4 Kegiatan Keagamaan Berjalan Aman – Ambon Ekspres
Trending

4 Kegiatan Keagamaan Berjalan Aman

Peringatan Pengibaran Merah Putih Pertama

AMBON, AE— Perayaan Natal 25 Desember 2015, menjadi gambaran utuh konstruksi kehidupan toleransi di Maluku sepanjang tahun ini. Paling tidak, empat momentum keagamaan berlangsung dengan damai, tanpa gesekan, dan justeru memperkuat hidup bersama dalam kemajemukan. Pemerintah meyakini kondisi ini menjadi modal besar untuk membangun Maluku.

Empat momentum itu, adalah bulan puasa, idul fitri, pelaksanaan Pesparawi Nasional, dan Natal. “Kami bersyukur semuanya berjalan damai, dan penuh kebersamaan. Toleransi benar-benar ditunjukan saat pelaksanaan momentum keagamaan di Maluku,” ungkap Wakil Gubernur Maluku, Zeth Sahuburua saat menjadi inspektur upacara peringatan pengibaran bendera merah putih pertama kali di Maluku, yang dilaksanakan di Hitumessing, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah kemarin.

Wagub juga menyinggung soal pelaksanaan MTQ di Maluku 2012 yang menjadi titik awal bangkitnya kerukunan hidup beragama. “Perbedaan itu anugerah. Kita telah membangun kembali toleransi hidup beragama. Mari kita perkuat solidaritas antar umat beragama, dan terus memupuk perdamaian,” ungkap wagub yang disambut tepuk tangan ratusan warga Hitumessing.

Keamanan dan kepastian hukum, kata dia, menjadi syarat investasi masuk ke Maluku. Membangun Maluku, lanjut dia, tak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah. Pemerintah butuh dukungan pemilik modal untuk sama-sama membangun daerah ini.

“Karena itu, jaga perdamaian dengan baik, supaya pembangunan terus berjalan. Maluku adalah laboratorium perdamaian dunia,” tandas wagub yang juga Ketua DPD Golkar Maluku ini.

Perayaan natal sendiri berjalan aman di Maluku. Di 9 kabupaten dan 2 kota, dilaporkan pelaksanaan Natal berlangsung damai. Pesta kembang api berlangsung dimana-mana. Masyarakat baik Kristen maupun Islam justeru larut dalam pesta kembang api itu.

Di Ambon, dukungan pelaksanaan Natal datang dari Badan Koordinasi Pemuda Remaja Mesjid Indonesia atau BKPRMI Wilayah Maluku. Puluhan pemuda muslim dari BKPRMI, turun ke sejumlah gereja, bersama aparat TNI dan Polri menjaga keamanan dan kenyamanan di malam hari Raya Natal.

Ketua DPW BKPRMI Maluku Zulkifli Lestaluhu mengatakan, pihaknya menurunkan sebanyak 50 personil anggota BKPRMI Maluku untuk turut menjaga keamanan dan kenyamaan di sejumlah gereja, diantaranya Gereja Maranatha dan Gereja Silo.

Itu menjadi suatu tradisi positif yang perlu dilestarikan dalam rangka menjaga keamanan dan kenyaman di Maluku yang sudah semakin baik saat ini. Artinya, partispasi dalam menjaga keamanan merupakan bagian dari pencitraan bahwa ada kedamaian di Kota Ambon secara khusus, dan Maluku secara umum.

“Memang tugas menjaga keamanan itu ada di polisi dan TNI, tapi sebagai bagian dari warga bangsa, warga Maluku, tentu kita punya keinginan untuk turut membantu menjaga keamanan di daerah ini,” katanya, Minggu (27/12).

Makin baiknya kerukunan hidup antar umat beragama di Maluku, menuntut semua pihak agar mempertahankan dan lebih meningkatkan kondisi ini dalam berbagai momentum, tidak terkecuali pada saat perayaan hari-hari besar keagamaan.

BKPRMI Maluku telah melakukan pengamanan seperti itu dalam setiap hari Raya Natal, sejak tahun 2010 lalu. Dengan harapan, adanya rasa saling percaya dan toleransi serta terwujudnya keamanan yang semakin baik, terutama pada saat hari – hari besar keagmaan.
“Selain di kota Ambon, juga di kota Masohi.

Ini akan terus kita lakukan pada saat momentum seperti ini, agar keamanan, kenyamanan, dan kedamaian selalu ada,” kata Lestaluhu.

Ketua Majelis Pengurus Harian (MPH) Gereja Protestan Maluku (GPM) John Ruhulessin mengapresiasi terciptaanNya kondisi aman, nyaman dan damai pada saat hari raya Natal tahun ini.

