Generasi Y Dan Kebangkitan Ketiga Partai Golkar – Ambon Ekspres
Trending

Generasi Y Dan Kebangkitan Ketiga Partai Golkar

Sebuah artikel menarik di Majalah Tempo edisi 26 Oktober-1 November 2015 menguraikan tentang peran Generasi Y dalam perkembangan zaman yang kian dinamis saat ini. Artikel tersebut menyebutkan bahwa era ini adalah era Generasi Y, yakni generasi dengan kreatifitas tinggi.

Kemampuan berimajinasi dan mengembangkan ide-ide kreatif yang dimiliki generasi tersebut umumnya lebih baik dari generasi sebelumnya. Kedatangan generasi ini harus disambut dengan langkah-langkah antisipatif agar dapat menjadi kekuatan bagi bangsa. Disebutkan bahwa kunci bagi Generasi Y untuk menghadapi persaingan kompetitif saat ini adalah mentalitas life-long-learning atau belajar sepanjang hayat.

Sebab pengetahuan begitu cepat berkembang sehingga pengetahuan yang hari ini dianggap canggih, dalam beberapa tahun mendatang bisa jadi sudah usang atau tidak relevan lagi.

Dalam satu tahun terakhir publik Indonesia disuguhi drama perseteruan di internal Partai Golkar. Sebuah partai berhaluan nasionalis, yang perannya dalam membangun demokrasi Indonesia begitu dominan selama puluhan tahun. Pasang surut perseteruan itu ikut memerosotkan nama besar partai berlambang pohon beringin ini hingga beberapa survey terakhir menempatkan popularitasnya pada titik paling mengkhawatirkan.

Hingga akhirnya dilakukanlah Forum Silarurahmi Nasional pada 1 November lalu yang mempertemukan pihak-pihak yang bertikai dengan tujuan utama mengakhiri perseteruan serta membangun kembali nama besar partai serta menyiapkannya untuk kembali mendominasi proses demokratisasi nasional.

Terlepas dari upaya hukum lanjutan yang akan ditempuh beberapa pihak pasca silaturahmi tersebut, tetapi ajang rekonsiliasi yang digagas oleh beberapa senior Partai Golkar itu seperti menemukan momentum yang tepat. Momentum itu adalah kebangkitan ketiga Partai Golkar.

Bagi saya, dalam sejarah Partai Golkar, setidaknya ada tiga gelombang kebangkitan yang menyertai perjalanan panjangnya. Kebangkitan pertama adalah pada medio 1960-an, dimana segenap elemen bangsa sedang berkutat dengan upaya-upaya untuk membendung pengaruh komunis di Indonesia.

Eskalasi perlawanan terhadap komunisme kemudian mengkristal pasca tragedi Gerakan 30 September 1965 yang digerakkan oleh Partai Komunis Indonesia. Pembentukan Sekber Golkar yang merupakan cikal bakal partai, jelas merupakan sebuah kebangkitan generasi bangsa yang sadar akan pentingnya poros baru dalam menggalang perlawanan terhadap isme yang membahayakan eksistensi negara bangsa.

Itulah kebangkitan pertama Partai Golkar sekaligus menandai kelahirannya dalam peta perpolitikan nasional. Kebangkitan kedua Partai Golkar diawali oleh gerakan reformasi 1999 yang memaksa mendiang Presiden Soeharto untuk meletakkan jabatannya. Golkar saat itu berada pada posisi yang sulit karena dituding menjadi biang kerok keterpurukan bangsa dan oleh karenanya harus dibubarkan.

Tapi Pemilu 2009 dan terutama Pemilu 2004 menjadi memontem kembalinya partai kuning dengan berada di posisi kedua dan kemudian menjadi pemenang setelahnya. Tekanan pembubaran terhadap partai perlahan surut dan inilah gelombang kebangkitan kedua Partai Golkar.

Gelombang kebangkitan ketiga diawali oleh proses pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) di Bali akhir 2014. Perpecahan yang menyeruak pasca pelaksanaan Munas tersebut makin parah ketika pemerintah ikut terlibat didalamnya dengan melegitimasi pelaksanaan Munas Ancol yang dimotori oleh kelompok yang tidak mengakui kepemimpinan Aburizal Bakrie sebagai produk Munas Bali.

Sengkarut Partai Golkar kemudian berlanjut di ranah pengadilan setelah kedua pihak masing-masing menempuh jalur hukum untuk mendapatkan pengakuan yuridis formil atas kepengurusannya.

