La Awir, Tukang Gerobak, Yang Bermukim Dalam Gerobak – Ambon Ekspres
Trending

La Awir, Tukang Gerobak, Yang Bermukim Dalam Gerobak

Baju seadanya, bercelana pendek. Menggunakan sandal jepit dan dilengkapi tutup kepala alias kupluk, merupakan ciri khasnya jika hendak mencari nafkah. Santun dan rendah hati, membuatnya selalu dihargai teman-teman sesamanya.

Bahkan, kadang membuat orang terharu akan hidupnya yang tak pernah bergantung kepada orang lain.

a Awir (60), perantau asal daerah Lombe, Sulawesi Tenggara, yang puluhan tahun hidup dengan menarik gerobak, di jalan Yosudarso, kecamatan Sirimau, Ambon. Tak memiliki rumah untuk bernaung.

Hanya beralaskan kardus dan beratapkan langit. Pria paruh baya, yang hidup sebatang kara ini, selalu menjadikan gerobak sebagai tempat peristirahatannya di malam hari. Lokasi tidurnya, juga tak jauh dari tempat pangkalannya. Disekitar area pasar Nusaniwe (pasar Lama) kecamatan Sirimau Ambon.

Ketika matahari menyinarinya yang sedang tertidur lelap, mau tak mau Ia harus bangun dan bersiap-siap untuk mencari sesuap nasi. Sambil menggunakan gerobak yang disewanya sekitar Rp.10.000/hari. Dari teman dekat yang sekampung dengannya.

“Beta (saya, red) sudah sekitar 25 tahun bawa gerobak. Waktu kecil lagi sudah merantau ke Ambon. Di Ambon tidak punya rumah. Setiap hari tidur di gerobak. Biasa kalau malam itu, apalagi sudah ngantuk, langsung ke belakang pasar lama, lalu tidur. Kan sudah biasa,” cerita La Awir, kepada saya.

Walaupun cuaca panas, maupun hujan, tak membuat La Awir patah semangat untuk menarik gerobak. Jika ada yang membutuhkan jasanya, Ia langsung bersedia melayani dengan sepenuh hati. Hingga tiba pada tujuan, dengan upah yang tak menentu.

Namun, ia tetap iklas menerima bayaran yang diberikan pelanggan. Walaupun kadang tidak seimbang dengan tenaga yang telah dikeluarkan, Ia hanya bisa tersenyum. Akan tetapi, adapula pelanggan yang merasa kasihan atau ibah terhadap La Awir.

Ia kadang diberi upah lebih dari pelanggan, ketika hendak mengantarkan barang ke rumah pelanggan yang menggunakan jasanya.

“Kadang Rp.30 ribu, atau ada Rp.40 ribu. Dan satu hari itu bisa Rp.50 ribu atau lebih. Tergantung pelanggan. Kadang juga tidak sama sekali. Mau gimana lagi,” senyum La Alwi, ketika menjawab pertanyaan saya.

Jika tak mendapat pelanggan dalam satu hari, La Awir biasa tidak membayar setoran kepada pemilik gerobak. Tetapi, besoknya jika sudah dapat pelanggan lagi, barulah setorannya Ia bayarkan. Bersama dengan setoran kemarin yang tidak sengaja dia tunggak.

Akan tetapi, dengan perkembangan dunia yang lebih modern, serta persaingan ekonomi yang lebih ketat, tak membuatnya berkecil hati. Walaupun dikelilingi dengan jasa-jasa supir mobil pick-up maupun mobil truck, La Awir hanya pasrah sambil menanti pelanggan yang ingin menggunakan jasa gerobak.

Ia tidak merasa iri dengan para supir-supir yang ada. Karena menurutnya, rejeki itu sudah diatur Yang Maha Kuasa. Dan Ia yakin, setiap umat pasti akan diberikan rejeki yang sesuai. Maka tidak perlu untuk menyimpan sifat iri maupun dengki terhadap sesama pencari nafkah.

“Kalau dulu boleh, setoran gerobak cuma Rp.5 ribu. Tapi sekarang sudah naik Rp.10 ribu. Dulu banyak pelanggan, tapi sekarang sudah kurang. Kan banyak mobil. Tapi rejeki itu tuhan sudah atur,” tutur La Awir.

Dirinya lebih memilih parkir di jalan Yos Soedarso sambil menunggu pelanggan yang hendak menggunakan jasanya. Ketimbang disekitar pasar Mardika maupun tempat lainnya. Karena suasana tempat parkirnya cukup strategis, dimana berdekatan dengan pasar maupun pertokoan yang menjual barang-barang sembako maupun alat-alat bangunan.

Adapun disaat-saat sepi pelanggan, tetap membuatnya bersabar hati. Karena hasil yang Ia dapatkan kemarin, masih cukup untuk membiayai makan minumnya saat itu. Sehingga Ia tidak pernah berkecil hati jika mengalami masa-masa sulit seperti itu. Karena tetap selalu ada rezeki yang ia dapatkan untuk bertahan hidup.

Seluruh daerah dataran rendah yang ada dipusat kota Ambon, sudah ia jelajahi. Talake, Waihaong, Silale, Ponegoro, Batu Gajah, Batu Merah, dan kapaha, sudah ia jelajahi menggunakan gerobak miliknya.

Karena pelanggan yang tinggal di lokasi yang sulit dijangkau kendaraan angkot maupun mobil pick-up, sering menggunakan jasa gerobak. Termasuk jasa La Awir.

“Biasa itu, kalau orang beli kayu, tripleks, atau kadang beras, kadang mereka pakai gerobak. Karena mereka tinggal masuk lorong-lorong. Itu kan mobil tidak bisa masuk. Jadi pakai jasa gerobak,” terang dia.

Soal keluarganya, La Awir mengaku, bahwa saat ini keluarganya berada di kampung Lombe tempat Ia dilahirkan. Dan hanya beberapa teman-teman maupun saudara sekampungnya yang bermukim di kota Ambon. Yang terkadang membuat dirinya bermalam satu sampai dua hari dengan mereka.

Namun itu pun tergantung momen-momen penting. Seperti jika hendak Bulan Ramadhan, dimana Ia sering diajak untuk bukan puasa bersama maupun sahur bersama. Bahkan jelang Idul Fitri maupun Idul Adha.

Dan tidak sembarangan waktu, atau sesuka hatinya. Karena tentu Ia lebih menghargai teman maupun saudaranya yang sudah berkeluarga. Sehingga tidak berkeinginan untuk merepotkan mereka.

Walaupun makan seadanya, La Awir lebih mensyukuri apa yang didapatkan dengan hasil jerihpayanya sendiri. Bahkan sempat berkeinginan untuk memiliki gerobak sendiri dari hasil kerjanya.

Namun, keinginan itu nampaknya belum terpenuhi. Karena sudah puluhan tahun La Awir hidup sebagai tukang gerobak, tanpa punya gerobak sendiri.

“Dari dulu sewa-sewa. Ingin beli gerobak, tapi uang tidak cukup, Buat hidup sehari-hari kan pas-pasan. Jadi belum sempat punya gerobak sendiri. Jadi sementara sewa dulu. Nanti kalau sudah ada, pasti punya gerobak sendiri,” ucap La Awir. (***)

Most Popular

To Top