Masalah Baru Paska GB Ditutup – Ambon Ekspres
Trending

Masalah Baru Paska GB Ditutup

Namlea, AE— Gunung Botak, sudah ditutup dari aktivitas penambangan emas. Kini TNI dan Polisi sudah menguasai penuh lahan tersebut. Masyarakat mendukung langkah pemerintah ini. Namun bagi mereka, persoalan tidak selesai dengan penutupan tambang emas saja, lingkungan di Buru perlu kembali dipulihkan.

Masyarakat berharap lingkungan di Buru kembali dipulihkan setelah terjadi pencemaran merkuri dan cianida yang sudah melebihi ambang batas, penggunaannya. Pemerintah siap melakukan pemulihan. Mereka akan mulai dari normalisasi sejumlah sungai dari sedimen-sedimen material emas yang sudah bercampur merkuri dan cianida.

Rencana normalisasi mulai dilakukan hari ini. Masyarakat berharap, pemerintah tak sekedar janji, dan tidak menjadikan Buru sebagai proyek baru lagi, setelah GB ditutup. Pasalnya, masyarakat menduga ada rencana baru di GB setelah penutupan tanggal 14 November lalu.

Imran mengatakan, semua program pemerintah asalkan demi kesejahteraan rakyat tetap mendapat dukungan apalagi persoalan tambang yang sudah sangat menyesakan warga. Namun yang harus dilakukan pemerintah, kepolisian dan TNI adalah bagaimana mencari solusi untuk mengadili orang-orang yang bertanggungjawab pada kerusakan lingkungan.

BACA JUGA:  Masalah Baru di JMP

“Sungguh ironis kan, kenapa dengan gampangnya bahan kimia berbahaya yang notabene harus memiliki ijin pengedarannya itu bebas masuk ke Kabupaten Buru tanpa ada halangan dari instansi terkait yakni pemerintah, polisi dan TNI. Sekarang tambang sudah ditutup. Yang menjadi pertanyaan siapa yang harus bertanggungjawab dengan jejak bahan kimia yang ditinggalkan di Kabupaten Buru,” tanyanya.

Senada dengan Imran, Yus Saulatu yang juga merupakan warga Kabupaten Buru mendukung langkah yang ditempuh pemerintah Buru maupun provinsi Maluku untuk menutup lokasi tambang emas ilegal yang ada di Kabupaten Buru. Pasalnya, tambang lebih banyak mencemari lingkungan dan menimbulkan instabilitas keamanan.

Dia berharap, dengan penutupan lokasi tambang GB, masyarakat dapat terhindar dari ancaman zat kimia yang berbahaya, dan tambang bisa dikelola dengan baik untuk menghasilkan PAD bagi Kabupaten Buru.

Pengelolaan tambang yang ramah lingkungan, kata Fuad Bachmid, perlu diperhatikan, jika pemerintah berkeinginan untuk membuka kembali tambang dengan deposit emas yang diduga salah satu terbesar di dunia ini. “Jangan lagi ada perusakan lingkungan,” kata dia.

BACA JUGA:  Masalah Baru di JMP

Pemerintah, kata dia, dapat melakukan penataan dan memastikan adanya pemurnian kembali lingkungan. Setelah itu, barulah bisa dikomunikasikan dengan investor agar dapat mengelola lokasi tambang dengan baik dan menghasilkan penerimaan bagi daerah.

Hal yang sama juga disampaikan Agil Harto, warga Namlea. Kata dia, kerusakan lingkungan yang diakibatkan penggunaan bahan kimia berbahaya sangat merugikan Buru. Langkah pemerintah sudah sangat tepat. Namun yang disesalkan, mengapa baru sekarang pemerintah melakukan tindakan tegas.

“Sebelumnya, informasi penutupan hanya berlangsung paling lambat 2 pekan dan setelah itu ramai kembali. Jangan sampai, penertiban yang sekarang inipun bernasib sama yakni hanya berlaku selama dua pekan juga,” kata dia mengingatkan.

Sementara itu, siapa yang bertanggungjawab untuk memulangkan penambang ke daerah masing-masing, belum jelas. Ribuan penambang kini masih bertahan dan menginap di seputaran Dermaga Namlea.

Senin (16/11), puluhan penambang mendatangi kantor Bupati Buru untuk menanyakan kejelasan kepulangan mereka. Kepala Dinas pertambangan Kabupaten Buru, Masri mengatakan, sesuai hasil rapat dengan tim terpadu, penambang akan dipulangkan ke masing-masing daerah asal dengan menggunakan kapal Fery.

BACA JUGA:  Masalah Baru di JMP

Sementara penambang yang masih ada di sekitar lokasi tambang, sudah disiapkan 10 unit mobil truk yang akan mengangkut para penambang menuju Dermaga Namlea. Proses pemulangan akan dilakukan mulai Selasa (17/11). (CR8)

Most Popular

To Top