Normalisasi Sungai Belum Dilakukan – Ambon Ekspres
Trending

Normalisasi Sungai Belum Dilakukan

Namlea, AE— Rencana normalisasi sungai dari sediment endapan hasil pengolahan emas di tambang Emas, Gunung Botak, Kabupaten Buru, belum dilaksanakan. Padahal kemarin, pemerintah berjanji akan mulai fokus pada normalisasi sungai-sungai yang terkena dampak langsung pencemaran sianida dan merkuri.

Kemarin, dari pantuan Ambon Ekspres, normalisasi sungai Anhoni, Gunung Botak, Kecamatan Kaeali, Kabupaten Buru masih dipenuhi dengan endapan hasil pengolahan emas. Tampak hanya satu buah eksavator milik orang lokal Namlea yang sementara membersihkan puing-puing bangunan sisa penambang, Rabu (18/11).

Menurut salah satu pekerja yang enggan namanya disebutkan, mereka hanya bekerja dan diperintahkan melakukan pembersihan puing-puing sisa bangunan milik penambang yang dibakar. Kata dia, eksavator yang digunakan bukan eksavator yang didatangkan dari Kota Ambon seperti janji pemerintah. Urusan lainnya, pekerja tersebut tidak mengetahui apa-apa, hanya menjalankan perintah.

Pekerjaan pembersihan tampak dikawal oleh anggota TNI dan Satuan pamong praja (Sat Pol PP) yang didatangkan dari provinsi Maluku sebanyak 12 orang. Pekerjaan pembersihan dilakukan tepat berada di seputaran pos yang sementara ditempati oleh TNI dan Sat Pol PP.

Informasi yang berhasil dihimpun dari pihak pengamanan yang ada di lokasi GB, pos pengamanan terpadu akan mulai diberlakukan. Ada 12 titik pos yang akan ditempatkan diseluruh wilayah lokasi tambang ilegal Gunung Botak.

Dalam satu pos terdiri dari 15 orang diantaranya 5 orang Polisi, 5 orang TNI, 2 orang Sat Pol PP, 1 orang adat dan 1 orang LSM.
Pos terpadu akan diberlakukan hari ini. Namun, pihak pengamanan sementara mempersiapkan lokasi mana saja yang akan dijadikan pos pengamanan terpadu.

Penelusuran Ambon Ekspres di lokasi tambang, sudah tidak ada lagi aktivitas penambangan kendati masih banyak tenda biru yang belum sempat dibongkar atau dibakar. Yang tampak hanyalah aktivitas pengangkutan barang milik para penambang oleh penambang yang akan dibawa pulang. Sebagian penambang juga masih berada di rumah-rumah warga yang ada di desa-desa dekat lokasi tambang.

Dampak lain dari pengosongan lokasi tambang Gunung Botak, seluruh penambang rela menjual semua barang milik mereka yang bisa diuangkan dengan harga yang sangat murah diantaranya, kendaraan bermotor dijual dengan harga Rp5 ratus ribu hingga satu juta rupiah.

Bahkan ada yang menjual seluruh barang seperti, mesin cuci, TV, kulkas, motor hanya seharga Rp 2 juta untuk seluruh barang agar mereka para penambang dapat pulang ke kampung halaman mereka.

Tiket gratis yang diiming-imingi pemerintah hanya diperuntuhkan bagi 175 orang. Sementara ribuan lainnya harus membayiayi diri sendiri untuk pulang ke kampung halaman masing-masing.

Soal pencemaran, sebelumnya pengamat lingkungan Universitas Pattimura (Unpatti) Yustinus T. Male mengatakan, pengosongan lokasi Gunung Botak bukan merupakan pekerjaan terakhir. Masih ada tahapan selanjutnya yang harus dilakukan. Dan itu membutuhkan komitmen semua pihak, sebab ini terkait pencemaran lingkungan yang telah terjadi dalam empat tahun terakhir.

Male mengatakan, hasil beberapa kali penelitian yang dilakukan pihaknya, diketahui bahwa lingkungan di sana sudah mengalami pencemaran yang parah. Harus ditanggapi segera dengan upaya yang nyata untuk memperkecil dampak pencemaran terhadap lingkungan dan manusia.

“Kalau untuk menutup lokasi, sehari bisa ditutup. Tapi pengobatan atau menangani masalah dampak lingkungan, butuh waktu sampai bertahun-tahun, karena dampaknya besar dan berbahaya,” kata Male.

Lingkungan di Gunung Botak dan sekitarnya baru tercemar sejak tahun 2011, tapi dampak pencemaran lingkungan akibat penggunaan merkuri dan cianida secara tidak teratur selama ini akan dirasakan oleh masyarakat hingga pada tingkat kematian, bila tidak disikapi sejak dini.

“Akibatnya akan ratusan tahun. Karena merkuri sudah mengendap di sendimen sungai dan laut. Dan itu akan terus masuk ke air,”katanya.

Untuk itu, kata Male dibutuhkan penelitian secara menyeluruh tentang pencemaran lingkungan di sana. Semua lokasi harus diteliti untuk mengetahui daerah mana saja yang telah tercemar, berikut tingkat pencemaran.

Penelitian itu, kata Male dalam rangka normalisasi lingkungan. Sebab, normalisasi yang dilakukan dengan hanya mengandalkan hasil penelitian yang tidak menyeluruh, membuat normalisasi tidak dilakukan dengan maksimal, sebab bisa saja bagian tertentu dari lingkungan di sana yang tercemar tapi luput dari normalisasi.

Pihaknya telah beberapa kali melakukan penelitian. Hasilnya, sungai Waeapo dan sungai Waelata diketahui telah tercemar merkuri pada tingkat yang parah. Namun, penelitian itu masih harus dilengkapi dengan penelitian menyeluruh, guna mengetahui kondisi semua lokasi di sana.

“Kita harus mengambil semua (sampel). Karena selama ini laporan kita itu hanya sungai. Itu pun paling jauh 500 meter dari muara. Itu belum di biota, belum di Palawija, belum di padi dan lain-lain,” ungkapnya.

Penelitian itu tidak dapat dilakukan dalam kurun waktu tertentu saja, tapi harus secara periodik, mulai dari pekan, bulan, hingga tahun, agar mendapatkan data yang kuat tentang tingkat pencemaran dan sebaran merkuri di lingkungan di sana.

“Kalau sudah penumpukan antara lima sampai 10 tahun, setiap hari mereka konsumsi ikan atau bahan lain yang sudah tercemar, itu akan menumpuk atau mekanisme homeostatis. Sekarang ini, karena belum mati, belum sakit, belum merasa jadi tidak ada masalah, rasa aman.

Tetapi kalau mulai dirasakan, minum obat pun nggak bisa, karena dia (zat racun) nggak bisa keluar. Makanya untuk melihat luas dampaknya, dibutuhkan riset untuk mengambil kesimpulan supaya nggak salah. Kita bisa tahu dampak paling parah di mana, kalau ada warga di situ, diungsikan dulu,”ujarnya. (CR8)

Most Popular

To Top