Warning Gubernur, Buat Anak Buahnya – Ambon Ekspres
Trending

Warning Gubernur, Buat Anak Buahnya

AMBON,AE— Pemerintah Provinsi Maluku berdalih, lambatnya laju pertumbuhan ekonomi sepanjang 2015 lebih disebabkan kondisi perekonomian nasional. Disisi lain, perekonomian Maluku disinyalir masih sangat bergantung pada daerah lain. Pemerintah diminta bekerja keras mempercepat laju pertumbuhan ekonomi dan menekan angka kemiskinan.

Gubernur Maluku, Said Assagaff kepada Ambon Ekspres seusai perayaan malam tahun baru di Jembatan Merah Putih (JMP), Jumat (1/1) dini hari mengakui, gejolak ekonomi nasional sepanjang 2015 sangat berpengaruh terhadap kondisi ekonomi Maluku. Karena itu, dia meminta seluruh SKPD agar bekerja keras lagi.

“Saya kira kan ini bukan kondisi daerah. Kondisi nasional juga yang sangat berpengaruh. Olehnya itu, saya berharap masing-masing daerah harus meningkatkan pertumbuhan ekonomi mereka supaya di tahun 2016 juga harus meningkat,” katanya.

Disinggung soal pertumbuhan ekonomi Maluku tahun 2015 yang melambat sesuai hasil Laporan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Maluku oleh Kantor Perwakian Bank Indonesia Provinsi Maluku triwulan III yang nenunjukan petumbuhan ekonomi Maluku yang melambat, gubernur mengaku, ada gejala itu.”Memang ada gejala itu. Nasional juga demikian,” singkatnya.

Apakah akan ada Reshuflle SKPD, terutama yang berperan dalam peningkatan perekonomian Maluku? mantan wakil Gubernur Maluku periode 2003-2008, itu mengaku belum memikirkannya.”Saya belum berpikir kesitu. Saya masih berpikir, agar bagaimana semua SKPD harus bekerja keras,”ungkapnya.

Gubernur berharap, di tahun 2016 sejumlah masalah yang masih melilit harus diminimalkan. Yang pertama, angka kemiskinan harus tekan. Kesejahteraan rakyat Maluku tingkatkan. “Pendidikan kita perhatikan. Dan sektor-sektor ungulan kita, yakni pariwisata, pertambangan serta perikanan harus kita tingkatkan lebih cepat lagi,”katanya lagi.

Berapa persen target penurunan angka kemiskinan? mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Maluku ini mengaku, pemerintah sudah berusaha menekan angka kemiskinan sejak beberapa tahun lalu. Karena itu, ia yakin tahun 2016, angka kemiskinan akan menurun. “Dari dua tiga tahun lalu sudah kita dorong. Karena itu, saya yakin di tahun 2016, kemiskinan akan kita tekan dengan besar-besaran,”optimisnya.

Sementara kepada wartawan di lantai 2 kantor gubernur Maluku, Kamis (31/12/2015), Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Maluku, Antonius Sihaloho didampingi Kepala Biro Ekonomi dan Investasi Setda Maluku Anton Lailossa, Kadis Pertanian Maluku Diana Padang, Kadis ESDM Maluku Martha Nanlohy, Kepala BPMD Maluku Fauzan Chatib, Kepala BPS yang diwakili Kabid Neraca dan Analisis Erhard Hatulesila serta sejumlah staff Bapeda, mengaku pertumbuhan ekonomi Maluku sesuai target PAD sangat berhasil.

Karena sampai dengan akhir triwulan ketiga yang terlihat pada bulan November 2015 pertumbuhan ekonomi Maluku sudah mencapai 5,27 persen melebihi nilai rata-rata Nasional yaitu 4,71 persen.

Sihaloho menambahkan, hasil pertumbuhan ekonomi yang diperoleh Pemprov Maluku bukan berdasarkan data dari pemerintah tetapi berdasarkan survei dari Bank Indonesia dan BPS. Dimana data itu benar-benar akurat. Lebih lagi, kata Sihaloho, pemerintah dan DPRD adalah mitra kerja karena setiap permasalahan yang terjadi diselesaikan bersama. ”Jadi, bagaimana bisa ada Anggota DPRD yang menyatakan pernyataan seperti itu,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi didalamnya untuk mengatasi penduduk miskin, pengangguran, sasaran pembangunan daerah yang semuanya telah sesuai tercapai dengan akhir yang baik. Namun tidak dipungkiri, masih terdapat permasalahan harus diperbaiki oleh Pemda Maluku, diantaranya meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dan global.

