Kasus BM Naik Penyelidikan – Ambon Ekspres
Trending

Kasus BM Naik Penyelidikan

AMBON, AE— Siapa yang harus bertanggung jawab dalam kasus dugaan mark up anggaran pembelian gedung kantor bank Maluku cabang Surabaya, sementara didalami jaksa. Kasus ini telah naik ke penyelidikan, jaksa mencari tahu unsur tindak pidana dalam kasus pembelian gedung di Jl. Raya Darmo nomor 51 itu. Sementara itu, rencana rapat lanjutan Panitia Khusus (Pansus) kembali molor.

“Karena saat ini penyelidikan yaitu suatu tindakan untuk mencari tahu apakah suatu peristiwa atau kasus akibat suatu tindak pidana atau bukan, sehingga kalau memang perlu, ya (pejabat yang dinilai bertanggungjawab) bakal dipanggil juga,” kata Kasi Penerangan hukum dan Humas Kejaksaan Tinggi (Kejati ) Maluku, Bobby Kin Palapia, Senin (7/12).

Apakah diantara data-data yang telah dikantongi jaksa telah menggambarkan siapa yang harus bertanggung jawab, Palapia menolak untuk membeberkan. Kalau pun sudah ada, itu semua baru akan dibuka setelah dalam persidangan nanti.“ Itu sudah masuk materi, jadi saya tidak bisa buka. Kalau ada, pasti dibuka saat persidangan, semua akan dibuka di sana,” ungkapnya.

Palapia juga belum dapat memastikan siapa lagi yang akan dipanggil dalam waktu dekat untuk dimintai keterangan. Jaksa akan menuntaskan kasus tersebut. Siapa pun yang terlibat, pasti diproses secara hukum.

Sementara, hingga kemarin Panitia Khusus (Pansus) Bank Maluku yang dibentuk DPRD Maluku belum juga melanjutkan agenda mereka, melakukan rapat dan memanggil semua pihak yang berhubungan dengan Bank Maluku untuk dimintai keterangan tentang sejumlah kasus yang melilit bank plat merah, diantaranya, kasus transaksi Repo yang dilakukan oleh pihak PT. AAA Sekuritas dan kasus dugaan mark up anggaran pembelian gedung baru.

Kemarin, panitai adhoc itu berencana melanjutkan rapat mereka. Undangan sudah dikirim kepada pimpinan semua fraksi di gedung wakil rakyat itu, namun hingga batas waktu yang ditentukan, pimpinan Pansus belum ada.

“Kita sudah terima undangan, tapi sampai sudah jam pulang ini, tidak ada rapat. Tidak tahu apa alasanya,” kata salah satu anggota Pansus Bank Maluku Abdullah Marassabessy, kemarin.

Ketua Pansus, Edwin Huwae yang dihubungi untuk dikonfirmasi, namun hingga berita ini naik cetak, belum bersedia memberikan penjelasan tentang alasan molornya agenda rapat itu.
Sekadar ingat, gedung tersebut dibeli pada akhir tahun 2014 lalu. Namun diduga telah terjadi penggelembungan harga gedung di atas harga yang ditentukan oleh pihak Profesional Broker dan Developer Property.

Sebenarnya, harga gedung itu adalah Rp 45 milyar. Namun, diduga karena permainan pihak tertentu, sehingga nilai tersebut membengkak hingga mencapai Rp54 milyar. Modus yang digunakan adalah memalsukan dokumen pembelian. (MAN)

Most Popular

To Top