Petugas Perpustakaan Berupah Rp250 Ribu, Menunjuk Janji Pemerintah – Ambon Ekspres
Trending

Petugas Perpustakaan Berupah Rp250 Ribu, Menunjuk Janji Pemerintah

Anaknya Terpaksa Berhenti Kuliah, Karena Kurang biaya

Tak pernah putus asa, apalagi berpikir untuk meninggalkan pekerjaan sebagai petugas perpustakaan yang telah menjadi bagian hidupnya. Ibu Nel, perempuan yang bertugas mengelola perpustakaan SD Negeri 2 Galala Ambon, telah menghabiskan waktu selama 10 tahun menjaga dan merawat perpustakaan, kendati hingga kini, statusnya tidak pernah berubah sebagai seorang honorer dengan upah (biaya transport) Rp 250 ribu per bulan.

Ambon di hari Sabtu (7/11), mendung. Tak seperti biasanya, selalu panas. Membuat banyak warga berkeluh. Kata Badan Meterologi Klimatologi, dan Geofisika, Ambon dan sekitarnya terdampak badai el-nino. Badai panas. Badai ini diperkirakan bertahan sampai Februari tahun depan. karena itu, cuaca di Ambon sangat panas.

Namun, Sabtu itu terlihat mendung. Langit hitam. Tak lama kemudian turun hujan. Saya yang kebetulan sedang mengendarai sepeda motor, terpaksa menepi. Selain tak membawa mantel, juga karena hujannya cukup deras. Saya berteduh di depan halaman SD Negeri 2 Galala. Saya sempat menengok ke dalam sekolah itu. Pandangan tertuju pada sebuah papan bertuliskan perpustakaan.

Beberapa menit menatap, terlihat seorang perempuan setengah baya berpakain rapi seperti seorang guru menuju arah bangunan perpustakaan. Dia kemudian membuka pintu perpustakaan. Ibu Nel, biasa dia disapa penghuni sekolah itu. Nama panjangnya, Petronela Nanulaitta/Paliama ini. Dia petugas perpustakaan SD Negeri 2 Galala.

Saya mencoba mendekati perpustakaan itu. Saya menyapanya, dia pun membalas dengan senyum ramah. Dia kemudian mempersilakan masuk. “Selamat siang pak (wartawan-red), ada yang bisa saya bantu,” tanya wanita itu sembari berhenti dari aktivitas menyapu.

Setelah memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangan saya, dia pun mengatakan, “Bagusnya, ade (wartawan-red) menunggu kepala sekolah jua, biar beliau (kepsek-red) menjelaskan resmi soal perpustakaan ini,” kata dia menjawab maksud tujuan saya.

Sambil menunggu kedatangan kepala sekolah, saya mengajaknya berbincang-bincang. Meski diajak bicara, tangan Ibu Nel tetap melakukan aktivitas bersih-bersih di lemari buku. “Kalau saya menjaga perpustakaan sejak tahun 2006 lalu, waktu itu bangunan perpustakaan belum ada, kita masih menggunakan salah satu ruangan berukuran kecil di sudut sekolah ini,” jelas dia seraya menunjuk ke arah ruangan bekas perpustakaan.

Ibu Nel mulai menuturkan, awal kerjanya sebagai honorer petugas perpustakaan 10 tahun lalu. Waktu itu, almarhum suaminya Simon Paliama masih hidup dan bekerja sebagai pegawai di lingkungan kampus Universitas Pattimura Ambon. Sekolah itu masih dipimpin Kepsek Simon Pattiapon.

Simon kemudian mengajaknya menjadi petugas perpustakaan. Tawaran itupun langsung diterima, mengingat ibu dari tiga anak ini hanya lulusan SMA yang memang membutuhkan pekerjaan membantu suaminya menafkahi ketiga anaknya.

Ibu dari Priska Paliama, Thalita Paliama, dan Crismendo Paliama ini, kemudian memulai pekerjaan sebagai petugas perpustakaan diawal Januari 2006 dengan upah atau oleh sekolah disebut biaya transport hanya sebesar Rp.150 ribu.

Lokasi sekolah yang bertempat di Galala dengan rumahnya yang berada di kawasan Passo Kecamatan Teluk Baguala, pulang pergi menjadi rutinitas tiap hari.

Setiap harinya, dia pun harus merogoh kantongnya dalam-dalam untuk biaya transport pulang pergi sekolah sebesar Rp. 20 ribu. Apabila dikalkulasi, kerja aktif selama sebulan yakni 24 hari dengan biaya Rp.20 ribu, dia harus mengeluarkan biaya sebesar Rp. 480 ribu per bulan. Biaya transport jauh lebih besar daripada upah yang diterimanya dari sekolah.

“Memang tiap hari saya hadir di sekolah, kecuali kalau ada anak sakit atau ada ibadah unit di rumah. Kalau sudah tanggal tua, kerap saya harus berjalan kaki dari lokasi rumah menuju ke jalan raya sebelum naik angkutan umum. Sempat anak saya bertanya, mengapa setiap saat saya berjalan kaki tidak menggunakan motor,” tuturnya dengan nada yang mulai terdengar sedih.

Setahun bekerja, di tahun 2007, ibu Nel mendapatkan SK Honorer dan tercatat di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga dengan memperoleh NUPTK atau nomor unik pendidik dan tenaga kependidikan.

