nanti. Kendati sudah mendengar adanya informasi penutupan lokasi tambang, namun para penghuni lokasi tambang masih tetap asik melaksanakan aktivitas mereka. Tidak ada yang menghiraukan informasi tersebut.

Bupati Buru, Ramli Umasugy yang dikonfirmasi Ambon Ekspres kemarin, mengatakan, pemerintah masih melakukan sosialisi pemberhentian penggunaan cianida dan merkuri. Pemerintah juga telah melakukan peneteriban penggunaan alat pengelolaan emas berupa tromol dan lainnya yang menggunakan dua zat kimia tersebut.

Sementara ini, kata bupati, mereka sedang membuat teknologi baru guna menyaring bahan kimia berbahaya agar tidak menyebar di kabupaten Buru. “Sosialisasi terus kita lakukan termasuk penertiban penggunaan zat kimia. Untuk pemulihan kondisi alam yang tercemar, pemerintah akan menerapkan teknologi baru,” kata Umasugy.

Soal bebasnya perdagangan cianida dan merkuri, kepala dinas perindustrian dan perdagangan Buru, Achmad Marzuki Padang mengaku, tidak dapat berbuat banyak karena sudah berkoordinasi dengan kepolisian. “Penindakan kan ada di kepolisian. Kita sudah koordinasi,” kata Padang.(CR8)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!