“Ini artinya betul-betul memperlihatkan kerukunan, ya. Saya melihat, teman-teman muslim waktu ibadah di gereja, ikut mengawal jalannya ibadah. Selain itu, kalau kita melihat tidak ada gejolak apa pun. Sehingga saya pikir ini prestasi yang baik dan harus kita topang kita tingkatkan kerukunan dan kebersamaan kita,” ujarnya.

Dia meyakini kondisi aman tercipta tidak terlepas dari peran penting aparat TNI dan Polri dalam menjaga keamanan dan kenyamanan di hari besar keagamaan itu. Karena itu, menurutnya hal itu mesti ditingkatkan. “Saya juga mengapresiasi Polri dan TNI,” ucapnya.

Diakuinya, kerukunan hidup antar umat beragama di Maluku sudah semakin baik. Dan itu sudah dapat dirasakan pada saat hari-hari besar keagamaan di Maluku, selama ini serta kegiatan-kegiatan keagaman, Musabaqah Tilwatil Quran (MTQ) dan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) di kota Ambon dan beberapa daerah lain di Maluku yang berjalan dengan baik dan sukses.

Itu adalah bukti dari perkembangan kesadaran dan perubahan mindset masyarakat Maluku untuk melihat perdamaian dan kerukunan sebagai kekuatan bersama.

Dan itu, kata Ruhulessin merupakan suatu prestasi yang luar biasa. Artinya masyarakat Maluku sungguh-sungguh untuk saling menghormati, saling menghargai dan menikmati kebersamaan dan persaudaraan. Itu suatu hal yang luar biasa.

“Saya rasa kesadaran untuk hidup di dalam masyarakat yang majemuk semkain baik. Karena itu, saya rasa, menjadikan Maluku sebagai Laborotarium perdamaian adalah sesuatu yang harus kita topang,” tandasnya.

UPACARA
Sementara itu, kemarin, wagub Zeth Sahuburua memimpin langsung upacara peringatan pengibaran bendera Merah Putih ke-66 tahun 2015 ini yang berlangsung di halaman rumah Raja Negeri Hitumessing juga berlangsung meriah.

Wagub pada kesempatan itu, mengatakan, generasi penerus bangsa yang ada di Maluku berkewajiban dan bertanggung jawab moral untuk melestarikan nilai-nilai perjuangan bangsa. “Ini bukti kalau orang Maluku punya nasionalisme yang tinggi. Dan tidak dapat ditawar-tawar lagi,” ungkap wagub.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945 dikumandangkan di Jakarta, tersebarlah berita ke seluruh pelosok nusantara, namun gema proklamasi tidak segera dapat diketahui masyarakat di kepulauan Maluku karena selain letaknya yang jauh dari Jakarta, juga disebabkan adanya usaha dari pemerintah Jepang yang sengaja merahasiakan peristiwa tersebut.

Informasi tersebut akhirnya diketahui sehingga para pejuang mulai bergerak untuk mempertahankan kemerdekaan tersebut dari upaya penjajah yang masih berupaya kembali menjajah tanah Maluku.

Para pejuang kemudian menggelar rapat untuk menentukan melakukan pengibaran bendera merah putih. Semula penaikan bendera tersebut akan dilakukan di Negeri Tulehu, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, namun situasi dan kondisi saat itu tidak mengizinkan untuk bendera tersebut dinaikan.

Akhirnya ada usulan bendera dikibarkan di Negeri Hitumessing. Setelah sepakat pengibaran bendera dilakukan di Hitumessing, persiapan dilakukan. Raja Hitumessing saat itu, Ibrahim Pellu pergi ke Ambon untuk membeli kain merah dan putih untuk dijahit menjadi bendera.

Kain itu kemudian dijahit tangan oleh istri Raja Negeri Hitumessing, Jainab Pellu . bendera itu berukuran 226 x 143 cm. Bendera tersebut akhirnya menjadi bendera merah putih pertama yang berkibar di tanah Maluku, pada 27 Desember 1949.

Pejabat Hitumessing, Etwin Slamat mengungkapkan, kegiatan yang diselenggarakan setiap tahun, bukan hanya acara serimonial semata, tapi memiliki makna historis strategis untuk tetap memperkuat nasionalisme Indonesia dari Hitumessing ke Maluku secara keseluruhan.
“Sejarah ini menjadi tauladan bagi kami, bahwa Indonesia adalah harga mati.

Nasionalisme bagi kami, tidak perlu dipertanyakan lagi. Dan kini kami akan terus menjaga momentum sejarah ini dengan memperkuat rasa kebangsaan kami,” ungkap dia.

Hadir saat upacara tersebut Kolonel TNI-AD Sahal Maarif, Dandim 1504 Pulau Ambon, sejumlah pejabat di pemerintah provinsi Maluku, veteran, dan sejumlah raja dari Leihitu. Namun tidak Nampak Bupati Maluku Tengah, Abua Tuasikal maupun wakilnya. Tak juga terlihat pejabat-pejabat dari Malteng.(MAN)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!