Lobi Para Pemilik Modal – Ambon Ekspres
Trending

Lobi Para Pemilik Modal

Namlea, AE— Sudah dua pekan lebih, tambang emas Gunung Botak ditutup. Sejumlah investor juga sudah siap masuk. Bukan hanya koperasi, tapi investor kakap juga melirik.

Diantara mereka sudah mendekati pemerintah, baik kabupaten maupun provinsi. Bahkan lobi sudah dilakukan jauh sebelum gunung penuh emas itu ditutup aparat keamanan pada 14 November lalu.

Siapa mereka, informasi yang diperoleh Ambon Ekspres, ada investor asal Singapura maupun Korea Selatan. Namun sejauh mana lobi dilakukan, tidak dijelaskan. “Yang pasti mereka sudah siap. Soal ada tidaknya peluang untuk masuk,” kata dia.

Sebelumnya pemerintah pusat sudah menetapkan Gunung Botak sebagai Wilayah Penambangan Rakyat atau WPR. Karena itu, bagi investor yang ingin masuk harus mendapatkan ijin penambangan rakyat atau IPR. IPR ini juga diberikan kepada koperasi-koperasi. Sampai kemarin, baru lima koperasi yang mendapatkan IPR.

Dibelakang lima koperasi itu, ada 13 koperasi yang juga sudah siap. Mereka ini dipayungi oleh PT Buana Pratama Sejahtera. Perusahaan ini berulangkali didorong oleh Kepala Dinas Energi Sumberdaya Mineral (ESDM) Maluku, Martha Nanlohy.

Bahkan dia dituduh oleh sejumlah pemilik lahan, memaksakan mereka untuk menandatangani pernyataan dukungan kepada perusahaan tersebut.

Terkait hal ini, Bupati Buru Ramly Umasugi yang dihubungi via telepon seluler menyatakan, soal investor bukan urusannya, tapi menjadi kewenangan Gubernur Maluku, Said Assagaff. “Saya tidak punya urusan soal investor. Semuanya merupakan kewenangan Gubernur Maluku,” kutipan pesan singkat Bupati Buru Ramli Umasugi, Rabu (2/12).

Wacana akan ada dua investor asing yang mengelola lokasi tambang Gunung Botak, ditepis para ahli waris lokasi tambang Gunung Botak. Mansur Wael salah satu ahli waris lokasi tambang mengatakan, jika pemerintah sudah menyiapkan dua investor asing itu bagus agar Kabupaten Buru menjadi freeport juga.

Dirinya juga mengatakan, jika prospek dari investor asing itu dapat menjawab harapan dan tuntutan publik, tidak akan ada masalah. Hanya saja dia mempertanyakan kesungguhan para investor ini, karena kecilnya lokasi tambang yang hanya 250 hektar.

“Mereka itu tidak bodoh. Buat apa dia mengurus 250 hektar. Yang dia mau itu ngurus satu pulau Buru dengan masa kerja minimal 50 tahun karena biaya investasi besar apalagi dia harus membangun smalter di Indonesia,”ucapnya gelitik.

Masalah PT Buana Pratama Sejahtera juga belum kunjung diselesaikan dengan pengaturan yang resmi. Lima koperasi yang mengantongi IPR tidak menyetujui keputusan provinsi Maluku untuk memuluskan langkah PT Buana menguasai tambang Gunung Botak.(CR8)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!