Mesin Pembunuh Baru di Buru – Ambon Ekspres
Trending

Mesin Pembunuh Baru di Buru

Kapendam: Tak ada TNI di Gunung Botak

AMBON, AE— Masyarakat Buru, benar-benar terancam kematian. Setelah tromol dan tong mulai tak digunakan, sekarang para penambang langsung menggunakan wadah alam untuk mengolah emas menggunakan cianida dan merkuri yang mematikan itu.

Penelusuran Ambon Ekspres di lokasi tambang Gunung Botak, aktivitas penambangan ilegal masih ramai dilakukan. Bahkan berbagai aktivitas yang mengandung bahan berbahaya semakin berani ditampakan. Sebelumnya, penambang dan pengusaha emas masih menggunakan mesin pengolahan emas tromol dan tong.

Setelah itu, pengusaha emas yang rata-rata merupakan warga luar Kabupaten Buru itu kembali menggunakan mesin Dompeng yang cukup berbahaya karena semprotan air dengan menggunakan mesin berkapasitas besar terbukti merusak dan melunturkan struktur tanah atau gunung yang dulunya sangat tinggi.

Kini, para pengusaha yang membandel itu menggunakan sistem rendaman yang menggunakan bahan berbahaya lebih banyak lagi, dan secara terbuka dilakukan di sepanjang lokasi tambang.

Tampak banyak ratusan rendaman yang ada di lokasi tambang. Tidak cukup dengan mesin yang berpotensi membunuh flora dan fauna di lokasi tambang ilegal itu, kini rendaman yang terang-terangan bahan berbahaya bertebaran dimana-mana yang berpotensi dihirup dan hinggap di makanan yang akan di konsumsi manusia.

Para pengusaha emas itu tidak pernah menghiraukan dampak yang akan terjadi. Aktivitas ini berjalan bebas. Tidak ada larangan dari pemerintah maupun polisi. Akibat penggunaan cianida dan merkuri, kini hampir semua sungai sudah tercemari.

Pengamat lingkungan Universitas Pattimura (Unpatti) Adrian Bandjar mengatakan, pencemaran lingkungan akibat mercuri di sekitar lokasi tambang emas sudah di atas ambang batas. Dan itu menjadi ancaman bagi masyarakat di sana.

Mercury yang merupakan limbah pengolahan emas itu berproses, mulai masuk dalam air dalam bentuk mercuri anorganik. Setelah itu dalam proses alam, dia berubah menjadi mitil organik yang bila masuk ke dalam tubuh manusia akan sulit untuk keluar lagi. Dan cepat atau lambat akan berakibat pada kematian.

Mercuri yang dimakan ikan berukuran kecil, kemudian ikan kecil dimakan oleh ikan sedang dan seterusnya sampai di makan ikan yang paling besar, dengan kadar marcuri sangat tinggi. Dan bila ikan itu dikonsumsi oleh manusia bisa menyebabkan proses kematian dan pengrusakan jaringan saraf.

“Jadi proses masuknya ke tubuh manusia melalui makanan. Kita makan ikan, makan siput, kan sudah ada akumulasi disitu. Dan ini yang sedang terjadi di sana sekarang. Memang belum bisa berubah menjadi mitil mercuri tadi, tapi proses kearah itu sedang terjadi,” katanya.

Berapa lama dampak masuknya mercuri ke dalam tubuh manusia itu berubah menjadi mitil mercuri dan dapat dirasakan, Bandjar mengatakan tergantung bahan kimia di dalam air, tempat mercuri mencemari lingkungan tersebut.

“Itu kan lewat sungai, disitu kan banyak bahan organik, di teluk Kayeli, di situ sangat berbahaya, terutama di makan oleh predator-predator besar, ikan Tuna, dan Ikan cakalang. Jadi, ini bukan saja berdampak pada kesehatan manusia tapi juga bisa mempengaruhi nilai impor ikan kita,” katanya.

Karena itu, lanjut Pembantu Rektor III Unpatti ini pemerintah daerah sudah harus menutup Gunung Botak dari aktivitas penambang emas yang tidak tertib, seperti yang terjadi selama ini. Pemda jangan lagi menunda-nunda rencana penertiban hingga pentupan lokasi gunung Botak, sebab semakin hari dibiarkan, kian memperbesar potensi kerugian bagi lingkungan dan masyarakat di sana.

“Karena yang jadi korban nanti masyarakat di sana. Yang dapat manfaat adalah pendatang, tapi yang merasakan dampaknya adalah masyarakat di sana,” ingatnya.
TNI Ditarik

Kepala Penerangan Kodam XVI/Pattimura Kolonel Arh. Hasyim Lalhakim, yang dihubungi koran ini siang kemarin, mengaku hingga saat ini, tidak ada lagi personil TNI yang ditugaskan mengamankan lokasi tambang illegal itu.

“Sudah tidak ada lagi anggota disana (Gunung Botak red). Sudah lama anggota itu kami tarik,”katanya.

Menurut dia, penarikan anggota TNI, dari kawasan tambang tersebut, karena pemerintah kabupaten tidak lagi meminta pengamanan dari pihak TNI sendiri. “kami akang berikan anggota untuk mengamankan lokasi Gunung Botak, jika ada permintaan pengaman dari pemerintah. Jika tidak ada, otomatis tidak kami libatkan,” terangnya.

Sementara itu, komandan kodim 1506 Namlea, Letnan Kolonel Inf. Faizal Rizal mengatakan, penarikan seluruh personil TNI, dari lokasi tambang tersebut, setelah pangdam XVI/Pattimura Mayjen TNI Doni Munardo menjabat.

“Sejak Pangdam baru, dan saya jadi dandim. Beliau perintahkan untuk menarik seluruh anggota dari lokasi tambang jika tidak lagi dibutuhkan oleh pemerintah. Apalagi hal itu demi menjaga nama baik TNI, sehingga tidak salah diartikan,” jelasnya.

Dikatakan, tugas TNI saat ini hanyalah membantu pemerintah untuk menurunkan para penambang liar yang sampai saat ini masih saja beroperasi di kawasan lokasi tambang tersebut. “Kami membantu pemerintah untuk mensosialisasikan surat pak gubernur untuk mengosongkan lokasi tambang itu.

Tetapi untuk pengamanan itu sudah tidak ada lagi. Kami akan berikan waktu samapi tanggal 13 untuk segera mengkosongkan lokasi tambang. Dan jika sampai tanggal 14 nanti masih saja ada penambang, akan kami tindak tegas,” tutur mantan Danyon 731/Kabaressi itu.

Rizal mengaku, pihaknya kini membantu pemerintah untuk memulangkan para penambang, yang sementara turun dari lokasi tambang. “kami akan membantu untuk memulangkan para penambang itu dari lokasi hingga ke daerah asal mereka. Semuanya sudah berjalan aman,” tandasnya. (CR8/AHA)

Most Popular

To Top