Pembakaran Sudah Diluar Areal GB – Ambon Ekspres
Trending

Pembakaran Sudah Diluar Areal GB

Aparat Keamanan Temukan Mayat Laki-Laki

Namlea, AE— Aksi pembakaran yang dilakukan aparat keamanan di areal tambang Gunung Botak, maupun diluar areal tambang masih terus terjadi.

Swiping terhadap ribuan penambang juga dilakukan aparat keamanan sampai ke kota Namlea. Emas milik para penambang juga disita tanpa tujuan jelas.

Pembakaran dilakukan terhadap kios-kios sepanjang Dusun Wamsait yang berada jauh dari lokasi tambang. Padahal, kios-kios tersebut membayar retribusi ke pemerintah Daerah Kabupaten Buru melalui Dinas Perindustrian dan perdagangan Kabupaten Buru sebesar Rp 10 ribu perhari. Karcis tersebut berlogokan Pemerintah Kabupaten Buru.

Pemilik kios, maupun warga hanya bisa menatap aksi yang dilakukan oleh aparat TNI, Satpol PP Kabupaten Buru dan dari Provinsi Maluku. Padahal, menurut warga, tempat usaha mereka tak masuk dalam lokasi tambang yang menjadi target penertiban.

Selain itu pengusiran penambang dari wilayah Kabupaten Buru masih terus dilakukan. Informasi yang berhasil dihimpun, penambang yang masih berada di penginapan atau kos-kosan yang ada di Kabupaten Buru semuanya diminta untuk meninggalkan Kabupaten Buru.

Ada mobil dengan menggunakan pengeras suara berkeliaran di wilayah Kota Namlea sambil memerintahkan para penambang untuk tinggalkan Kota Buru. Swiping atau razia dilakukan aparat keamanan di beberapa penginapan dan kos-kosan. “Kami ini kan di negara sendiri, koh bisanya diusir keluar,” kata seorang warga dengan nada lirih.

Dari Gunung Botak, kemarin, pasca penertiban lokasi tambang, 14 November lalu, aparat keamanan yang ditugaskan untuk mengamankan lokasi tambang gunung botak itu menemukan satu mayat laki-laki tanpa identitas tepat di areal tanaman sagu yang sudah kering pada lokasi Anhoni, Gunung Botak, Kamis (19/11) sekitar pukul 17.30 WIT.

Informasi penemuan mayat tanpa identitas itu dibenarkan oleh Kapolsek waeapo, Ipda Afifi. Sampai tadi malam belum bisa diketahui identitas korban, pasalnya tubuh korban sudah membusuk dan penuh dengan belatung. Diperkirakan, mayat berjenis kelamin laki-laki itu berumur kurang lebih 40 tahun dan telah meninggal selama kurang lebih 4-5 hari.

Korban kini diinapkan di Polsek Waeapo. Disinggung mengenai penyebab kematian korban, dia belum bisa memastikan. Tindakan otopsi juga tidak bisa dilakukan karena tidak ada yang melapor terkait adanya keluarga dan sanak saudara yang hilang.

Diketahui, lokasi penemuan mayat merupakan lokasi dimana ratusan rendaman beraktivitas, sebelum adanya pengosongan lokasi tambang tepatnya di kawanan tanaman pohon sagu yang sudah mengering.
Kaget

Sementara itu, Kepala Dinas Pertambangan Kabupaten Buru kaget dengan isi berita acara pada rapat 11 November 2015 lalu, point 4 yang menyatakan, bila pelaksanaan penataan lokasi penambangan di Gunung Botak terdapat material yang dapat dimanfaatkan, akan dikelola oleh PT Buana Pratama Sejahtera dan hasilnya akan dibagi juga untuk 18 koperasi sesuai dengan kesepakatan.

Diantara 18 koperasi, 5 koperasi tidak menyetujui berita acara yang mengarah ke pernyataan dukungan. Sementara 13 koperasi yang tidak mengantongi ijin IPR menyetujui pernyataan tersebut.

Kata Masri, dirinya mengetahui bahwa, PT Buana Pratama Sejahtera akan mengerjakan normalisasi sungai saja bukan pengelolaan Gunung Botak. Dia juga menegaskan, 13 koperasi yang menyetujui atau memberi dukungan itu belum memiliki IPR. “Ke 13 Koperasi itu masih sementara melakukan pengurusan IPR di Provinsi Maluku. Itu informasi yang saya dapat,”jelasnya.

Pengosongan Gunung Botak akan dilakukan selama 5 hari. Setelah pengosongan akan dibentuk 12 pos, 10 di Gunung Botak, 2 pos di Gogorea. Satu pos akan diisi oleh 15 personil diantaranya 5 polisi, 5 TNI, 2 Sat Pol PP, 2 masyarakat adat dan 1 dari LSM.

Kemudian akan dilakukan pengangkatan sedimen, penataan dan sedapat mungkin 5 koperasi yang ada IPR dan 13 koperasi lainnya yang sedang berproses akan melakukan aktivitas sesuai dengan mekanisme pertambangan.

“Itu hasil dari rapat selama ini. Kita berharap bahwa dengan pengosongan ini dan kemudian dengan mengaktifkan tidak lagi terjadi penambangan ilegal. Selama 6 bulan akan dilakukan pengamanan,”terangnya.

Terkait hal tersebut, Raja Kaeali Fuad Wael, selaku ahli waris mengatakan, pada prinsipnya, dirinya setuju dengan adanya penataan lokasi tambang Gunung botak. Namun, dia tidak menyetujui sikap pemerintah Provinsi Maluku yang dinilai tidak transparan dengan menunjuk PT Buana Pratama Sejahtera untuk mengelola lokasi Gunung Botak, termasuk pengangkatan sedimen dan normalisasi.

Dalam berita acara itu, 5 koperasi yang mengantongi IPR menyatakan menolak berita acara karena pada hakekatnya bukan merupakan berita acara melainkan pernyataan dukungan.

Untuk itu, dengan ditolaknya berita acara tersebut, Fuad mengatakan, seluruh dukungan dari 13 koperasi pertambangan itu menjadi tidak benar dan penuh manipulasi.

Dia meminta Gubernur Maluku Said Assagaff meninjau ulang dan membatalkan kebijakan yang dibuat oleh Dinas ESDM provinsi Maluku, dan memprioritaskan koperasi-koperasi yang telah mengantongi IPR untuk dapat segera menjalankan fungsinya melakukan penambangan pasca operasi penertiban Gunung Botak.

“Kebijakan yang dibuat oleh ESDM Maluku itu tidak berdasarkan fakta. Dan menurut saya itu manipulatif, akal-akalan, arogan, tidak aspiratif dan tidak menghormati hukum yang berlaku,”.(CR8)

Most Popular

To Top