Air Bersih Mengering – Ambon Ekspres
Trending

Air Bersih Mengering

Pakar:  Kita Akan Minum Air Asin

AMBON,AE— Debit air di sejumlah sumber air di Kota Ambon mengalami penurunan. Warga di beberapa tempat kesulitan mendapatkan air bersih. Pihak Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) kota Ambon dan PT. Dream Sukses Airindo (DSA) Ambon juga mengalami hal yang sama, pelayanan kepada warga tidak normal seperti biasanya. Kondisi ini diakibatkan oleh musim kemarau, diperparah dengan alih fungsi beberapa kawasan lindung.

Bahar, warga RT 09 RW 17 Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau ini mengungkapkan, sudah dua bulan terakhir, warga di sana kesulitan mendapatkan air bersih. Beberapa bak penampung air bersih yang dibuat oleh warga, tidak lagi terisi air yang diambil dari Air Besar (Arbes) dan kali Kahena.

“Sebelumnya, kita hanya ambil air dari bak itu. Tapi sekarang tidak bisa lagi. Sudah dua bulan lebih air tidak jalan, kita sulit mendapatkan air. Terpaksa ambil air di kali Kahena,” kata dia.
Warga di sana banyak tidak menggunakan air dari PDAM, karena berdomisili di dekat sumber air. Namun kondisi saat ini membuat mereka kesulitan. Warga terpaksa harus menempuh jarak sekitar 100 meter untuk mengambil air di kali Kahena.

Musim kemarau juga membuat PDAM dan PT DSA kekurangan stok air bersih untuk menyalurkan kepada masyarakat. Jadwal pendistribusian pun disesuaikan dengan debit air.
Pantauan Ambon Ekspres, air bersih di dalam bak penampung milik PDAM di kawasan Wainitu, menyusut hingga hampir menyentuh dasar bak tersebut.

Padahal, biasanya, bak itu dipenuhi air yang siap disalurkan kepada warga. Beberapa truk pengangkut air bersih terlihat berjejer, menanti giliran untuk mengisi air.

“Biasanya kalau kita isi air di tanki, bisa pakai dua selang sekaligus, tapi sekarang air berkurang, jadi pakai satu selang saja,” ungkap salah satu sopir truk pengangkut air bersih milik PDAM di Wainitu, kemarin.

Ilham, warga yang berdomisili di kawasan Kapahaha ini mengaku merasakan dampak dari kondisi tersebut. Kendati penyaluran air dari PDAM masih berjalan, namun tidak seperti biasanya. “Kemarin, kita pesan air sejak pagi, malam baru tiba. Mungkin air sudah kurang,” ungkapnya.

Pelayanan air oleh PT. DSA Ambon juga terganggu akibat mengeringnya air di Arbes. Ini sudah berlangsung sejak hampir dua bulan terakhir, akibat musim kemarau yang melanda Maluku, terutama kota Ambon.

Diperhadapkan pada kondisi tersebut, pihak PT DSA kadang terpaksa menunda penyaluran air bersih kepada warga di beberapa kawasan yang menjadi tanggung jawab PT DSA dalam memberikan pelayanan air bersih, diantaranya di Karang Panjang dan desa Batu Merah. Bila debit air turun, aktivitas pengambilan air di Arbes dihentikan dalam beberapa hari, hingga debit air bertambah dan layak untuk diambil, kemudian disalurkan kepada masyarakat.

Sehingga, dalam beberapa waktu terakhir, jadwal pelayanan air bersih bagi masyarakat juga terganggu. Pada kondisi normal, penyaluran air satu kali dalam dua hari. Namun, pada masa saat ini bisa molor hingga tiga hari, satu kali penyaluran.

“Itu yang menjadi masalahnya. Tapi pelayanan tetap berjalan. Biar sedikit yang penting ada untuk masyarakat,” kata Semy, operator mesin pompa PT. DSA.

Kendati begitu, dia mengaku tidak dapat memastikan jumlah liter air yang disalurkan kepada masyarakat. Baik pada saat debit air dalam ukuran normal maupun pada saat menurun.
Kondisi kekeringan itu akan membaik pada saat hujan turun nanti. Sementara, pimpinan PDAM dan PT DSA belum berhasil dikonfirmasi lebih jauh tentang kondisi tersebut.

ALIH FUNGSI KAWASAN LINDUNG
Pengamat lingkungan Universitas Pattimura (Unpatti), Rafael Osok mengatakan, berkurangnya debit air di beberapa sumber air di kota Ambon sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Itu terutama disebabkan oleh pengalihan fungsi kawasan sekitar sumber air tersebut.

