Dua Ibu, Petugas Kebersihan Yang Sukses Sekolahkan Anaknya – Ambon Ekspres
Trending

Dua Ibu, Petugas Kebersihan Yang Sukses Sekolahkan Anaknya

Fajar belum menampakkan wujud. Baru pukul 05.00. Saat banyak orang masih terbuai dalam mimpi panjang, Batseba Rutasow, telah beranjak, bergegas menuju lokasi pekerjaannya. Kerjanya dibanyak titik.

Di ruang bebas. Peralatannya, hanya sapu lidi dan pengki. Dia penyapu jalan. Jalan utama di Kota Ambon. Usianya sudah setengah abad lebih 4 tahun. Dan 16 tahun sudah dia melakoni hidupnya menjadi tukang sapu jalan.

ajunya berlapis. Mengenakan celana panjang. Untuk membungkus tubuhnya dari dinginnya pagi. Pagi itu, dia sudah berada di kawasan Jalan Pattimura (depan Bank BI) hingga ke PGRI. Dia datang lebih pagi, dari biasanya.

Satu per satu sampah dedaunan dan plastik disapu bersih. Tangannya begitu cekatan mengumpulkan daun-daun kering, Kemudian dimasukan ke dalam tampat sampah yang telah disediakan.

Sesekali diusapnya keringat dengan handuk kecil yang ia lilitkan dileher. Ketika merasa capek, dia memilih berhenti sejenak untuk beristirahat. Usianya tak semudah 16 tahun lalu. Saat itu dia masih terlihat kuat. Kini usianya sudah 54 tahun. Bukan muda lagi. Dia tak sekuat dulu lagi.

Ibu Eba -biasa dia disapa-, telah menjalankan profesinya sebagai penyapu jalan, sejak tahun 1999 silam. Saat pertama kali bekerja, Kota Ambon masih dilanda konflik. “Waktu beta pertama kali kerja jadi tukang sapu jalan, itu tahun 1999. Waktu itu masih kerusuhan. Jadi beta deng ada beberapa teman itu kerja hati-hati,” ucap ibu Eba, saat saya menghampirinya.

“Dulu waktu kerusuhan itu, pas ada menyapu-manyapu, terdengar bunyi tembakan, langsung beta lari pulang ka rumah. Waktu kerusuhan itu beta tugas manyapu di depan Bank BI sampe di depan Polda,” kata dia kepada saya. Saya mencoba mengikutinya bekerja sejak pukul 05.00.

Ibu kelahiran Taniwel 1961 ini mengaku, memiliki enam orang anak. Anak tertuanya, Solman Rutasow sudah menjadi PNS di Kabupaten SBB. Anak keduanya, kini bekerja di salah satu Koperasi di kota Ambon.

Sementara anak ketiganya, tidak bekerja. Anak keempat, masih duduk di bangku kuliah. Anak kelima, hanya di rumah, sementara anak bungsunya masih di bangku SMP.

Dengan tanggungjawab yang besar, ibu Eba tetap semangat menjalankan profesi itu. Yang paling penting, asalkan anaknya dapat menyelesaikan studi.

“Yang penting par anak-anak punya masa depan saja. Sekarang kan satu masih kuliah ambil Fisika di Unpatti. Satu lagi yang bungsu masih sekolah SMP,” sambungnya.

Untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, suaminya juga ikut bekerja sebagai penyapu jalan. Namun, saat itu, suaminya tidak bekerjanya, karena sedang sakit.

Anak-anaknya bangga kedua orang tuanya mau bekerja untuk menyekolahkan mereka, meski dengan menjadi tukang sapu. “Anak-anak bangga. Karena biar orang tua kerja jadi penyapu jalan, tapi mampu biayai mereka sampai kuliah dan sudah kerja sekarang,” jawabnya.

Soal gaji, dia mengaku tak bisa menutupi kebutuhan mereka sehari-hari. Untuk menutupinya, dia terpaksa bekerja lagi. Usai menyapu jalan, dia kembali bekerja sebagai tukang cuci pakaian. “Beta dibayar perhari Rp 25 ribu. Dan dalam satu bulan ambil gaji dua kali. Walaupun tidak cukup, yah beta cari kerja lain, “ kata dia.
***
Profesi berbeda ditekuni Watima. Warga Tanah Rata, Galunggung ini bertugas untuk mencabut rumput liar, di kawasan Pattimura Park. Saat ditemui, ibu 53 tahun itu masih serius mencabuti rerumputan yang tumbuh di atas tanah yang subur.

“Saya baru kerja saja sebelum lebaran. Karena suami saya sakit Hernia, jadi saya yang gantikan suami,” kata ibu yang disapa Ima itu.

Kebutuhan ekonomi, menjadi faktor utama ibu dua anak itu mengambil profesi sebagai petugas kebersihan. Namun nasib Watima agak beruntung, karena soal gaji, pencabut rumput lebih tinggi Rp 5 ribu dari penyapu jalan.

Walaupun begitu, upahnya menjadi pencabut rumput belum juga bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Seperti Ibu Eba, Watima juga harus bekerja ekstra keras. Selain membersihkan rerumputan di taman, dia juga berdagang kelapa.

“Mau bikin bagaimana lagi, tuntutan ekonomi jadi katong harus putar otak sampe bagaimana harus cukup. Apalagi biaya anak kedua yang masih kuliah,” keluhnya.

Walaupun begitu, anak pertamanya kini telah menyelesaikan studi di salah satu universitas di Kota Ambon, dan telah bekerja di salah satu hotel di kota Ambon. “Alhamdulilah, anak yang tua sekarang sudah kerja. Sementara yang kedua masih kuliah,” tambanya.

Meski hanya sebagai seorang petugas kebersihan, namun dia dan suami mampu bekerja hingga mendirikan sebuah rumah, dikawasan Tanah Rata, Galunggung. Rumah tersebut, merupakan bagian dari jerih payah sebagai petugas kebersihan.

Perempuan asal Wakatobi, kelahiran Ambon ini juga bekerja sebagai pemulung. Sedikit-demi sedikit hasil jerih payah itu, ditabung. Kemudian membangun rumah mereka.

Kini, Eba maupun Wati, masih menjalani hari-harinya sebagai petugas kebersihan. Baik sebagai penyapu jalan, maupun sebagai pembersih rumput liar. (AFI)

Most Popular

To Top