Tagop Kalah, Kalau ada Tsunami Politik – Ambon Ekspres
Trending

Tagop Kalah, Kalau ada Tsunami Politik

AMBON,AE— Peluang kemenangan pasangan Tagop Soulisa-Ayub Saleky dalam Pilkada Buru Selatan dinilai masih cukup besar. Incumbent, kekuatan birokasi dan uang menjadi indikatornya. Namun, pasangan Rivai Fatsey-Anton Lesnussa bisa menyalip peluang itu, bila terjadi blunder politik.

Direktur Eksekutif Sinergi Data Indonesia (SDI), Barkah Pattimahu saat diwawancarai via surat elektronik, Jumat (13/11) mengatakan, selama beberapa kali Pilkada di Maluku, incumbent tetap menang. Kemenangan tersebut setidaknya didukung tiga faktor, yakni kinerja, pengalaman, dan kekuatan politik parlemen.

“Dari pengalaman yang ada, kemenangan incumbent itu sangat ditentukan oleh faktor-faktor itu,” tulis Barkah.

Dalam catatannya, Barkah mengaku, incumbent senantiasa berpeluang bahkan lebih banyak menjadi pemenang. Sebut saja Pilkada Kota Ambon di tahun 2006, Pilkada Maluku Tengah di tahun 2007, dan Pilkada SBT pada tahun 2010.

Tiga Pilkada Itu dimenangkan oleh incumbent yakni MJ Papilaya di kota Ambon membuat Richard Louhenapessy harus menunggu lima tahun lagi. Di Maluku Tengah, Abdullah Tuasikal yang mengalahkan Yusuf Latuconsina dan Abdullah Vanath yang mengkandaskan Mukti Keliobas pada Pilkada SBT 2010.

“Tentu ini hanya sebuah ilustrasi tentang pilkada langsung yang menghadirkan incumbent dan penantang, dengan betapa perkasanya incumbent dalam Pilkada tersebut,” sebutnya.

Apakah Tagop merupakan incumbent yang juga berpeluang menang? Barkah mengiyakan. Indikatornya, Selain faktor popularitas, faktor lain yang utama  adalah kinerja.

“Jika pemilih mempersepsikan kinerja seorang incumbent baik maka kesempatan atau peluang menangnya besar. Tagop Soulisa dinilai memiliki kinerja yang positif diatas 70 persen. Hal ini yang membuat peluang menangnya besar,” jelas konsultan politik yang berkantor di Jakarta itu.

Selanjutnya, adalah Pengalaman. Pemilih masih menginginkan seorang pemimpin yang memiliki pengalaman. Pemilih percaya dengan pengalaman yang dimiliki, seorang incumbent yang terpilih dapat langsung bekerja bahkan sejam setelah dilantik.

“Berbeda jika penantang, yang baru mencoba serta harus mempelajari persoalan utama yang ada di tengah masyarakat dan menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja yang baru,” katanya.
Peluang ketiga, yaini dukungan politik di parlemen. Menurut dia, Tagop-Ayub telah mendapatkan setidaknya 80 persen dukungan suara DPRD dengan partai masing-masing, yakni PDI Perjuangan, PKB, Hanura, Nasdem, PPP, PAN dan Golkar. Sementara pasangan Rivai Fatsey-Anton Lesnussa hanya didukung oleh Partai Gerindra dan PKS.

“Tagop Soulisa telah mendapat 80 persen dukungan suara di parlemen. Dukungan partai ini penting, selain suara konstituen/atau pemilih partai, namun yang jauh lebih penting adalah dukungan parlemen terhadap program pembangunan yang akan dijalankan oleh seorang kepala daerah jika terpilih. Kriteria ini dimiliki oleh Tagop Soulisa dan Saleky,” paparnya.

Kendati demikian, kata Barkah, pasangan Rivai-Anton masih berpeluang mendulang suara. Hanya saja, tak bisa sebanyak Tagop-Ayup dalam posisi sebagai incumbent. “Karena, Sebagai new comers tentu belum begitu popular. Kurangnya popularitas inilah yang membuat peluang Rivai Fatsey kecil untuk menang,” ungkapnya.

Dari sisi basis suara Rivai, masih akan  sama dengan basis bapaknya, almarhum Hakim Fatsey, yakni wilayah Ambalau dan Waesama. Namun suara pada basis ini bisa saja terbelah karena ada pemilih yang memiliki pemahaman tentang tiga indikator kemenangan yang dimiliki Tagop-Anton.

Olehnya itu, prediksi Barkah, Rivai-Anton dapat menyalip kemenangan Tagop-Ayub jika terjadi blunder politik atau kesalahan fatal yang dilakukan oleh pasangan incumbent itu.”Rivai Fatsey dapat menyalip di waktu-waktu terakhir jika ada tsunami politik atau blunder politik yang dilakukan oleh Tagop Soulisa.

