Jadusin, Akademisi Yang Promosikan Pendidikan Gratis – Ambon Ekspres
Trending

Jadusin, Akademisi Yang Promosikan Pendidikan Gratis

Menjadi pengajar di tiga Perguruan Tinggi, belum cukup bagi Jadusin untuk berbagi ilmu pengetahuan. Obsesinya mencerdaskan masyarakat tidak terbatas di ruangan kuliah, juga bukan terbatas bagi mereka yang berstatus mahasiswa.

Dia bergerak ke luar kampus, bersama tim pengajar yang tergabung dalam Lembaga Pendidikan Gratis (Lepas) Maluku. Mereka memberikan pengetahuan dasar tentang sederet bidang studi bagi warga yang membutuhkan, secara gratis.

Penampilan sederhana, bisa saja menipu setiap orang yang baru melihatnya, apalagi orang belum mengenalnya. Jadusin, Magister jebolan Universitas Hassanudin Makassar ini bisa dikira bukan merupakan akademisi.

Dan itu yang juga Ia tunjukkan saat menyambut kedatangan Ambon Ekspres, bertemu dengannya di kawasan Galunggung, Desa Batu Merah Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, akhir pekan kemarin.

Dibalik kesederhanaanya, pria kelahiran 1985 itu memiliki obsesi besar untuk terus mendidik, menyebarluaskan ilmu pengetahuan kepada siapa saja, sekalipun secara gratis. Padahal, saat ini, Jadusin merupakan pengajar di tiga Perguruan Tinggi di kota Ambon, yakni dosen tetap di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Darussalam (Unidar) Ambon, dosen tidak tetap pada Fakultas Syariah dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, dan pada Jurusan Gizi Poltekes Nania, Ambon.

Mengajar di institusi formal, tak membuatnya hilang kepekaan terhadap masalah-masalah sosial. Dia selalu menyisihkan waktu di sela kesibukannya untuk mengamati masalah sosial kemasyarakatan di kota Ambon.

Beberapa kali riset sederhana pun dia lakukan, diantaranya berbincang dengan warga yang ditemui di Pasar, Terminal, Angkot, atau di pinggir jalan hanya untuk mengetahui apa yang dirasakan warga dalam menjalani kehidupan di kota berjuluk Ambon Manise ini.

Tak jarang, diskusi kecil sering terjadi diantara dia dengan lawan bicaranya. Tak sedikit warga antusias berlama-lama mengobrol dengannya. Dari sini, masalah akses pendidikan selalu menjadi tema diskusinya.

Akses pendidikan yang rendah, membuat orang akan kian miskin.
“Karena bicara pendidikan, itu punya korelasi yang sangat kuat dengan kemiskinan dan masalah sosial lainya. Butuh pemberdayaan. Olehnya, pembangunan sumber daya manusia harus terus dilakukan,” katanya.

Dari diskusi-diskusi dengan warga, datang ide untuk membentuk lembaga dengan nama Lembaga Pendidikan Gratis (Lepas) Maluku. Lepas tidak memiliki kantor, apalagi ruang belajar. “Ruang belajar kita bisa di Pasar, di lorong, di kos-kosan, yang penting aman untuk belajar sesuai permintaan warga,” sebutnya dengan tersenyum.

Setelah Lepas terbentuk, Jadusin bergerak, mensosialisasikan lembaganya tersebut, berikut tujuan pembentukanya kepada orang-orang yang dianggap dapat diajak untuk berpartisipasi sebagai pengajar sesuai latar belakang pendidikan masing-masing.

Tidak semua orang yang pernah diajaknya untuk bekerja sama di lembaga tanpa upah itu, mengamini permintaan Jadusin. Tapi dia tidak patah semangat. Dia yakin, pasti ada banyak orang seobsesi denganya.

Hasilnya, Jadusin telah berhasil mendapatkan sekitar 60 orang yang punya visi yang sama, terdiri dari rekan, teman, kenalan, dan keluarganya yang masih kuliah atau sudah tamat strata satu bahkan strata dua untuk menjadi tenaga pengajar di Lepas. Masing –masing mengabdi sesuai bidang keahlian.