“Kalau kita lihat, kan memang bukan di tahun ini saja, ya. Saya selalu bilang bahwa air bersih di kota Ambon ini, setiap tahun menurun, debitnya. Kalau kita lihat data dari PDAM. Tujuh sumber utam mata air di Kota Ambon, setiap tahun menurun,” kata Rafael Osok via seluler, kemarin.

Ketua Lembaga Penelitian Unpatti itu menjelaskan, sikap pemerintah kota Ambon yang tidak tegas dalam melindungi kawasan sekitar sumber air bersih, menjadi salah satu faktor penyebab terus berkurangnya debit air.

Dikatakan, memang persoalannya, fungsi lahan itu yang paling utama. Alih fungsi lahan pada kawasan-kawasan resapan air sudah semakin tinggi. “Artinya, yang tadinya adalah hutan, menjadi kegunaan yang lain,”katanya.

Parahanya lagi, pengalihan fungsi lahan itu tidak diikuti dengan program lain, berupa penanaman kembali pada kawasan yang dialihkan menjadi kawasan pemukiman atau perkebunan pangan itu. “Jadi intinya itu di alih fungsi lahan,” tegasnya.

Sebagian besar lokasi lima daerah aliran sungai (DAS) yaitu DAS Batu Gantung, Batu Gajah, Wai Tomu, DAS Wae Ruhu dan DAS Batu Merah, yang menjadi pusat pasokan air di Kota Ambon telah berubah menjadi pemukiman, di samping aktivitas penebangan yang tidak terkendali.

Padahal, kata Guru Besar pada Fakultas Pertanian Unpatti itu, sudah diatur dalam Rencana Tata Ruang Wilayah RTRW Kota Ambon itu, bahwa daerah konservasi hutan dan daerah resapan air, itu harus dilindungi. Termasuk daerah sumber air. Pada radius 200 meter dari sumber air, termasuk dalam kawasan yang harus dilindungi.

“Misalnya di Wainitu, itu harus dilindungi. Dan yang dlindungi itu, harus benar-benar hutan. Kalau bukan hutan, harus ditanami pepohonan. Kenyataannya, kan banyak berubah menjadi misalnya pemukiman, kebun tanaman pangan. Begitu,” ungkapnya.

Kata Rafael Osok sebenarnya sumber air bagi Kota Ambon, asalnya dari hujan. Kalau hujan turun dan sebagian besar mengalir ke sungai sebagai aliran, yang masuk ke dalam tanah hanya sebagian kecil.

Karena itu lanjut Osok, tanda-tanda alam, bila pada musim hujan, Kota Ambon rawan banjir. Dan bila pada musim kemarau, kekurangan air. Itu menunjukkan bahwa terjadi kerusakan satu wilayah atau suatu daerah aliran.

“Karena daerah aliran sungai itu kan untuk menampung air, menyimpan air. Pada saat musim penghujan pun sebagaian airnya bukan tersimpan, malah mengalir melalui permukaan, karena masalah alih fungsi lahan tadi,” jelasnya.

Rafael Osok menyebutkan contoh kawasan lindung lain yang kini telah menjadi kawasan pemukiman, yakni kawasan Arbes. Parahnya lagi, pemukian tidak diikuti penghijauan di sekitar tempat sumber air itu.

“Kalau anda lihat, itu (Arbes) daerah lindung, kok ada pemukimannya. Itu kan sudah keliru. Hutan lindung sudah menjadi pemukiman. Di Ahuru juga, kan sudah jadi pemukiman semua. Dan itu tidak diikuti dengan penanaman,” katanya.

Sehingga, kata Rafael Osok bila pemerintah tidak tegas dalam menegakkan RTRW, maka debit air di kota Ambon akan terus menyusut. Dan itu berarti persediaan air bersih bagi masyarakat di kota ini juga berkurang.

“Kita akan minum air asin nanti. Karena resapan air di dalam tanah itu sedikit. Sehingga resapan air laut semakin tinggi,” ungkapnya.

Ditegaskan, bila air tawar dari gunung berkurang, maka air laut masuk ke daratan lebih banyak, terutama di daerah pesisir. Ini karena bila tekanan air dari dalam tanah kuat, maka dapat menolak air asin. Bila tidak, air asin yang akan masuk ke tanah daratan.

“Sehingga air daerah pesisir, itu sudah mulai salobar. Kalau salobar, berarti air asin sudah masuk,” pungkasnya. (MAN)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!