Ribuan Penambang Terlantar di Namlea – Ambon Ekspres
Ragam

Ribuan Penambang Terlantar di Namlea

Tak Punya Ongkos Pulang, Berniat Jual Anak

Namlea, AE— Setelah tambang emas Gunung Botak, Kabupaten Buru ditutup aparat keamanan satu pekan lalu, sampai kemarin, ribuan pendatang terlantar di Namlea. Pemerintah kabupaten maupun provinsi terkesan melakukan pembiaran terhadap nasib ribuan para penambang yang kini hidup di emperan-emperan gedung, dan tenda-tenda sisa dari areal penambangan.

Ribuan orang ini terhitung meninggalkan Gunung Botak dan lokasi sekitarnya, sejak 14 November lalu. Mereka diusir paksa aparat keamanan dan Satpol PP, dengan cara membakar dan merusaki tenda-tenda milik penambang.

Tak hanya itu, tempat berdagang warga juga ikut dirusaki. Mereka meninggalkan lokasi tambang dengan perasaan takut.

Berbagai isu pun mengiringi turunnya para penambang dari Gunung Botak. Namun, informasi ini belum terkonfirmasi hingga kini. Hanya ditemukan satu pria dewasa yang sudah tewas beberapa lama, namun seluruh bagian atas badannya hitam.

Kini ribuan orang ini terlantar. Mereka tersebar dibeberapa tempat di Pulau Buru. Ada keinginan untuk meninggalkan Namlea, namun mereka tak punya uang. Barang berharga pun dijual, agar bisa kembali ke kampung halaman.

“Motor ada yang dijual, hanya dengan Rp500 ribu. Mereka takut, makanya ingin cepat-cepat pulang,” kata salah seorang warga Namlea, kepada Ambon Ekspres, kemarin.

BACA JUGA:  Ribuan Penambang Bertahan di Gunung Botak

Wartawan Ambon Ekspres dari Namlea, sebelumnya melaporkan, banyak harta berharga milik penambang dan warga pendatang dijual dengan harga murah. Motor, televisi, kulkas, dan peralatan elektronik lainnya dijual hanya untuk memenuhi ongkos pulang mereka.

Para penambang rata-rata berasal dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Tasikmalaya (Jawa Barat), dan Maluku Utara. Kini mereka masih bertahan di Namlea karena belum punya ongkos. Pemerintah kabupaten Buru sebelumnya berjanji untuk mengongkosi. Namun itu pun hanya untuk 99 orang penambang. Sisanya, pemerintah tak akan menanggungnya.

Penambang asal Pinrang, Sulawesi Selatan, Ibnul pun mengeluh. Ibnul yang bekerja sebagai penambang dengan memboyong istri yang sedang hamil serta anak balitanya, terpaksa harus membenahi semua barang yang dapat diuangkan untuk modal kembali ke kampung halamannya.

Ibnul menuturkan, dia datang pada bulan Februari 2015 dengan modal yang didapat dari hasil menjual motor untuk ojek yang sehari-hari digunakan sebagai mata pencahariannya di kampung. Setelah mendapat teman untuk menggabungkan diri, Ibnul langsung bekerja sebagai penambang di Gunung Botak.

BACA JUGA:  Ribuan Penambang Bertahan di Gunung Botak

Raodah, seorang ibu paruh baya yang sudah tiga tahun berdagang di pasar yang agak jauh dari Gunung Botak, kini tak bisa lagi pulang. Seluruh harta perempuan asal Sulsel ini ikut terbakar saat aparat keamanan dan Satpol PP membongkar paksa tempat dagangnya. Selain dia, ada beberapa kios dan toko milik warga pendatang juga ikut dirusaki.

Sementara itu, penelusuran Ambon Ekspres di Kabupaten Buru menyebutkan, masih ada beberapa titik lokasi mesin pengolahan emas yang berada di Unit 11, Unit 5, Unit 6 dan beberapa tempat lainnya yang masih beroperasi pada malam hari.

Pantauan Ambon Ekspres di lokasi pengolahan emas dengan menggunakan mesin tong itu tampak ratusan karung material yang masih tersusun rapi tepat disamping mesin tong dan siap dimasukan ke dalam tong untuk diolah. Mesin-mesin penggeraknya pun tampak setia menemani di samping tong tersebut.

Salah satu warga paruh baya yang enggan namanya dikorankan itu membenarkan adanya aktivitas pengolahan emas dengan mesin tong yang dibuktikan dengan bunyi mesin pada Senin Malam (23/11).

Disinggung mengenai masih adanya penjualan mercuri, pria tersebut dengan tergagap mengatakan jelas masih ada. Kalau tidak ada tidak mungkin ada pengolahan. “Penjualan masih dilakukan di Desa Dava tapi secara tertutup saja,” ucapnya.

BACA JUGA:  Ribuan Penambang Bertahan di Gunung Botak

setelah ditanya kembali soal adanya pengawalan aktivitas tertutup itu, pria tersebut kemudian melirik samping kiri kanannya sambil berkata, “saya ngga berani ngomong soal itu, takut,” katanya sembari pamit berlalu pergi.

Kondisi yang sama terjadi di Unit 6. masih ada pengolahan emas. sayangnya, tidak ada warga sekitar yang mau membenarkan hal tersebut dan memilih untuk tidak diwawancarai.

Pantauan Ambon Ekspres di Kabupaten Buru juga mengatakan, masih ada sebagian penambang yang memilih tinggal di teman, kenalan hingga keluarga dengan alasan tidak memiliki uang untuk kembali ke daerah asalnya. sementara sebagian penambang memilih menjual barang-barang milik mereka untuk bisa kembali ke kampung halamannya.

Karena tidak ada barang yang bisa diuangkan, salah satu penambang asal Sulut nekad berniat menjual anaknya seharga Rp 500 ribu agar bisa kembali ke kampung halaman. informasi tersebut dibenarkan oleh beberapa warga Dusun Wamsait.

Namun rencananya penambang itu tak kunjung terlaksana. Kini keberadaannya sudah tidak lagi diketahui oleh warga.(CR8)

Most Popular

To Top