Polisi-Pendemo Baku Hantam di Balai Kota – Ambon Ekspres
Trending

Polisi-Pendemo Baku Hantam di Balai Kota

AMBON,AE— Merasa dicaci maki, dihina, polisi lantas naik pitam. Adu mulut terjadi, diikuti saling dorong. Lalu chaos. Mahasiswa dan sebagian pedagang yang berdemo lari menyelamatkan diri, menghindari kemarahan polisi dan Satuan polisi pamong praja.

Insiden ini terjadi kemarin, saat puluhan orang yang tergabung dalam mahasiswa dan pedagang pasar Lama-Nusaniwe melakukan demonstrasi di depan Kantor Walikota Ambon. Demonstrasi terkait penolakan pembongkaran maupun relokasi pasar lama ke pasar Gotong Royong ini, berakhir ricuh.

Demo awalnya berjalan aman, sampai seorang demonstran berorasi dengan kalimat yang dinilai polisi tak pantas. Kalimat itu bernada ejek, bahkan dia menghina aparat kepolisian.

Tidak terima dengan perkataanya, polisi langsung naik pitam dan menarik orator itu. tidak terima teman mereka ditarik, para pendemo mengamuk juga. Polisi dan Satpol PP tak tinggal diam. Mereka saling pukul, dan mengejar para demonstran hingga terpecah.

Ada yang lari ke Pengadilan, ada yang lari ke Lapangan merdeka, maupun juga lari ke arah Amplaz. Tampak beberapa orang dari pendemo memanggil teman-teman mereka. berselang 5 menit, puluhan pemuda datang dari arah Amplaz menuju samping Gong Perdamaian.
Mereka terlihat ingin mengajak aparat kepolisian untuk bertengkar.

Polisi yang sigap menembakan gas air mata kepada peluhan pemuda, kembali mengejar mereka. Petugas polisi lainnya berusaha menenangkan mereka. Sang orator Komarudin Rery yang memantik kisruh dibawa ke Polres Ambon.

Demonstrasi itu sendiri berlangsung sejak pukul 09.30 Wit itu. Para pendemo yang terdiri dari mahasiswa, pedagang dan anak-anak itu dikawal oleh puluhan Satuan Polisi (Satpol) Pamong Praja dan aparat kepolisian.

Para pendemo dalam orasinya mengungkapkan, pasar Lama-Nusaniwe, merupakan salah satu pasar yang tertua di Kota Ambon. Sehingga, pasar tersebut memiliki nilai sejarah, karena sudah ada sejak masa penjajahan kolonial Belanda.

Menurut mereka, semestinya pasar yang sudah berusia tua itu harus dijaga dan direnovasi, bukan dibongkar untuk kepentingan pihak Pelindo. Akibatnya, para pedagang yang puluhan tahun mencari nafkah di pasar tradisional tersebut harus direlokasi ke tampat lain yang memang dianggap tidak layak.

“Menurut surat yang dikeluarkan Kepala Dinas Perdagangan Kota Ambon yang ditujukan kepada para pedagang, bahwa tanggal 1 Oktober pasar Lama-Nusaniwe harus dikosongkan, dengan alasan akan digunakan sebagai areal bongkar muat. Hal itu menurut kami tidak tepat,“ kata salah satu orator.

Orator lainnya yang juga merupakan perwakilan mahasiswa menjelaskan, aktivitas bongkar muat di Pelabuhan, sangat berjauhan dengan lokasi pasar Lama. untuk itu, kebijakan pemerintah Kota Ambon dalam rangka mengalihfungsikan pasar Lama adalah semata-mata untuk target kepentingan tertentu saja.

Setelah kurang lebih 30 menit berorasi di depan kantor Walikota Ambon, akhirnya aspirasi para pendemo didengar. lima perwakilan pendemo yang terdiri dari mahasiswa dan pedagang, diterima untuk memberikan aspirasi langsung kepada Walikota Ambon, Richard Louhenapessy.

Dalam pertemuan yang berlangsung di ruangan Sekretaris Kota Ambon itu, Louhenapessy didampingi ketua UPTD Pasar, Nova Lasamahu, kepala dinas Perhubungan, Piet Saimima, Asisten II Kota Ambon, Novel Masuku, kepala Satpol PP, Demi Pais, serta beberapa pejabat dilingkup pemerintah Kota Ambon.

Dalam pertemuan itu, para pedagang menjelaskan kondisi dan konsekuensi yang dialami, jika pasar tersebut dibongkar. Selain itu, menurut para pedagang bahwa lokasi pasar Gotong Royong, belum layak untuk ditempati karena hanya memiliki satu pintu.

Selain itu, pasar Gotong Royong lokasinya berdekatan dengan pasar modern (Amplaz). Sehingga, para pedagang takut, jika nantinya menempati pasar itu, akan mengurangi pendapatan mereka. bahkan, ditakutkan mereka akan merugi.

Walikota Ambon, Richard Louhenapessy menjelaskan, para pedagang bukannya digusur, melainkan hanya direlokasi ke tempat yang baru. Memang, lanjut dia, ada ketakutan dari para pedagang ketika menempati suatu lokasi yang baru dengan berbagai macam pemikiran. namun, hal itu dilakukan demi kepentingan banyak orang.

Pemerintah kota Ambon saat ini sedang mengupayakan membangun pasar-pasar tradisional yang lebih baik. karena kondisi pasar seperti pasar lama, sudah tidak cocok untuk perkembangan pembangunan kedepan.

Pasar lama, kata dia, bukan diberikan kepada Pelindo, karena, merupakan aset dari pemerintah kota. Hanya saja, pasar itu akan dimanfaatkan untuk memberikan nilai tambah kepada daerah.

“Jadi pemerintah kota yang akan membangun dilokasi itu. Sehingga, pelindo yang akan menyewa tempat itu, dari pemerintah kota. Karena ini untuk kepentingan perkembangan ekonomi bagi seluruh masyarakat Kota Ambon. Intinya lokasi itu akan dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih produktif, “paparnya.

Louhenapessy berjanji akan melakukan koordinasi untuk menata lokasi pasar Gotong Royong. Terkait pintu dan luas lokasi bagi masing-masing pedagang, akan dikaji kembali. Karena pedagang mengeluh bahwa lokasinya kecil, sehingga tidak layak. dan hal itu, akan dikaji kembali.

“Jadi nanti kami koordinasi untuk kaji kembali, agar 99 pedagang dari pasar Lama, akan menempati tempat itu. Kan kita lihat pasar di Passo, ketika direlokasi mereka mengamuk. begitu juga pasar di Batu Meja.

Namun lama-kelamaan, masyarakat akan menyesuaikan dengan keadaan. menyoal dekat dengan pasar modern itu tidak jadi masalah, karena masyarakat kunjungi pasar itu dengan kebutuhan yang berbeda,” tambahnya.

Setelah mendengar penjelasan dari Walikota Ambon, perwakilan demonstrasi kembali keluar untuk menyampaikan apa yang sudah mereka terima dari pihak pemerintah kota Ambon.(AFI)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!