Pasar Lama, Pasar Tertua Yang Menanti Digusur – Ambon Ekspres
Trending

Pasar Lama, Pasar Tertua Yang Menanti Digusur

“Kalau tanya pasar Lama, semua orang sudah tahu. Terkecuali bagi orang yang belum pernah datang ke Ambon,”ujar Abdullah La Ana (50), Jumat (20/11).

Pasar Lama memang sudah tak asing ditelinga warga kota Ambon, dan Maluku pada umumnya. Pasar ini terletak di pesisir pantai Jalan Yos Sudarso, Kecamatan Sirimau.

Tidak ada referensi tertulis soal sejarah pembangunan dan perkembangan Pasar Lama. Tapi, dari penuturan beberapa pedagang yang saya temui, termasuk Abdullah, pasar ini dibangun 1970-an di era Presiden Soeharto.

Dahulu, kawasan Pasar Lama hingga Ambon Plaza, adalah laut. Sekitar tahun 1980-an, dilakukan pengeringan untuk pembangunan toko-toko berjejer di depan Amplaz.

Pasar Lama terdari dari 14 los dengan ukuran panjang sekitar 10 meter dan lebar 5 meter. Di masing-masing los, terdapat 3 sampai 5 meja dari semen dengan ukuran bervariasi. Beberapa diantaranya mulai rusak.

Selain itu, juga ada meja kayu yang dibuat oleh pedagang untuk menjajakan barang dagangan mereka. Di depan los-los itu, berjejer meja dari papan yang dipakai untuk menjual ikan dan sayuran.

Di tengah-tengah pasar, ada satu bangunan yang cukup luas yang dijadikan sebagai mes. Ruangan ini, biasanya dipakai oleh pedagang untuk beristrahat, maupun berjualan.

“Sebelum pasar Lama dibangun, para pedagang berjualan dilorong Durian samping pasar Gotong Royong sekarang. Ada yang berjualan di pinggiran jalan Yos Soedarso. Setelah pasar Lama dibuka, semuanya berjualan disini,”kenang pedagang lainnya yang tak mau namanya ditulis.

BACA JUGA:  Pasar Lama Rata Tanah

Dia merupakan salah satu dari sekian pedagang lain yang pertama kali berjualan di pasar Lama. Sepengetahuannya, pasar ini sudah dipugar sebanyak empat kali. Pugaran pertama sekitar tahun 1984.

Pada awal-awal difungsikan, tidak ada pedagang yang tinggal menetap di pasar. Usai berjualan di siang hari, mereka kembali ke rumah masing-masing. Namun, setelah beberapa tahun kemudian, sebagian pedagang selain berjualan, juga menjadikan pasar sebagai tempat tinggal dengan alasan menjaga barang mereka.

Pasar Lama, memang dibangun untuk pedagang Muslim dan Kristen. Sebelum pasar Lama diberdiri, para Pedagang Kaki Lima (PKL) dari dua komunitas, berjualan sepanjang jalan Yos Sudarso yang dahulunya adalah pantai.

Namun, pasca konflik sosial yang melanda Maluku 1999-2002, para pedagang Kristen dipindahkan ke pasar Mardika. Hanya ada beberapa pedagang saja berjualan setelah kerusuhan. “Setelah kerusahan, memang masih basudara Kristen yang berjualan di pasar. Kala itu, pasar masih terlihat bersih. Tidak seperti sekarang,”kata Mama Yam, pedagang lainnya.

Menanti Digusur
Jika dihitung, Pasar Lama sudah berumur 45 tahun. Pasar ini telah menghidupkan ratusan keluarga Pedagang Kaki Lima. Sebagian besar anak para pedagang, berhasil meraih gelar sarjana. Namun, mereka harus siap-siap angkat kaki, karena dipindahkan ke Pasar Gotong Royong.

Pengosongan pasar lama sesuai rencana pemerintah Kota Ambon untuk pelebaran lokasi petik kemas oleh PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV.

BACA JUGA:  Pasar Lama Rata Tanah

Pelebaran ini dengan alasan agar terminal Peti Kemas Pelabuhan Yos Soedarso Ambon dapat menampung lebih banyak kontainer dari kapasitas saat ini 74.000 unit.

Awalnya perluasan terminal hingga masuk ke area pasar lama sebagai lapangan penumpukan dibangun sendiri oleh Pelindo IV Cabang Ambon sesuai kesepakatan yang ditandatangi pada tahun 2012 lalu, namun diubah lagi oleh Pemerintah kota Ambon karena ada pendapatan di situ. Sesuai hasil survei PT Pelindo, luas area pasar lama yang akan dijadikan lapangan penampungan kurang lebih 7.000 meter persegi.

““Jadi pemerintah kota yang akan membangun di lokasi itu. Sehingga, pelindo yang akan menyewa tempat itu, dari pemerintah kota. Karena ini untuk kepentingan perkembangan ekonomi bagi seluruh masyarakat Kota Ambon.

Intinya lokasi itu akan dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih produktif,” papar Wali kota dihadapan pendemo seperti ditulis Ambon Ekspres, Jumat (20/11).

Rencana relokasi pasar Lama ini, membuat sebagian pedagang resah. Bahkan, memilih untuk tidak berjualan selama beberapa hari. Seperti yang terlihat Jumat (20/11), pukul 11.00, tidak ada aktivitas jual beli di Pasar Lama.

Meja papan yang biasanya dipakai sebagai tempat penjualan ikan, terlihat kosong. Beberapa pedagang ikan dan sayur, duduk santai sambil merokok di los mereka masing-masing. Pemandangan ini tak seperti hari-hari biasanya, sebelum pasar yang diklaim tertua di Kota Ambon itu mau dipindahkan.

BACA JUGA:  Pasar Lama Rata Tanah

“Bahkan, ada yang sudah membongkar sendiri tempat jualan mereka. Soalnya, menurut informasi yang mereka dapat, polisi pamong praja akan kemari untuk melakukan penggusuran,”kata Abdullah.

Baginya, sehari tidak berdagang, sama halnya dengan harus berpuasa. Apalagi, dia memiliki lima anak yang mengenyam pendidikan di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Sekolah Dasar (SD), sangat terbebani.

“Kami sampaikan hal ini berdasarkan fakta di lapangan. Masalah di pasar ini, kami yang rasakan. Saya sampaikan juga kepada pak wali kota, bahwa pedagang seperti saya ini, kalau satu hari tidak berjualan, maka anak-anak tidak dapat uang saku sekolah.

Anak saya, dua orang sudah tingkat SMA dan tiga orang lainnya SD,”ungkap Abdullah meniru pembicaraannya di depan Wali kota Ambon, Richard Louhenapessy saat unjuk pedagang Pasar Lama dan Mahasiswa, Kamis (19/11).

Abdulah tidak mempermasalahkan pemindahan pasar Lama. Hanya saja, pasar Gotong Rorong dianggap tidak memadai untuk pedagang yang berjumlah 99 orang itu. Apalagi luas lokasi tempat penjualan hanya 1,5 meter.

Lokasi yang sempit ditambah letaknya dekat dengan Amplaz, menjadi alasan utama penolakan warga. Masalah lainnya adalah, para pedagang dibebankan dengan biaya pembuatan tempat jualan yang ditaksir mendekati Rp2 juta untuk satu unit.

“Ini kan sangat membebani kami. Maunya kami, kalau dipindahkan ke pasar Gotong Rorong, harusnya sudah disediakan tempat jualan untuk pedagang,”keluhnya. (***)

Most Popular

To Top