Merkuri Dijual bebas, Pemerintah Tutup Mata – Ambon Ekspres
Trending

Merkuri Dijual bebas, Pemerintah Tutup Mata

Namlea, AE— Dua hari lagi Gunung Botak, di Kabupaten Buru, akan ditutup dari aktivitas penambangan emas. Namun, perdagangan merkuri dan cianida justeru masih terlihat ramai, dan dilakukan terbuka. Barang illegal dari pasaran illegal ini dijual sangat bebas, dan tanpa ada upaya pelarangan dari pemerintah setempat maupun polisi.

Soal penutupan Gunung Botak, juga tak diperoleh oleh penambang di areal penambangan. Beberapa penambang yang ditemui Ambon Ekspres di Gunung Botak, mengaku mengetahui adanya rencana penutupan. Namun, informasi itu didapat dari penambang lainnya, bukan melalui sosialisasi dari pemerintah maupun aparat keamanan.

Keputusan pemerintah untuk menutup Gunung Botak ini, dinilai penambang hanya informasi yang belum benar. Pasalnya, berulang kali janji areal penambangan akan ditutup, namun tak pernah direalisasikan. Karena itu, masih ribuan orang masih memilih bertahan untuk mencari emas, daripada meninggalkan lahan tersebut.

Penelusuran langsung Ambon Ekspres di Lokasi Tambang Gunung Botak, ada sebuah rumah di Unit 18, yang dialih fungsikan menjadi toko. Toko itu tak memiliki nama. Pemiliknya menjual cianida dan merkuri. Jual beli juga tidak dilakukan sembunyi-sembunyi. Laiknya toko bahan bangunan, toko ini bebas menerima pembeli darimana saja.

Harga cianida 50 kg dipatok Rp 7,8 juta. Di toko itu, rupanya tak hanya cianida dan merkuri, mereka juga menjual belikan senyawa kimia dengan bebas, seperti Karbon 50 kg seharga Rp 650 ribu, Borax 25 kg seharga Rp 600 ribu, H2O2 ukuran 35 liter seharga Rp 600 ribu, Kapur ukuran 25 kg seharga 150 ribu, Kostik ukuran 25 kg seharga Rp 600 ribu.

Hidrogen peroksida (H2O2) adalah cairan bening, agak lebih kental daripada air, yang merupakan oksidator kuat. Salah satu keunggulan Hidrogen Peroksida dibandingkan dengan oksidator yang lain adalah, sifatnya yang ramah lingkungan karena tidak meninggalkan residu yang berbahaya. Kekuatan oksidatornya pun dapat diatur sesuai dengan kebutuhan.

Menurut pekerja, yang sementara berjaga di toko tak bernama itu, barang-barang kimia itu milik Munding yang diketahui merupakan kaki tangan dari salah satu pengusaha asal Palu, Sulawesi Tengah. Pengusaha ini yang diduga memasok cianida dan merkuri.

Ironisnya, tempat jual bahan kimia berbahaya itu berada tepat di depan jalan raya, dan barang-barang tersebut dipajang layaknya toko pakaian pada umumnya. Tidak ada ijin penyaluran maupun peredaran bahan kimia berbahaya di Kabupaten Buru.

Babe, pria paruh baya asal Desa Pinrang, Sulawesi Selatan, pemilik rendaman (cara baru melepas material tanah dari emas), mengatakan berani berbisnis di Gunung Botak, asal memiliki modal besar. Soal perolehan bahan kimia tidak menjadi masalah, karena persediaannya banyak di lokasi tambang.

Senada dengan Babe, pemilik rendaman lainnya, Ibu Dewi, wanita asal Jawa Timur mengatakan, bahan kimia berbahaya bebas di peroleh di lokasi tambang asalkan ada uang. kata dia, proses rendaman membutuhkan bahan kimia agar bisa mendapatkan hasil logam mulia dengan kadar yang jauh lebih baik.

Keduanya, mengaku gampang mendapat bahan kimia berbahaya dari pada mendapatkan lahan untuk menjalankan rendaman mereka. Pasalnya, mereka harus menyewa lahan dari ahli waris, dengan harga Rp 5 juta setiap bulan untuk lahan ukuran 3 kali 6. Untuk ukuran berbeda, harganya juga berbeda.

Pantauan Ambon Ekspres di Lokasi rendaman, dari wilayah Wamsait sampai ke Anhoni, ada ratusan rendaman yang berjejer. Udara dimana rendaman berada juga memiliki bau yang tidak enak dan sangat menyengat. namun para pemilik dan pekerja rendaman, mengaku sudah terbiasa dengan bau tersebut.

Banyak diantara mereka sadar bahwa udara yang dihirup berasal dari berbagai campuran bahan kimia berbahaya, namun tetap tidak mereka peduli. “Kami sudah biasa. Jadi tidak masalah lah,” kata salah satu pekerja yang ketika ditemui sedang memisahkan emas dari material tanah dengan cara rendaman, kemarin.

Terkait masih bebasnya aktivitas jual beli CN dan bahan kimia berbahaya lainnya itu, Kadis Pertambangan Kabupaten Buru, Masri mengatakan, pihaknya akan tetap mengikuti keputusan rapat yakni menertibkan semua aktivitas pertambangan di Gunung Botak. (cr8)

Most Popular

To Top