Chuck Suryosumpeno, Soal Kayanya Maluku – Ambon Ekspres
Trending

Chuck Suryosumpeno, Soal Kayanya Maluku

Tampilannya neces. Rambutnya rapih, berkacamata minus, dan bicaranya ceplas-ceplos. Tapi punya isi. Baru kenal Maluku belum lama. Tugas di Maluku baru tujuh bulan. Namun kalau bicara Maluku, pengetahuannya mungkin melebihi kita. Menjadi penegak hukum bukan halangan baginya untuk berkontribusi bagi pembangunan negeri seribu pulau ini.

Chuck Suryosumpeno. Kerjanya menjadi penegak hukum, usai tamat kuliah dari Universitas Gajah Mada, Jogjakarta. Dia Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku. baru tugas tujuh bulan di Maluku. kemarin, baru mengunjungi Harian Pagi Ambon Ekspres.

“Ini kegiatan visit media,” kata dia, membuka perkenalan ketika bertemu Direktur Utama Ambon Ekspres, Machfud Waliulu.

Diskusi langsung dibukanya. Tanpa moderator, dan tanpa basa-basi. Diskusi mengalir. Banyak hal dia sampaikan. Banyak ide dia utarakan dengan lugas. Cara menyampaikan juga berbeda. tak langsung, tapi dengan gaya bercerita tentang pengalamannya. “Justeru cara ini, membuka wawasan kita, dari tidak tahu menjadi tahu,” kata Waliulu, usai diskusi.

Tengok saja apa kata Chuck dalam ceritanya tentang lobster Jepang. Suatu ketika dia ke Jepang. Dia diundang untuk menghadiri kegiatan berskala internasional. Usai kegiatan, Chuck diajak sahabatnya yang orang Jepang ke sebuah restoran. Dia disajikan seekor lobster besar. “Sangat besar dan harganya ribuan dollar loh,” tutur dia, dengan gerakan tangannya.

Beberapa waktu lalu, dia diundang Kapolda Maluku, Brigjen Murad Ismail. Topiknya makan bersama di kediaman sang kapolda. Sebelum makan, kapolda menunjukan seekor lobster yang masih berada dalam box ukuran sedang. Lobster itu, dikirim anak buahnya dari Aru. Aru dikenal sebagai penghasil perikanan terbesar di Maluku.

Ketika melihat lobster itu, Chuck kaget. “Anda (staf harian Pagi Ambon Ekspres –red) tahu, bentuk dari lobster itu, persis sama dengan yang saya makan di Jepang. Dan ternyata lobster itu berasal dari Aru,” kata dia.

Prancis terkenal dengan parfumnya. Selain memiliki kualitas tinggi, juga harganya selangit. Banyak selebrity berkiblat kesana jika bicara soal parfum. Tak menggunakan parfum bermerek Prancis, bisa saja disebut kelas rendahan.

Kualitas parfum Prancis bergantung pada kualitas bahan bakunya. Salah satu bahan bakunya, adalah kayu gaharu. Kayu gaharu diimpor dari Malaysia dengan harga tinggi, bisa mencapai Rp5 juta. “Gaharu dari Malaysia dibeli dari petani asal Maluku loh. Dibeli juga dengan harga murah, hanya Rp500 ribu. Bayangkan betapa untungnya mereka,” kata Chuck.

Maluku, kata Chuck punya sumberdaya alam baik di laut maupun di darat yang berlimpah. Soal laut, itu sudah dikenal. Soal perkebunan, jauh lebih dikenal. Bahkan konon di pyramid, Mesir, tergambar jelas Pulau Maluku dengan sebutan rempah-rempah.

“Contohnya Pulau Banda. Kenapa setiap penjajah ingin menguasai Pulau Banda. Ternyata disana menyimpan sejuta potensi. Selain ikan, ternyata Banda memiliki ribuan tanaman Pala. Tidak heran, jika pulau tersebut dulunya ingin ditukar dengan pulau Manhatan,” kata Chuck.

Kendala Maluku, selain menjual sumberdaya alam dalam bentuk bahan mentah, juga tak memiliki pelabuhan ekspor. Chuck mencontohkan, penjualan hasil bumi. Petani Maluku jualnya ke pedagang di Ambon. Dari pelabuhan Ambon diangkut buruh ke kapal.

Kapal itu membawanya ke Surabaya. Dari kapal, buruh pikul lagi ke transportir. Transportir bawa ke gudang. Hasil bumi itu disimpan beberapa lama di gudang. Kemudian diangkut lagi ke pelabuhan untuk diekspor ke luar negeri.

“Lalu apa yang didapat pemerintah Maluku, dari cerita itu? Dibanding Surabaya. Selain mengekspor, juga hasil bumi itu memberi dampak langsung kepada buruh dan transportir. Coba kalau ekspornya melalui pelabuhan di Maluku? Kan pasti menguntungkan,” kata dia.

Terkait pelabuhan ekspor, Chuck juga punya cerita lain. Pria yang menjadi satu-satunya jaksa (sampai kemarin) bersekolah di Federal Bureau of Investigation (FBI) Amerika Serikat ini, ternyata berteman dengan Gubernur DKI, Basuki Thjaya Purnama atau Ahok. Suatu ketika mereka berdiskusi soal pembangunan di Jakarta.

“Kita juga bicara soal pelabuhan ekspor. Roterdam salah satu pintu masuk ekspor ke Eropa. Lalu sampai pada usulan rencana konektivitas dua pelabuhan ekspor, Pelabuhan Roterdam dan Pelabuhan di Jakarta. Akhirnya terkoneksi. Saat saya bertemu Ahok lagi, ternyata hubungan dagangan itu sudah terealisasi,” kata dia.

Ahok sempat menunjukan beberapa list komoditi ekspor dari Jakarta ke Eropa melalui pintu Roterdam, Belanda. Ada 22 komoditi. Salah satunya, ternyata cengkih. “Pa, kan cengkih dari Maluku, koh bisanya masuk list ekspor Jakarta,” kata Chuck kepada Ahok.

Komoditi Maluku, ternyata ada dimana-mana. Punya nilai tinggi di pasar nasional maupun internasional, namun belum dikelola dengan baik. Pemerintah saat ini ingin memperbaiki ekonominya melalui pemanfaatan sumberdaya alam. Salah satunya menarik investor asing.

Beberapa waktu lalu, Gubernur Said Assagaff dan rombongan ke Marsielle, Prancis. Selain Maluku, ada provinsi Jawa Barat, juga Sulawesi Utara. “Disana gubernur paparkan apa yang dimiliki Maluku. Dan saya menjamin kepastian hukumnya. Anda (investor –red) akan aman berinvestasi di Maluku,” kata Chuck.(***)

Most Popular

To Top