Pikal Ditembak, Lalu Dibom – Ambon Ekspres
Trending

Pikal Ditembak, Lalu Dibom

AMBON,AE— Berulangkali pembunuhan terjadi di perbatasan Mamala-Morela, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Berulangkali pula polisi tidak pernah berhasil mengungkap siapa pelaku pembunuhan.

Pembunuhan dilakukan selalu dengan cara-cara sadis, namun polisi juga tak pernah bisa menuntaskan kasusnya.

Proses damai antar dua desa itu selalu dilakukan, namun langkah itu sering tak seiring dengan penegakan hukum terhadap pelaku-pelaku pembunuhan maupun tindak kekerasaan. Dari data Ambon Ekspres, hanya satu pelaku pembacokan warga Mamala yang hingga kini sudah menjalani proses hukum.

Dua hari lalu, kembali insiden pembunuhan terjadi. Ini juga dilakukan dengan cara sadis. Laporan pihak kepolisian menyebutkan, Abdul Karim Pikal (51) bukan ditebas, tapi ditembak dan di bom. Luka robek pada dada dan perut diduga terkena serpihan bom.

“Korban (Abdul Karim Pikal-red) ditemukan tewas dengan luka di bagian dada dan perut. Diduga terkena serpihan bom. Dan ada luka tembak di bagian tubuh yang lain,” kata Kapolres Pulau Ambon dan Pp Lease, Ajun komisaris Besar polisi Komaruz Zaman, kepada koran ini, di mapolres Ambon, Senin siang kemarin.

Dari identifikasi tim Satreskrim Polres dan Polsek, yang dibantu penyidik Direskrimum Polda Maluku, Pikal lebih awal ditembak, sebelum di bom. Dari tiga saksi yang diperiksa, mereka mendengar ada sejumlah bunyi tembakan, selang beberapa menit terdengar bunyi dentuman bom.

“Saksi Saat itu bersama korban. Beberapa saat kemudian, saksi tidak melihat korban lagi. Saksi kemudian turun ke kampung untuk melaporkan ke pos pengaman. Setelah menerima laporan itu aparat kemudian naik untuk melakukan penyisiran. Hasilnya ditemukan korban dengan sejumlah luka itu,” jelasnya.

Setelah dievakuasi, keluarga korban tidak mau untuk korban diotopsi. Hanya saja lanjut Zaman, pihaknya melakukan pemeriksaan dari fisik korban. “Korban sudah kami serahkan ke keluarga.

Dan saat kami minta untuk di otopsi keluarga menolak, sehingga penyidik hanya melakukan pemeriksaan secara fisik saja. Dan itulah yang telah kami temukan,” kata kapolres.

Tim dari polisi sudah melakukan olah TKP dan mencari bukti tambahan lainnya. Situasi dan kondisi keamanan diperbatasan kedua desa aman terkendali. namun pengamanan masih terus dilakukan guna mengantisipasi kemungkinan terganggunya stabilitas keamanan di perbatasan kedua desa.

“Pernyidik masih terus melakukan penyelidikan termasuk mencari selongsong peluru, kemudian serpihan bom. kalaupun serpihan bom sudah ditemukan, kita juga perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan jenis bom dan peluru dipakai pelaku.

Polisi ada sebanyak 40 personil, ditambah dengan satgas BKO kabaressi dari TNI, Ditsabhara, dan Brimob,”terangnya.

Terkait kasus-kasus sebelumnya, Orang nomor satu di Mapolres Ambon ini, menegaskan tak hanya kasus pembunuhan Pikal yang menjadi prioritas utama, polisi juga berupaya mengungkap pelaku maupun aktor utama dibalik rentetan peristiwa pembunuhan di kedua desa bertetangga itu.

“Kasus yang lama-lama mulai dari 3 tahun terakhir maupaun beberapa tahun, akan kita upayakan untuk mengungkap. Jadi tidak ada kata tutup maupun tidak mengungkap kasus yang pernah terjadi,” terangnya.

Pengungkapan kasus-kasus pembunuhan yang lama, masih dilakukan, namun polisi terhambat dengan minimnya saksi. “Kendala kami itu disaksi. Kebanyakan saksi yang kita periksa tidak mengarah ke pelaku. kemudian juga warga tertutup.

Itulah yang membuat kasus-kasu ini belum ditemukan titik terangnya. Seandainya saksi itu kuat, maka sudah jelas kasus-kasus ini akan kami selesaikan sesuai dengan hukum yang berlaku,”cetusnya.

Disinggung soal penggunaan senjata api, pria dengan dua melati dipundaknya ini menambahkan, akan melakukan sosialisasi untuk meminta masyarakat menyerahkan senjata api.

Sebelumnya, diberitakan Warga Morela, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Abdul Karim Pical alias Luky (54) ditemukan tewas, dengan luka pada leher akibat ditebas benda tajam.

Insiden ini sempat membuat tegang perbatasan Mamala dan Desa Morela. Namun ketegangan tak berlangsung lama setelah aparat keamanan, meminta warga untuk bubar.(AHA/ERM)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!