Gerakan Bersama Menolong Odha, Melawan AIDS – Ambon Ekspres
Trending

Gerakan Bersama Menolong Odha, Melawan AIDS

Dihantui rasa bersalah pada diri sendiri, dikucilkan dari pergaulan hingga stres merupakan sederet penderitaan setiap orang yang divonis mengidap penyakit Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) yang disebabkan  Human Immunodeficiency Virus (HIV).  Mereka butuh sentuhan, dukungan moril dan kesehatan untuk terus bertahan di saat bayang-bayang kematian menakuti.

Hari menjelang sore, menjadi saat-saat beberapa ruas jalan utama di kota Ambon dipadati kendaraan yang lalu lalang. Bukan hal aneh, sebab, itu merupakan waktu bagi banyak warga, kembali dari tempat tugas.

Baik pegawai pemerintahan, swasta maupun mereka yang berprofesi sebagai pedagang. Pemandangan seperti itu juga tersaji di sekitar di jalan Pala, jalan Slamet Riyadi dan jalan Sultan Hairun serta jalan AY Patty, pada Selasa (1/12).

Sekira pukul 15:30 Wit, di kawasan Gong Perdamaian, terlihat sejumlah orang sedang berkumpul, memadati empat tenda yang dipasang, tepat di bawah papan reklame milik pemerintah kota Ambon. Tak lama kemudian, mereka bergegas, membentuk barisan di dalam dua tenda yang dipasang terpisah, menghandap arah Gong Perdamaian.

Mereka berdiri tegak. Ada yang mengenakan seragam putih–biru, yang lainnya terlihat kompak dengan baju kaos warna hitam. Sementara dihadapan mereka, juga berdiri beberapa orang yang secara bergantian, memberikan arahan.

Di luar tenda, di bawah terik matahari yang menyengat, terpasang sejumlah umbul-umbul yang bertuliskan pesan tentang perilaku hidup sehat, sebagai refleksi peringatan hari AIDS sedunia.

Merefleksi hari virus dan penyakit mematikan itu, Sub Recipient (SR) Nahdlatul Ulama (NU), bekerja sama dengan komunitas Paparissa, didukung pemerintah provinsi Maluku dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Ambon, menggelar aksi pembagian 1000 pita merah serta sticker dan brosur kepada pengendara, sebagai pesan bahwa Maluku, terutama kota Ambon sedang dalam ancaman bahaya AIDS. Tidak sedikit orang yang telah terjangkit virus HIV. Mereka butuh perhatian. Semua orang harus berpadu untuk memerangi AIDS.

Setelah mendengarkan berbagai arahan, tim gerakan 1000 pita pun bergerak. Dibantu petugas pengatur lalu lintas dari dinas perhubungan, menghentikan setiap pengendara yang melintas di kawasan itu.

Pita yang dibentuk menyerupai simbol HIV/AIDS, sticker, serta brosur pun berpindah tangan. Sopir dan penumpang angkutan kota (Angkot), pengendara mobil lain serta sepeda motor, menjadi sasaran aksi itu.

“Maaf, menganggu perjalanan bapak. Ini sebagai pesan, mari kita tingkatkan pola hidup sehat, mencegah AIDS,” ujar salah satu peserta yang terlibat aksi itu sembari menyematkan pita merah pada baju salah satu penumpang angkot.” Warna merah adalah bentuk keprihatinan,” sambungnya dengan tersenyum.

Sekira 10 menit beraksi di kawasan itu, tim itu pun terpencar setelah mendengar komando dari koordinator SR NU, Muhammad Nur Tapessy. Mereka terbagi dalam dua kelompok. Satu kelompok di jalan Pala, sementara yang lain di Jalan AY. Patty.

“Kita ingin mengajak semua orang untuk mengetahui informasi tentang HIV dan AIDS. Karena banyak orang tahu HIV, tapi tidak mengerti tentang HIV. Contohnya, masih ada diskriminasi terhadap Odha (Orang Dengan HIV dan AIDS) di masyarakat. Jadi momen ini, paling tidak mengurangi stikma dan diskriminasi itu,” kata Muhammad Tapessy, di sela aksi tersebut.

Turut nimbrung dalam aksi tersebut, Rosa Pentury, ketua Yayasan Pelangi Maluku, lembaga yang selama ini, bekerja sama dengan SR NU untuk fokus pada masalah HIV/IDS di daerah ini, terutama di kota Ambon dengan memberikan pendampingan kepada para Odha. “Tapi saya juga dipekerjakan di koordinator program HIV/AIDS NU,” ucapnya.

HIV/AIDS merupakan penyakit yang paling ditakuti semua orang. Bila ada yang terjangkit, akan dijauhi, takut tertular. Akibatnya, para penderita semakin tersiksa bathin, disamping ancaman kematian yang merupakan konsekuensi akhir dari penyakit tersebut.

Sejak tahun 2012, jumlah penderita HIV/AIDS di kota Ambon yang mendapat pendampingan dua lembaga itu, terus meningkat. Tahun 2012, tercatat 362 orang. Jumlah itu meningkat menjadi 425 pada tahun 2013, kemudian menjadi 554 orang pada tahun 2014. Dan hingga Oktober 2015, meningkat menjadi 703 penderita. Ditemukan di semua desa di kota Ambon.

Usia yang paling banyak menjadi penderita adalah adalah usia produktif, 24-49 tahun. Disebabkan pola hidup serta perilaku seks yang tidak sehat.