Bekerja dengan harapan nantinya diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil membuatnya tetap mengabdikan diri walau hanya dengan biaya transport seadanya.

Upah kecil bukan menghentikan semangat untuk bekerja, sebaliknya dia semakin giat bekerja. Aktivitas sekolah ketika di siang hari mewajibkannya tiba sekira pukul 11.30 WIT, sebaliknya apabila aktivitas sekolah di pagi hari, dia lebih awal hadir pukul 07.15 WIT mengingat SD Negeri 2 Galala menggunakan bangunan sekolah bersamaan SD Negeri 1 Galala.

Dalam perjalanan kerjanya, dia harus menerima takdir berpisah dengan suami untuk selama-lamanya. Dua tahun bekerja sebagai petugas perpustakaan, di tahun 2008, suaminya tercinta Simon Pattiapon meninggal. Kondisi inilah menjadikan dia sebagai single parents sekaligus menjadi tulang punggung keluarga.

Untungnya, almarhum suami merupakan PNS di lingkungan Kampus Unpatti Ambon sehingga masih memperoleh jatah pensiun untuk menafkahi tiga orang anak yang masih kecil.

Dirinya tidak putus asa, untuk berhenti dari pekerjaan, sebaliknya, merasakan bekerja merupakan solusi baginya untuk menafkahi keluarga sekaligus menghindari pikiran mengingat almarhum suaminya.

Ditengah cerita sedih Ibu Nel, kepsek yang ditunggu akhirnya tiba dan bergabung di ruangan perpustakaan. Sambil bercakap ala kadarnya kemudian kepsek ikut memberikan penjelasan terkait keberadaan Ibu Nel dan beberapa rekan guru yang masih berstatus honorer.

Pergantian kepsek di tahun 2012 lalu membawa angin segar, pasalnya setelah dipimpin kepsek Ny. Aksamina Pariama, SD tersebut tahun 2014 mendapatkan bantuan pembangunan 1 unit perpustakaan dari pemerintah pusat.

Kepsek juga menilai upah atau biaya transport yang diterima ibu Nel terlalu kecil sehingga dinaikan dari Rp150 ribu menjadi Rp250 ribu, kenaikan ini pun sangat dibatasi mengingat biaya transport yang diberikan didanai dari anggaran dana bos. Dimana telah ada item pekerjaan yang semuanya telah ditetapkan sesuai ketentuan yang berlaku.

Namun, kepsek berjanji, dirinya terus mendorong sebanyak 5 orang stafnya yang masih berstatus honorer di sekolah tersebut menjadi PNS. hasilnya tahun 2015, salah satu guru honorer telah dinyatakan lulus seleksi honorer kategori 2 (K2).

Tersisa ibu Nel dan tiga rekan lain. “Saya selalu berupaya perjuangkan nasib mereka, dan terus saya memberikan semangat dan motivasi bagi ibu Nel dan rekan-rekan agar tidak mudah putus asa dan percaya Tuhan pasti membuka jalan bagi mereka,” utar Kepsek Pariama yang memuji kegigihan ibu Nel.

Kepsek juga memuji kemampuan ibu Nel, wanita kelahiran Saparua 1970 itu dinilai oleh pihak sekolah memiliki kemampuan mengajar. Pasalnya, sering kali ketika tidak ada guru atau guru terlambat masuk kelas I. Ibu Nel, menyempatkan diri bergabung dengan siswa dan mengajarkan cara menulis dan memperkenalkan huruf-huruf bagi siswa.

Kembali pada cerita ibu Nel, dia pun sempat menceritakan salah satu kisah anaknya yang sulung yang memutuskan berhenti kuliah di Unpatti Ambon di saat memasuki semester III. Priska Paliama, merupakan anak tertua dari ibu Nel. Priska terpaksa membantu ibunya menyiapkan jualan di sekolah tempat ibunya bekerja guna memenuhi kebutuhan sehar-hari.

Sayangnya, dalam perjalanan kuliah dengan tuntutan biaya yang cukup mahal dan beban hidup keluarga, Priska memutuskan berhenti kuliah. “Sewaktu itu, dia (Priska-red) beberapa hari menghilang dari rumah dan tidak kuliah, saya pun mencari ke rumah teman.

Disana, ketika bertemu, anak saya langsung memeluk dan menangis. Kata dia, tidak ingin melanjutkan kuliah karena beban yang ditanggung saya terlalu besar,” kisahnya dengan nada sedih dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.

Setelah putus kuliah, kini Priska telah berangkat ke luar Maluku mencari pekerjaan guna membantu ibunya menafkahi kedua orang adiknya yang masih duduk di bangku sekolah.
Lalu mengapa ibu Nel dengan upah yang pas-pasan masih tetap bertahan mengabdikan diri selama 10 tahun dengan hanya berstatus honorer? Wanita lulusan SMA Negeri 1 Saparua itu baru diketahui pengabdian di sekolah karena kecintaan terhadap dunia pendidikan.

Terlepas dari impiannya diangkat menjadi PNS, tetapi ibu yang pernah bercita-cita kuliah sebagai guru itu sangat menyayangi anak-anaknya.

“Saya tidak pernah putus asa karena kepala sekolah selalu memberikan semangat dan petugas dinas pendidikan juga memberikan janji kami tenaga honorer tetap diangkat sebagai PNS nantinya,” pungkasnya. (***)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!