Memilih Bertani, Dari Penambang Dadakan – Ambon Ekspres
Trending

Memilih Bertani, Dari Penambang Dadakan

Pujo Sukarta telah mengabdikan hampir separuh hidupnya untuk bertani padi. Di usia 45 tahun, dia masih berkeras dan tetap menantang panasnya terik matahari diatas pematang sawah, demi menghidupi keluarga serta menyediakan beras untuk bahan pokok orang lain.

Keikhlasan dalam menjalani pekerjaannya membuatnya merasa bertani adalah hobi. Di Waekasar, Kecamatan Waeapo, Kabupaten Buru,  dia bersama isterinya, Made Sugata menggarap sepetak lahan yang luasnya kurang lebih 25 are.

ujo, anak salah satu mantan tahanan Tapol yang diasingkan ke Kabupaten Buru. Dia keturunan Jawa. Namun, hampir tidak pernah pulang ke kampung halaman orang tuanya di Solo. Bahasa Jawa masih dipakainya, disamping bahasa Ambon. Pujo memiliki empat orang anak itu hanya tahu soal Kabupaten Buru.

Diantara empat anaknya, ada yang juga ikut bertani. Salah satunya, Puji. Berbeda dengan ayahnya, Puji tak ingin melupakan kampong leluhurnya. Karena itu, cucu Pujo, dari Puji disekolahkan ke Solo.

Pujo mulai bertani pada tahun 1989 mengikuti jejak ayahnya yang seorang petani juga. Semuanya berawal dari nol. Sebelum memiliki tanah garapan sendiri, Pujo bekerja dengan menggarap sawah milik orang lain. Sedikit demi sedikit, walaupun hanya berbekal pendidikan SMP, pengalamanlah yang membuatnya dia mengerti cara bertanam yang baik.

Beberapa masa-masa sulit pernah dialami, seperti kurang suburnya tanah, kurangnya pengairan dan yang paling buruk saat hujan panjang mendera hingga banjir. Padi gagal panen, karena busuk terendam air. Selain menanggung kerugian bibit, dia juga harus menanggung seluruh harga pupuk.

Sejak saat itu, Pujo mulai bertekad untuk membeli sepetak tanah dan menggarapnya sendiri. Dari situlah Pujo mulai memperbaiki perekonomian keluarganya karena bisa mendapat keuntungan lebih besar, jika dibandingkan dengan menggarap tanah orang yang harus berbagi keuntungan 50 persen dengan pemilik tanah.

Sawah seluas 25 are yang telah dibelinya digunakan untuk tanaman padi. Konsep yang telah dipelajarinya turun-temurun diterapkannya untuk mendukung pengairan sawah miliknya. Salah satu cara yang dipelajarinya dahulu, adalah teknik Subak. Subak adalah solusi penting untuk membagi rata pasokan air, sehingga semua sawah lain mendapatkan pengairan.

Penerapan sistem irigasi subak, menyebabkan musim tanam padi dan palawija teratur berselang-seling pada setiap sawah-sawah. Ini akan sangat membantu menjaga kesuburan tanah, mencegah serangan hama, dan konsentrasi pestisida yang berlebihan.

Pujo memiliki 2 orang tenaga bantu yang siap membantunya saat musim tanam, dan musim panen tiba dengan bayaran yang cukup murah dan bisa dijangkau oleh dirinya. Namun, beberapa tahun terakhir setelah adanya pertambangan ilegal di Kabupaten Buru, Pujo menjadi bingung.

Tenaga bantu yang tadinya masih bisa dibayar dengan harga yang relatif murah, kini sudah tidak bisa lagi. Untuk tenaga bantu saat ini paling murah dibayar Rp 2 juta rupiah. Karena tidak mampu lagi membayar tenaga bantu, Pujo akhirnya memilih untuk melakukan semua aktivitas sendiri.

