Gunung Botak Tanpa Penambang – Ambon Ekspres
Trending

Gunung Botak Tanpa Penambang

Pengosongan Ricuh, Penambang Diusir Paksa

Namlea, AE— Setelah berulangkali gagal mengosongkan Gunung Botak, kemarin, akhirnya ladang emas di Pulau Buru itu kosong tanpa penambang. Kini areal penambang tersebut dikuasai oleh aparat TNI, polisi, dan satuan polisi pamong praja. Langkah berikutnya, pemerintah akan melakukan normalisasi lahan sekitar dengan mengangkat sedimen merkuri dan cianida.

Selasa (17/11) alat berat akan dimobilisasi ke sekitar sedimen untuk dilakukan pembersihan. Sampai kapan normalisasi lingkungan itu berlangsung, pemerintah belum menyampaikan. Pasalnya, proses pengosongan Gunung Botak, juga tanpa dihadiri Gubernur Maluku, Said Assagaff maupun Bupati Buru Ramly Umasugi.

Baik gubernur dan bupati, berencana mengunjungi Prancis pada 15 November. Apakah rencana ini jadi dilakukan, belum diketahui, setelah Negara itu dilanda aksi terror yang menewaskan 153 orang. Untuk apa kedua kepala daerah itu melancong ke Prancis, juga tak diketahui banyak orang.

Sementara, penertiban yang berlangsung Sabtu (14/11) ricuh. Pergerakan pasukan juga dilakukan tanpa koordinasi dengan polisi. TNI lebih awal bergerak. Belum ada polisi pada pukul 09.00. Massa mulai berkumpul di jalur D tambang emas Gunung Botak. Mereka datang dalam jumlah banyak. Sudah ada spanduk di tangan. Ratusan penambang ini menolak diusir dari areal penambangan.

Dihadapan massa, sudah bertumpuk aparat TNI dan satpol PP. TNI bersenjata lengkap. Massa pun beranikan diri untuk maju. Mereka sangat dekat. Aparat TNI meminta massa membubarkan diri. Massa menolak.

Terjadilah ketegangan. Di tengah ketegangan itu, terdengar letupan senjata secara berulang. Tembakan ini, disebut peringatan buat massa.

Sabtu (14/11), adalah waktu dimulainya penutupan Gunung Botak. Ini sesuai dengan rapat bersama Pemerintah kabupaten Buru dengan Muspida kabupaten Buru yang digelar pada 9 November 2015. Mereka menyepakati pengosongan lokasi tambang yang dilakukan dengan tertib oleh pihak Satuan Polisi pamong Praja, polisi dan di back up oleh TNI.

Di lapangan kondisinya berbeda. Pengosongan atau pengusiran Penambang dilakukan oleh aparat TNI Dan Sat pol PP Kabupaten Buru. Pengosongan berlangsung ricuh. Seluruh kios atau tenda biru diperintahkan untuk dibakar tanpa ada kompromi. Eksekusi dilakukan langsung oleh pihak TNI dan Sat Pol PP atas perintah Dandim 1506 Namlea.

Seluruh tenda biru dibakar. Masyarakat yang ingin mengambil gambar dan dokumentasi dari peristiwa penyisiran itu tidak selamat dari amuka aparat TNI dan Sat Pol PP. Handphone milik warga yang digunakan untuk mengambil dokumentasi juga dirusaki.

Beberapa anggota polisi tidak berseragam nyaris menjadi korban amuk aparat TNI karena mengambil gambar dan video peristiwa pemukulan penambang.

Informasi yang berhasil dihimpun, salah satu penambang yang dipukul aparat TNI terpaksa dilarikan ke rumah sakit, karena luka cukup parah. Namun informasi tersebut ditutup rapat.
Penyisiran terus dilakukan dengan membakar seluruh tenda biru dan menurunkan paksa para penambang dari lokasi tambang, serta mengusir para penambang dari tenda-tenda. Tenda lalu dibakar. Penambang tidak diam.

Teriakan protes dari penambang terhadap tindakan aparat TNI dan Sat pol PP tidak dihiraukan. Pihak kepolisian yang tiba di lokasi sekitar pukul 11.00 itu tidak bisa berbuat banyak karena melihat kondisi yang sudah porak-poranda.

Dandim 1506 Namlea, Letkol inf Faisal Rizal yang diwawancarai di balai desa Unit 18, Kecamatan Kaeali membenarkan adanya pembakaran tenda penambang. Kata dia, yang dibakar itu tenda-tenda yang sudah kosong agar tidak ada lagi penambang kembali untuk melakukan aktivitas lagi.

Dia mengaku, sebelum penertiban ada provokator yang hendak mempermainkan kondisi, namun cepat diamankan dan diserahkan ke pihak kepolisian. Penambang sudah disuruh mengemasi barang-barangnya untuk kembali ke daerah asal masing-masing melalui dermaga Namlea.

“Itu bukan pembakaran, kami sudah komitmen tentang tindakan hukum. sudah 23 kali penertiban. Agar pembersihan ini permanen dan jelas pelaksanaannya maka tenda-tenda itu dibakar agar tidak kembali lagi. Tenda-tenda harus dibakar supaya sendimen-sendimen bisa diangkat. Yang kemarin saya tongkatin itu juga salah satunya yang diamankan,” jelas Dandim.

Kata Dandim, TNI melaksanakan perintah Presiden dan gubernur. Mercuri dan bahan kimia lain langsung dibakar agar tidak dibawa kemana-mana oleh para penambang. Usai penertiban, tidak boleh lagi ada bahan kimia yang beredar di Namlea. (CR8)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!