“Selain itu, meningkatkan investasi swasta yang dirasakan sekarang ini masih rendah, menurun kan tingginya angka pengangguran dan harus tingkatkan daya saing. Memang kita harus membenahi SDM hingga muncul pusat pertumbuhan ekonomi baru serta ciptakan wirausaha baru,”katanya.

Kepala Biro Ekonomi dan Investasi Setda Maluku Anton Lailossa menilai, pencapaian pertumbuhan ekonomi Maluku triwulan sudah cukup baik. Belum lagi triwulan empat yang akan dirilis dan dipublikasikan pada bulan Februari 2016.

“Saya kira, apa yang dikatakan oleh Anggota DPRD Maluku kalau pertumbuhan ekonomi Maluku gagal itu sangat tidak benar,”ucapnya.

Dia menambahkan, persoalan ekonomi Maluku harus dilihat secara keseluruhan. ”Kalau kita mau berbicara menyangkut pertumbuhan ekonomi tidak boleh separuh saja haruslah dilihat secara tuntas barulah diketahui gagal atau tidak,” paparnya.

Akademisi fakultas ekonomi Universitas Pattimura, DR Djufri Rays Pattilouw mengatakan secara teoritis, rentannya perekonomian terhadap shock eksternal lebih dikarenakan lemahnya fundamental ekonomi, juga karena tingginya ketergantungan terhadap aktivitas ekonomi di daerah lain.

“Terkait dengan itu, jika pelemahan ekonomi nasional berpengaruh terhadap perekonomian Maluku, maka itu sesuatu yang lumrah. Sebab, harus diakui bahwa perekonomian Maluku sejauh ini memang masih dibangun di atas fundamental ekonomi yang rapuh,” kata Djufry kepada Ambon Ekspres via sms, Sabtu (2/1).

Fundamental ekonomi yang dimaksudkan, lanjut dia, adalah aktivitas-aktivitas ekonomi yang berlangsung di sektor rill. Pasalnya, jika sektor rill lemah, maka perkonomian Maluku masih sangat tergantung dari daerah lain.

“Bayangkan ketika prekonomian yang sangat didominasi oleh aktivitas konsumsi, dimana hampir semua barang-barang konsumsi di impor dari daerah lain, maka itu berarti perekonomian kita tidak mandiri, sangat tergantung pada dinamika yang terjadi pada daerah-daerah lainnya yang menjadi mitra dagang kita,”jelas tamatan doktor dari Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung ini.

Untuk memperkuat ketahanan ekonomi Maluku, harus mengoptimalkan basis-basis produksi untuk pemenuhan konsumsi masyarakat. Pemerintah provinsi Maluku harus bekerja keras menyelesaikan persoalan ini.

“Oleh karena itu, untuk memperkuat ketahanan ekonomi kita, maka ke depan basis-basis produksi kita harus bisa dioptimalkan, agar setidaknya bisa memenuhi kebutuhan konsumsi kita sendiri.

Masak kebutuhan sehari-hari seperti cabe, tomat, bawang merah, telur dan sebagainya yang sebenarnya bisa didorong untuk dapat diproduksi sendiri oleh masyarakat, harus terus didatangkan lagi dari luar. Lalu apa fungsi pemerintah?,” paparnya.

Soal optimisme pemerintah provinsi menekan angka kemiskinan, Sekretaris Umum MASIKA Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Korwil Maluku ini mengatakan, harus disertai dengan target rumusan-rumusan yang jelas.

Pasalnya, kata dia, kemiskinan tidak berdiri sendiri, namun sangat terkait dengan aktivitas ekonomi secara riil yang mendorong adanya peningkatan produktivitas, nilai tambah ekonomi, distribusi pendapatan dan kesempatan kerja.

“Jadi tekad tersebut tidak boleh sekadar menjadi “tekad” retorik semata. Namun harus bisa bertransformasi menjadi agenda-agenda aksi yang konkrit dan terstrukur, serta fokus pada indikator-indikator yang menjadi pembentuk determinan kemiskinan di Maluku,” ujarnya. (TAB/AZA)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!