Sepuluh tahun lalu, orang masih berfikir bahwa HIV banyak bersumber dari pekerja seks komersial (PSK). Kemudian, pemahaman itu meluas kepada pelanggan pekerja seks. Dan itu bisa sampai pada ibu rumah tangga.

“Kalau pelanggaran pekerja seks, berarti ibu rumah tangga juga bisa terjangkit karena suami pelanggang pekerja seks. Dan kalau ibu rumah tangga kena, berarti anak juga bisa kena. Begitulah jalurnya,” kata Pentury, merinci.

Lokalisasi di desa Batu Merah, tempat hiburan malam, Amboina Pujasera, Lapangan Merdeka, pangkalan ojeg dan becak adalah tempat-tempat yang disinyalir rentan penularan virus mematikan itu.

Sehingga, di tempat- tempat itu, disediakan posko, berikut petugas penjangkauan yang bertugas mengajak warga di sana untuk memeriksa kesehatan mereka, guna memastikan ada tidaknya virus HIV dalam tubuh mereka.

Pemeriksaan dilakukan di sejumlah rumah sakit, puskesmas dan klinik. Bila hasilnya positif, petugas penjangkauan pun memberikan pemahaman kepada pengindap HIV tentang pola menjaga kesehatan agar memperlambat perkembangan virus di dalam tubuh. Petugas penjangkauan kemudian menawarkan jasa pendampingan yang diprogramkan SR NU dan Yayasan Pelangi Maluku.

Pendampingan bagi Odha dilakukan oleh dua konselor dan enam staf dukungan psikologi untuk beberapa program diantaranya pertemuan rumah sakit.

Kegiatan ini dilakukan sekali dalam satu bulan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haulussy, Ambon untuk memberikan informasi kesehatan para Odha dengan melibatkan para petugas kesehatan di Rumah Sakit.

Berikutnya, Focus Group Discussion (FGD) di luar Rumah Sakit. Tujuanya, membahas topik penting tentang pemberdayaan Odha, diskriminasi dan sebagainya.

Pertemuan ini biasanya digelar dalam suasana menyenangkan atau menjadi agenda refreshing. Para Odha diajak berdiskusi di rumah salah satu Odha. Agar suasana lebuh santai, rumah makan pun dipilih sekaligus makan bersama, di rumah kopi sekaligus ngopi bersama, atau di pantai sekaligus rekreasi bersama.

Dua lembaga itu juga punya program kunjungan rumah. Program ini dilakukan untuk memperkuat para Odha yang baru diketahui statusnya sebagai penderita HIV/AIDS.

Mereka, biasanya memiliki konflik bathin yang kuat, apalagi untuk meyakinkan keluarga atau orang-orang terdekat yang juga tidak mengetahui atau belum siap menerima status positif HIV/AIDS yang disandang anggota keluarganya.

Mereka diberikan informasi yang benar tentang HIV/AIDS, mendorong keluarga untuk memperlakukan Odha seperti biasa saja, tanpa harus mengucilkan Odha serta mendorong Odha untuk selalu mengakses layanan kesehatan atau kepatuhan minum obat.

“Dukungan keluarga adalah kunci sukses Odha untuk berdaya. Sehingga, penguatan dan informasi yang benar tentang HIV dan AIDS bagi keluargaa adalah penting. Memiliki kesempatan jika berjumpa dengan Odha atau Ohida untuk memberikan penguatan doa walaupun terasa beberapa saat lagi maut menjemput,” ungkapnya.

Untuk menyukseskan berbagai program tersebut, dua lembaga itu juga membangun kerja sama dengan berbagai pihak termasuk pemerintah daerah, menggalang dana untuk membantu Odha memenuhi gizi yang baik.

“Tidak ada pilihan lain. Sebaiknya memiliki pengetahuan tentang HIV dan AIDS. Sebab kini kita pun terancam bahaya HIV/AIDS. Jangan lagi bertanya HIV dan AIDS itu datang dari mana karena tidak pernah menyelesaikan masalah,” ujarnya.

Peringatan hari AIDS sedunia tahun ini diselenggarakan dengan tema : Perilaku Sehat, yakni perilaku sehat awal pencegahan HIV/AIDS, saatnya semua bertindak untuk berprilaku sehat, masyarakat siap berprilaku sehat untuk mendukung program pencegahan dan penanggulangan AIDS.

Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids (KPA) provinsi Maluku, Samsudin Asis mengatakan, untuk Maluku, sejak tahun 2011, ada kecenderungan penurunan kasus HIV dan AIDS, dari 37 kasus setiap bulan menjadi 29 setiap bulan pada tahun 2012, kemudian turun menjadi 21 kasus per bulan pada tahun 2013. Jumlah itu meningkat menjadi 22 kasus per bulan pada tahun 2014. Tapi kembali menurun di angka 20 kasus setiap bulan pada tahun ini.

“Di Maluku, kan endemic terkonsentrasi, artinya kasus ini banyak pada kelompok berisiko, misalnya WTS (Wanita tunas susila), pengguna narkoba, dan waria. Jadi, peringatan hari AIDS sedunia ini sebernarnya mometum buat kita, di mana visi besar kita adalah di tahun 2030 itu tidak ada lagi yang kena HIV, tidak ada lagi yang kena AIDS, dan tidak lagi yang didiskrminasi,” sebutnya.(***)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!