Untuk menjadi pengajar pendidikan gratis, tentu harus memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Istilah yang digunakan Jadusin adalah orang mengaktifkan semua panca indranya untuk mengetahui kondisi sosial kemasyarakatan. harus punya hobi untuk melihat realitas masyarakat. “ Kalau tidak, empatinya muncul dari mana,” ucapnya

Sasaran gerakan yang telah dijalankan sejak tujuh bulan lalu ini, adalah warga yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal atau mereka yang tidak berkesempatan untuk menyelesaikan pendidikan formal pada tingkat Sekolah Menengah Pertama.

“Kita tidak menjanjikan pekerjan, tidak memberikan sertifikat apalagi ijazah. Yang kami lakukan adalah menyebar luaskan pengetahuan dasar secara gratis, di semua level. Semua warga bisa mengajukan permohonan,” ungkapnya.

Untuk mendapatkan pendidikan gratis dari Lepas, warga tidak dipersulit dengan prosedur yang berbelit, apalagi berbayar, semua mudah dan serba gratis. Syarat utamanya, ada kemauan untuk belajar, jumlah peserta harus lebih dari sepuluh orang, terlebih dahulu menginformasikan keinginan untuk mendapatkan pendidikan gratis, apa yang ingin dipelajari.
Selanjutnya, tim Lepas akan datang di tempat-tempat yang ditentukan peserta.

Peserta dilarang keras untuk menyedikan makanan atau minuman dalam bentuk apa pun. Sebanyak 24 bidang studi yang siap diajarkan oleh Jadusin dan tim Lepas dengan batasan materi yang bersifat dasar.

“Kalau ingin mendapatkan pengetahun dasar, kita bantu. Di mana pun boleh. Misalnya ingin belajar tentang gizi, itu teman-teman dengan latar ilmu gizi yang mengajar. Matematika dasar, bahasa Inggris, dan Fisika, Pemerintahan, Pertanian, dan Kehutanan. Semuanya bersifat pengetahuan dasar. Kita ingin menyebarluaskan pengetahuan dasar kepada masyarakat,”katanya.

Hingga saat ini, Jadusin bersama tim Lepas telah memberikan pelayanan pendidikan gratis bagi warga di enam lokasi di kota Ambon yakni Waihaong, Tantui, Pasar Mardika, Kawasan Silale, dan Kebun Cengkeh. Pekan depan, direncanakan di desa Lata.

Program Lepas, lanjutnya, menjadi pesan kepada semua pihak bahwa pembangunan bidang pendidikan, tidak semata tanggung jawab pemerintah. Siapa pun punya kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam menyebarluaskan ilmu pengetahuan dengan cara masing-masing.

Apa pun profesi warga, sopir angkot, tukang ojek, tukang becak, pedagang, bisa mendapatkan pengetahuan secara gratis. Ini akan kita lakukan agar makin banyak warga memiliki pengetahuan dasar.

“Hari ini ada warga yang ingin tahu apa itu Mahkamah Konstiusi, kita bantu, agar orang memahami itu dan bisa memahami apa itu politik,” tandas pria yang menyelesaikan pendidikan strata satu dan strata dua dengan beasiswa ini.

Sementara itu, La Agus, salah satu pengajar Lepas mengaku, saat pertama mendengar penjelasan tentang misi mulia Lepas, dirinya pun menyanggupinya.. Ini menjadi kesempatan baginya untuk mendermakan ilmu yang dimilikinya.

Agus memiliki latar belakang pendidikan ilmu politik dan pemerintahan. Bersama tim Lepas, dia pun berbagi ilmu kepada sejumlah tukang becak di kawasan Tantui Bawah.

“Ikut mengajar supaya kita punya ilmu juga ada gunanya untuk masyarakat, Saya baru bergabung, lansgung mengajar abang-abang tukang becak, mereka antusias bahkan selalu bertanya, suasananya interaktif, kemudian juga mereka termotivasi untuk tahu tentang pemerintahan. Karena kebetulan saya memgajar tentang dasar-dasar ilmu pemerintahan dan politik,” jelasnya. (***)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!