Proses hukum yang panjang nan melelahkan mencapai klimaksnya saat Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia memutuskan bahwa Partai Golkar dibawah kepemimpinan Aburizal Bakrie merupakan kepengurusan yang sah dan oleh karenanya berhak atas pengelolaan dan kepemimpinan partai. Hingga kini, berbagai upaya komunikasi masih terus berlangsung sebagai ikhtiar untuk tetap menjaga soliditas partai pasca putusan MA.

Publikpun berharap agar perbedaan internal ini segera berakhir. Yang menarik dalam proses rekonsiliasi pihak-pihak yang bertikai di Partai Golkar adalah cara mereka mengelola perbedaan, cara mereka membangun komunikasi diantaranya serta menetapkan berbagai solusi jangka pendek guna menyiasati berbagai momen politik nasional yang ternyata justru menjadi bagian dari model untuk memperbaiki elektabilitas partai yang merosot.

Hasil survey terbaru yang dipublikasikan Harian Kompas edisi 2 November 2015 justru menempatkan Partai Golkar sebagai partai yang paling konsisten elektabilitasnya selama periode survey melebihi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) sekalipun.

Pada saat PDI-P dan Partai Gerindra, yang berada pada posisi puncak elektabiltas partai secara nasional, mengalami penurunan elektabilitas, justru Partai Golkar mampu menunjukkan gejala sebaliknya.

Dalam bulan Januari 2015, sebulan setelah perpecahan Partai Golkar, elektabiltas PDI-P melonjak tajam pada level 37,4 persen. Partai Gerindra ada di level 8,1 persen sedangkan Golkar hanya mampu meraih 7,1 persen tingkat elektabilitas. April 2015, presentase elektabilitas ketiga partai mengalami perubahan meski belum menggeser posisi ketiga partai dari komposisi sebelumnya.

PDI-P mengalami penurunan elektabilitas dengan meraih 35,9 persen. Partai Gerindra mengalami kenaikan elektabiltas dengan meraih 14,9 persen, sedangkan Partai Golkar juga mengalami kenaikan elektabiltas menjadi 9,6 persen.

Juli 2015, PDI-P meraih tingkat elektabilitas sebesar 36,0 persen, Gerindra menurun elektabilitasnya menjadi 13,2 persen dan Partai Golkar kembali mencatat kenaikan elektabilitas dengan meraih 11,0 persen.

Oktober 2015, PDIP mengalami penurunan tajam elektabilitas dengan meraih 30,9 persen, Gerindra memperoleh tingkat elektabilitas sebesar 14,7 persen sedangkan Partai Golkar mencatat kenaikan tipis tingkat elektabilitas menjadi 11,2 persen.

Konsistensi kenaikan tingkat elektabilitas Partai Golkar ini pasti bukanlah sesuatu yang kebetulan atau tiba-tiba. Hal itu mewakili tata kelola partai di mata publik dan penilaian publik atas kinerjanya.

Karena itu, terlepas dari upaya hukum yang apakah masih akan berlanjut atau dianggap selesai di tingkat putusan MA, maka penyelesaian kisruh Partai Golkar melalui mekanisme internal seperti forum Silaknas awal bulan ini harus dianggap sebagai awal dari tahapan kebangkitan Partai Golkar yang ketiga.

Kebangkitan ketiga ini penting tidak saja untuk kepentingan Partai Golkar itu sendiri tetapi juga untuk kebaikan bangsa dan negara ini. Hal ini relevan karena potensi besar yang dimiliki Partai Golkar selalu menjadikannya bak wahana yang senantiasa berada pada posisi untuk menstimulus pembangunan bangsa dan memantapkan konsolidasi demokrasi nasional dalam kondisi apapun.

Karena itu, proses kebangkitan Partai Golkar yang ketiga ini harus terus dijaga momentumnya dengan menyiagakan Generasi Y Partai Golkar. Generasi Y ini dibutuhkan bukan saja untuk melanjutkan proses kaderisasi yang selama ini dirasakan macet, tetapi yang lebih utama adalah menjadikan partai beringin sebagai partai yang paling responsif terhadap perubahan zaman dan tuntutannya dengan senantiasa membuat langkah-langkah antisipatif.

Bagi internal Partai Golkar sendiri, harus disadari bahwa eksistensi partai tidak lagi ditentukan oleh seberapa kuat partai memiliki akses terhadap kekuasaan atau terhadap sumber-sumber permodalan, meski variabel itu tak dapat diabaikan.

Eksistensi partai saat ini ditentukan oleh seberapa besar ruang yang diberikan bagi Generasi Y untuk terlibat lebih aktif dalam mengelola partai dan menentukan masa depannya. Bagi saya, Generasi Y adalah kunci kemajuan dan masa depan Partai Golkar. Apakah anda setuju..?

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!