Menakar Kandidat Independen Wali Kota Ambon – Ambon Ekspres
Trending

Menakar Kandidat Independen Wali Kota Ambon

Sebagai warga kota Ambon yang lahir, tumbuh, dan berkembang dalam didikan lembaga lokal hingga Sarjana bahkan hampir dipastikan ketika berpulang, akan dikebumikan di kota tercinta ini, penulis sering kali bertanya dalam hati, sumbangsih apa yang patut dipersembahkan kepada ibu pertiwi agar kelak bisa dikenang sebagai warga yang baik.

Yang tahu berterimakasih pada kota, dimana kita semua telah diberi kesempatan untuk bernaung dan dimanusiakan.

Ketika timbul pemikiran untuk mengabdi, terbayang pasti akan banyak bermunculan pro dan kontra serta komentar bernada miring bahkan mungkin saja dalam nada sinis ketika membaca tulisan ini.

karena mana mungkin orang pada posisi awam atau belia dibelantara politik, berani memasuki arus politik yang suasananya begitu panas, penuh intrik alias banyak siasat.

Dalam hal ini saya berpandangan, politik itu tidak selamanya harus kotor, malah sebaliknya politik bisa dijadikan saluran untuk penegakkan keadilan dan kebenaran, ketika kita berani membuat perubahan berbekal kapasitas yang memadai.

Polemik atau gesekan diseputaran kepemimpinan Basuki Tjahayapurnama atau Ahok di DKI adalah cerminan bahwa negeri ini memang lagi membutuhkan pemimpin ideal yang dapat mengemban misi paternalistik bangsa.

Untuk urusan belia atau berpengalaman, ada baiknya kita belajar sedikit dari apa yang pernah dialami mantan Presiden kita BJ Habibie seperti dituturkan dalam bukunya, detik-detik yang menentukan.

“Ketika hari pertama pasca penyerahan kekuasaan dari Soeharto kepada Saya, sejujurnya harus diakui saya dalam posisi kebingungan,jurus apa yang pantas dikonkritkan untuk mengatasi krisis multi dimensi bangsa dampak tuntutan reformasi agar bangsa ini tidak terperosok kejurang disintegrasi.

Mayoritas rakyat pada berlaku nekat bagai tahanan yang baru lepas paksa dari balik jeruji, merayakan euphoria kebebasannya yang relatif tanpa kendali. Dalam keputusasaan sekonyong-konyong mengalirrahmat-Nya setelah saya selesai sholat memohon petunjuk.

Muncul pemikiran agar segera membuka buku “teory chaos dalam rancangan ilmu pesawat”.
Sungguh takjub karena ternyata saya langsung mendapat inspirasi yang relevan dengan pemecahan masalah.

Penggalan pengalaman ini dengan tegas memberi pesan kuat bagi kita semua bahwa apapun dasar keahlian seseorang, selalu ada relevansi dalam pemecahan berbagai masalah ketika integritas berupa niat yang tulus berkolaborasi dengan kompetensi berupa pengetahuan atau keahlian yang mengakar.

Bagi saya, walaupun tetap harus kalah diakhir kesempatan sebagai kontestan atau lawan tanding, setidaknya sudah merupakan hal yang membesarkan hati, karena target minimalnya tercapai berupa pencerahan hasil dari adu debat masing-masing pihak.

DR. Miles Munrou dalam karyanya, kekuatan Karakter Dalam Kepemimpinan, mengatakan, “Didalam suatu organisasi dimana nilai-nilai positif tidak disampaikan, diulang atau didemonstrasikan maka akan berkembang nilai-nilai negatif diantara sesama anggota sebagai alat pribadi untuk bisa bertahan dan atau berkembang.

Orang-orang akan mengambil kesempatan atau keuntungan dari persaingan yang ada, dan tidak lagi menggunakan bakatnya untuk kepentingan seluruh komunitas. ”Tetapi tentu saja targetnya harus menang agar apa yang menjadi visi dan misi kita, dapat dijawantakan secara murni dan konsekwen.

Kota Ambon dalam kedudukannya sebagai ibu kota Provinsi Maluku, secara moral bertanggung jawab sebagai barometer bahkan lokomotif bagi pengentasan keterbelakangan di Maluku.

Apalagi predikat Maluku kini dikenal sebagai daerah termiskin nomor empat se-Indonesia serta terbelakang dari sisi pendidikan cermin buruknya UKG ( Uji Kompetensi Guru ). Suatu potret keprihatinan dimana politik seringkali dihalalkan dengan merusak struktur para pengabdi melalui tekanan atau intimidasi.

Rentanya usia kota Ambon yang ke 440 sangat kontras atau tidak sebanding dengan kemajuannya, tidak lepas dari dua peristiwa besar yang pernah mendera kota ini. Pertama soal sejarah panjang penjajahan bangsa Portugis dan Belanda yang menghasilkan generasi Amtenar.

Generasi yang sengaja diciptakan untuk kepentingan politik para penjajah saat itu dalam hal dukungan untuk menguasai rempah-rempah. Generasi Amtenar dididik oleh penjajah sehingga menganggap profesi diluar pegawai Pemerintahan sebagai tidak bergengsi atau malah dicap rendahan. Sehingga mereka pada berjubel disana sebagai PNS.

Akibatnya timbul kekurang pekaan dari sisi perekonomian riil atau ekonomi mikro yang tentu saja sangat berdampak besar bagi tingkat kesejaterahan rakyatnya. Karena mental Amtenar dididik untuk selalu ingin disamakan dengan kaum priyayi, yang condong minta dilayani ketimbang melayani.

