Mamala-Morela tak Pernah Tuntas – Ambon Ekspres
Trending

Mamala-Morela tak Pernah Tuntas

AMBON,AE— Konflik antara masyarakat Mamala dan Morela, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, yang cenderung berulang, menunjukkan potensi konflik masih subur dan akan meledak kapan saja, setiap ada pemicunya.

Pemerintah dinilai menutup mata dari berbagai peristiwa tersebut, sehingga akar masalah belum kunjung diselesaikan. Demikian juga aparat keamanan, tidak tegas dalam menegakkan hukum dalam setiap peristiwa.

Sebagai daerah yang rawan konflik, Mamala dan Morela seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah daerah dan aparat keamanan. Dua kekuatan negara ini harus hadir secara bersamaan.

Penyelesaian masalah tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada aparat keamanan, apalagi hanya menghentikan kekerasan. Pemerintah harus turut andil dengan menggali akar masalah, kemudian diselesaikan, disertai penguatan ketahanan sosial masyarakat.

“Mamala-Morela itu bukan persoalan baru. Hanya saja persoalan belum diselesaikan secara tuntas. Penyelesaian konflik hanya bersifat parsial, hanya menyelesaikan peristiwa yang terjadi,” kata Direktur Institut Tifa Damai Maluku, Justus Pattipawae, Selasa (10/11).

Akibatnya, setelah kekerasan dihentikan, potensi konflik masih ada. Masyarakat yang semakin kuat dalam hal solidaritas sempit karena kedekatan emosional, psikologis, dapat kembali terlibat konflik.

Berbagai kejadian di sana, menurut Pattipawae tidak berdiri sendiri. Kejadian itu merupakan mata rantai, dimana konflik memang cenderung berulang. Apalagi akar masalahnya tidak diselesaikan.

Selain itu, lemahnya penegakkan hukum terhadap pelaku kejahatan dari sejumlah peristiwa di sana, membuat potensi konflik semakin mengakar. Masyarakat merasa bahwa ketika ada kejadian kriminal, itu gampang saja, karena sampai di polisi, polisi tidak mampu untuk menyelesaikannya.

“Ini membuat potensi konflik sulit dihilangkan. Orang masih dapat melakukan tindakan kejahatan, dan cenderung berulang, apalagi masih ada dendam,”ungkapnya.

Masyarakat di Mamala dan masyarakat di Morela memiliki hubungan emosional. Dari sejarah asal-usul juga pasti satu. Hanya seiring waktu, seiring perkembangan, lalu terbagi menjadi dua. Ini yang mesti dimanfaatkan untuk menguatkan kembali rasa persaudaran diantara masyarakat.

Ditegaskan, pendekatan penyelesaian konflik harus paripurna, tidak bisa parsial. Jangan hanya pendekatan dengan pengerahan satuan keamanan pada saat konflik terjadi. Masih ada potensi konflik yang sewaktu-waktu dapat berbuah konflik.

Sebab, lanjut Pattipawae, ada trust (kepercayan) yang hilang antar masyarakat Mamala dan Morela. Kepercayan itu tidak terlihat lagi. Perlu dicari penyebab, lemahnya kepercayaan itu. Pemerintah harus membangun lagi ruang kepercayaan agar terbangun rasa saling percaya, saling mengakui, saling menghargai sebagai orang basudara.

“Buka ruang-ruang dialog, ruang interaksi, ruang bagi masyarakat untuk meningkatkan rasa persaudaraan diantara mereka. Ini yang belum diintervensi oleh pemerintah. Saya tidak tahu, tapi bentuk program nyata itu belum dilakukan. Bukan karena ada peristiwa lalu pemerintah seperti pemadam kebakaran,”ketusnya.

Perlu ada perhatian lebih dari pemerintah daerah dalam memberikan dukungan melalui alokasi anggaran, sebagai dukungan program untuk membangun kepercayaan diantara dua kelompok masyarakat serta mendorong pemberdayaan ekonomi, agar masyarakat tidak lagi berfikir untuk berkonflik.

Direktur Ambon Reconciliation and Mediation Center (ARMC) IAIN Ambon, Abidin Wakano mengatakan, harus ada program penguatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga dan meningkatkan stabilitas keamanan.

Pemerintah harus berupaya agar masyarakat terlindungi dari semua bentuk pemicu konflik, salah satunya minuman keras.

Untuk itu, masyarakat harus diarahkan agar terus meningkatkan kesadaran tentang pentingnya hidup dalam kedamaian. Masyarakat harus didampingi melalui berbagai upaya agar terhindar dari konflik.

“Ini masalah konflik laten, misalnya masalah batas-batas tanah, masalah identitas, mengklaim diri paling penting di antara wilayah, itu harus dihilangkan. Dan tentu juga masalah pemicu, seperti minuman keras harus mendapatkan perhatian serius.

Minuman keras, kata Wakano, itu erat kaitanya dengan mental masyarakat. Sehingga patut dibatasi. Dengan begitu, mental masyarakat, terutama pemuda tidak tercemar dengan pengaruh alkohol yang dapat membuat kondisi mental menjadi labil sehingga mudah emosi dan melakukan pelanggaran dalam bentuk kekerasan.

Disamping itu, kesadaran hukum juga harus diperkuat. Sebab, itu merupakan bagian dari dasar untuk memperkokoh ketahanan masyarakat setiap kali diperhadapkan pada kondisi yang berpotensi konflik.

“Masyarakat harus memiliki kesadaran hukum bahwa merusak, membunuh, dan membakar itu sebenarnya melanggar aturan dan menyengsarakan orang lain,”ungkapnya.
Lebih lanjut Wakano mengatakan, aparat penegak hukum harus meningkatkan kinerja, melaksanakan tugas utamanya, menjaga agar konflik tidak terjadi lagi.

Sebab, penegakkan hukum yang tegas dan tuntas akan menjadi bagian dari kekuatan untuk menyudahi konflik di di sana. “Jadi penegakan hukum kita dorong, kita berharap agar penegakan hukum tetap berjalan,” pungkasnya. (MAN)

Most Popular

To Top