Namun, jika semua proses berjalan normal, maka peluang Rivai tentu kecil untuk menang dan itu artinya dengan usia yang masih muda Rivai harus menunggu momentum lima tahun kedepan,”kata Barkah tanpa menjelaskan dengan rinci maksud blunder politik tersebut.

Peluang besar kemenangan Tagop-Ayub, juga diprediksi pengamat politik Universitas Pattimura, Jen Latuconsina. Menurut Jen, Tagop masih terlalu tangguh untuk ditaklukan. “Saya lihat incumbent masih kuat di sana. Kekuatan incumbent merata. Hanya di kecamatan Ambalau dan Waesama yang tidak terlalu signifikan, karena merupakan basis Rivai-Fatsey,” kata Jen.

Peluang tersebut, jelas Jen, didukung oleh kekuatan birokrasi, uang, dan partai pengusung. Dengan kekuatan dan kewenangannya sebagai kepala daerah birokrasi, Tagop dapat dengan mudah melemahkah lawan politiknya, terutama dilingkup pemerintahan.

“Pertama, kepala-kepala dinas yang tidak sinergis dengan dia, akan dirotasi. Kemudian para pegawai level rendah sampai tertinggi di lingkup pemerintahan yang macam-macam dirotasi atau diganti. Dan saya melihat strategi itu sudah mulai dilakukan. Dia untung karena dia penguasa,” akunya.

Kemudian, lanjut Jen, dengan dana yang cukup besar, Tagop pasti memobilisasi para Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk menggarap pemilih hingga tingkat desa dan dusun. “Uang itu menjadi pelumas untuk menggerakan mesin politik dan menghimpun kekuatan di lapangan. Kalau tidak ada uang, sama saja. Nah, Tagop punya uang dan kekuatan birokrasi itu ditambah kekuatan mesin partai,”katanya.

Dia mengaku, pasangan Rivai-Anton memang memiliki keuntungan sebagai putra daerah. Namun, itu hanya sebatas uforia. Pada saat pencoblosan, politik identitas itu dikalahkan kekuatan uang. “Karena putra daerah, mereka beruforia. Tapi itu hanya sesaat dan akan hilang jelang hari pencoblosan, tergantikan dengan politik uang dan sebagainya,” urainya.

Dari sisi geo-politik, kandidat doktor itu menyatakan, basis Tagop-Ayub hampir merata diseluruh wilayah Bursel. Sedangkan basis ril Rivai-Anton hanya di kecamatan Ambalau dan Waesamu. Tapi, akan dilemahkan dengan politik uang, janji jabatan, dan sebagainya.

“Tapi perkembangan pilkada di Maluku, sudah masuk kategori pragmatis dan transaksional. Orang tidak lagi melihat kekuatan emosional maupun kultural. Calon berikan apa, Anda (pemilih) akan memberikan suara. Bukan uang saja, tapi juga jabatan dan janji sebagai pegawai negeri sipil dan sebagainya. Apakah Rivai bisa menjanjikan itu? Bukan berarti melemahkan, tapi kondisi rilnya seperti itu,” ujarnya.

Selain itu, ketokohan almarhum Hakim Fatsey belum sepenuhnya dimiliki oleh Rivai.”Dari aspek ketokohan, dia juga belum bisa menyamai ayahnya. Ayahnya kan seorang birokrasi dari kabupaten Buru dan Buru Selatan. Dan ketokohan itu didapatkan dalam waktu yang sekian lama. Sedangkan Rivai, kan berkarir di Sulawesi Selatan dan kemudian datang. Dan dia hadir sangat terlambat untuk melakukan konsolidasi,” paparnya.

Tapi, menurut dia, Tagop-Ayub punya kelemahan, yakni meremehkan peran Panitia Pengawasan Pemilu dengan tidak menyokong dana agar lembaga itu melaksanakan tugasnya secara maksimal. Hal ini bisa menjadi faktor pengganjal kemenangan Tagop, jika pilkada diulang karena panwaslu tak mau bekerja.

“Jangan sampai panwaslu tidak melakukan pengawasan secara efektif. Sehingga ketika ada kecurangan pemilu, panwaslu akan melaporkan bahwa mereka tidak akan menanda tangani berita acara dan pilkada tidak sah.

Kalau pilkada tidak sah, maka akan diulangi lagi. Apakah Tagop masih bertarung lagi setelah Pilkada dianulir. Kan tidak mungkin. Itu hanya membuang energinya. Olehnya itu, dari sisi pengawasan, pak Tagop harus mendukung penganggarannya,” pungkansya. (TAB)

Most Popular

To Top