Pujo sempat nyaris terpengaruh dengan suasana Kabupaten Buru saat itu. Banyak petani beralih profesi menjadi penambang. Aktivitas pertanian sepi, produksi menurun ditambah dengan adanya isu yang mengatakan, seluruh beras di Kabupaten Buru terindikasi tercemar dengan bahan kimia dari lokasi pertambangan ilegal.

Hal itu sempat membuat Pujo morat marit, antara memilih harus meninggalkan profesi yang digelutinya bertahun-tahun dan mengikuti rekan-rekan seprofesinya menjadi penambang dadakan. Memilih antara keduanya itu sempat membuatnya tidak beraktivitas selama dua hari.

Namun setelah melihat keempat anaknya yang membutuhkan sumber penghidupan, Pujo memilih untuk tetap bertani walau dalam keadaan semraut seperti tiga tahun yang lalu.
Pilihan Pujo tidak salah, rekan-rekannya yang sesama petani kembali dari profesinya sebagai penambang dadakan menjadi petani lagi saat beberapa peristiwa yang terjadi di lokasi pertambangan. Pujo kembali menjalani aktivitas sebagai petani padi.

Berbagai kendala kian mendera. Pujo dan kawan-kawannya harus menghadapi kondisi dimana beras yang diproduksi dibeli murah oleh tengkulak, karena adanya berbagai isu yang mengakibatkan banyak beras yang tidak laku.

Keadaan itu berlangsung selama kurang lebih satu bulan lamanya setelah pemerintah mulai memperhatikan keluhan petani. Perlahan-lahan kondisi pertanian di Kabupaten Buru ini mulai membaik ditambah dengan kunjungan menteri Pertanian, dan presiden RI beberapa waktu lalu itu.

Semakin sabar menghadapi keadaan, Pujo yang langsung bisa mempelajari beberapa kegagalan melalui pengalaman khususnya soal pengairan. Pujo juga tidak mengenal dengan istilah el nino atau kemarau panjang, yang diketahuinya hanyalah musim kemarau panjang yang melanda Kabupaten Buru saat ini mengharuskannya untuk menerapkan yang sudah dipelajarinya, yaitu memprediksi waktu tanam agar pertaniannya tidak mengalami gagal panen.

Pujo mengatasi kondisi kekeringan dengan membuat lubang-lubang kecil berdiameter 10 cm di sekitar tanaman padi. Sehingga dapat menyimpan air untuk tanaman padinya, mengingat pengairan yang berlebihan bisa membuat tanaman padi membusuk seperti pengalaman sebelumnya. Dan pasokan air, tidak mungkin untuk Pujo sendiri, karena masih banyak sawah milik petani lain yang membutuhkan pengairan juga.

Pujo juga mempelajari berbagai macam teknik pertanian dari para pendamping lapangan, salah satunya teknik penanaman padi Salibu, yang sudah sukses di panen beberapa waktu lalu. Pujo mulai mengadopsi pelajaran itu dan ingin memulainya di lahan miliknya.

Pujo tertarik dengan teknik Padi Salibu, selain irit karena penanaman dilakukan hanya satu kali namun panen dilakukan selama dua kali serta produksi padinya juga bagus.

Kepala dinas pertanian Kabupaten Buru, Ir Wara yang diwawancarai via telepon seluler juga mengatakan, petani di Kabupaten Buru mulai menunjukan hasil yang baik dari waktu ke waktu. Para petani juga tidak berkeberatan mempelajari berbagai inovasi dan teknik-teknik baru dalam pertanian dan tidak berkeberatan menerapkannya di Kabupaten Buru.

Hasilnya, banyak teknik baru yang diterapkan, seperti Padi Salibu, padi Hybrida N5 juga berhasil dan produksinya memuaskan.

Wara juga mengatakan, Pemerintah Kabupaten Buru akan terus membantu meningkatkan pertanian di Kabupaten Buru, selain karena Program Kabupaten Buru lumbung pangan namun lebih diutamakan pada kesejahteraan masyarakat Kabupaten Buru sendiri. (CR8)

Most Popular

To Top