Peristiwa kedua, adalah konflik sosial 1999 yang membuat kota ini mengalami kemunduran selama beberapa dekade. Untuk mengejar ketertinggalan demikian, kita butuh pemimpin yang representatif dan responsif dalam menata kota ini kedepan.

Orang lantas bertanya, motivasi apa yang membuat seseorang ingin menjadi pemimpin? Mayoritas mengatakan demi perubahan yang lebih baik. Apakah Kepemimpinan sekarang dirasa belum baik? Cukup baik tetapi harus lebih baik lagi untuk mengimbangi lajunya kompleksitas masalah.

Dalam kapasitas apa seseorang percaya diri mencalonkan diri jadi Pemimpin? Karena merasa punya kapasitas mumpuni berupa kompetensi dan integritas memadai disamping tentu saja leadership sebagai pemimpin dalam wujud soft competens.

Sebagai warga kota dengan profesi analis memecahkan berbagai masalah keteknikan selama lebih dari 30 tahun khususnya di bidang perkapalan dan kelistrikan. Rutin menulis berbagai topik generalis yang isinya dominan mengkritisi penguasa sejak tahun 2007 hingga menghasilkan artikel sebanyak kurang lebih 70 judul.

Beberapa topik atau isi artikel bahkan entah kebetulan atau tidak telah menjadi rujukan nasional, semisal lelang jabatan serta lelang elektronik berbasis bank data demi penyeragaman harga barang di seluruh Indonesia.

Berbekal pengalaman, pendidikan formal serta talenta sebagai seorang pemikir, penulis merasa terpanggil plus berkewajiban untuk ikut berkompetisi, mendorong lahirnya pemimpin kompetitif bagi kemasyalahatan rakyat banyak, wujud nyata sikap bela negara setiap warga bangsa.

Timbul pertanyaan, apakah pemimpin itu lahir karena ditakdirkan? Jawabannya dengan sangat tegas “tidak”. Pemimpin bisa dibentuk tetapi umumnya lahir alamiah, berproses panjang dalam perjalanan hidupnya serta akan muncul dengan sendirinya sesuai tuntutan zaman atau kebutuhan bangsanya.

Akan lahir sesuai potensi seperti apa yang diungkapkan Orison Sweet Marden bahwa, “Didalam diri setiap manusia, tinggallah kuasa-kuasa raksasa yang diam, kuasa-kuasa mencengangkan yang tidak disangka selama ini ia miliki. Kuasa-kuasa yang akan merevolusi kehidupannya jika saja dapat dijabarkan serta dilaksanakan dialam tindakan”.

Kuasa raksasa itu akan semakin nyata untuk diwujudkan ketika kita mengikuti apa yang di nasehatkan Bung Karno tentang, “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit karena ketika kamu jatuh, kamu masih tersangkut diantara bintang-bintang”.

Khofifah Indar Parawansa adalah buktinya ketika gagal memenangkan Gubernur Jawa Timur malah akhirnya diganjar menjadi seorang menteri.

Kita memang butuh pemimpin visioner, yang mampu membaca tanda-tanda zaman sesuai tuntutan atau kebutuhan rakyatnya. Di masa lalu orang bisa hidup layak sebagai seorang pengusaha jika karakternya rajin atau tekun. Di zaman sekarang yang serba kompetisi, kerja keras saja tidak cukup, harus disertai kerja cerdas agar bisa layak.

Demikian juga pemimpin, zaman sekarang Kita tidak bisa mengakomodir karakter pemimpin yang pandai beretorika tetapi miskin realisasi. Ciri khas pemimpin yang malas menyerap kompetensi lingkungan sehingga relatif dalam tanda kutip sering diakalin bawahannya.

Atau justeru datang membawa frustrasi bagi birokrasi karena kerjanya otoriter tanpa dasar perintah yang kuat. Karakter pembangunan juga tidak bisa asal-asalan atau coba-coba yang serba copy paste, tetapi harus kaya multiplier effect atau efek berantai yang berwawasan lingkungan.

Setiap warga negara yang merasa mampu mempunyai kewajiban dalam misi bela Negara, dengan berani maju mengambil posisi pemimpin tanpa keharusan berpengalaman atau tidak dalam dunia politik.

Karena sesuai perintah hadits dan kitab suci bahwa berdosalah kamu yang mengetahui kebatilan, bisa memperbaikinya tetapi tidak melakukannya atau tidak berusaha mencegahnya, karena dengan demikian kamu turut bersama-sama mereka melakukan kejahatan tersebut.

Partai Perindo memang akan mengusung calon walikota Ambon 2017 dari jalur independen, tetapi figurnya sendiri akan dimunculkan pada saatnya berdasarkan elektabilitas. Para kandidat diharapkan bermunculan sebanyaknya untuk bekerja keras merebut simpati rakyat.

Partai Perindo juga mengundang partai politik lain untuk bisa saling bersinergi, bahu membahu memunculkan putera-puteri terbaik bangsa agar kedepan kota ini bisa lebih maju dan lebih bermartabat lagi.

Semoga melalui perenungan bersama dalam suasana hari Pahlawan 10 november, dapat menstimulus kita semua untuk bekerja “cerdas dan sekerasnya ”melahirkan pahlawan-pahlawan pembangunan, dengan memberdayakan potensi bangsa sesuai bakat dan kemampuan masing-masing. Syarat utama nya adalah bagaimana memunculkan pemimpin tepat yang berani membawa perubahan demi kemasyalahatan bersama. (*)

Most Popular

To Top